
Mereka melihat banyak ikan lele, berbagai ukuran, berenang berkelompok-kelompok disana-sini. Jumlahnya puluhan atau mungkin ratusan, mengingat luasnya dataran yang terendam ini.
Ikan-ikan tersebut mulai dari yang hanya 20 cm besarnya hingga ada yang se-lengan orang dewasa.
"Krtk..krtk..tek, "Doni tidak sengaja menginjak ranting kering, "Ups, "bisiknya lalu nyengir begitu sadar Aris dan Rudi menatapnya.
Ikan-ikan di genangan berenang menjauh karena merasakan getaran dari ranting yang patah. Tapi itu tak lama, karena setelah merasa keadaan aman mereka pun kembali berenang dengan santai. Beberapa bahkan berenang tak jauh dari tempat dimana Aris dan kedua temannya berdiri.
Suasana begitu tenang disini, tapi entah kenapa Aris merasa ada yang janggal dan terasa tidak mengenakkan. Dia merasakan seperti ada sesuatu yang bersembunyi dan memperhatikan mereka. Wajah tampannya mengernyit, berpikir keras mencoba menganalisa.
"Udahan yuk, besok-besok kita balik lagi kesini, "ujar Aris beralasan. Dia masih belum mendapatkan alasan kenapa dirinya merasa tidak betah, tapi menurutnya lebih baik mereka terlebih dahulu pergi saja.
Doni menatapnya, "bentar Ris, "jawabnya.
"Lha kok ni anak malah betah disini, "batin Aris terheran mendengar jawaban Doni, soalnya ni anak yang sedari tadi merengek mengajak pulang karena katanya lapar.
Rudi turut menatap Aris dengan pandangan memelas, dia mengarahkan jemarinya ke ikan-ikan yang sedang bermain.
"Aku kuatir Mang Asep terjaga lalu kebingungan karena kita tidak ada di dekatnya, "ujar Aris kembali beralasan.
"Tanggung Ris, kita udah terlanjur disini. Setidaknya kita tidak kembali dengan tangan kosong kan? "Balas Rudi sambil menadahkan tangan dengan jari-jari mengarah ke ikan-ikan di genangan.
Aris menatap Rudi sesaat, dan akhirnya dia menyerah, "Ok ku beri waktu 15 menit ya, "jawabnya.
Rudi mengepalkan tangan, "YESS!! "Ujarnya girang lalu mempersiapkan umpan dari plastik kresek yang dikantunginya.
Doni berjalan agak menjauh ke sebelah kanan Rudi, lalu disitu dengan santainya dia membuka ritsluiting dan kencing ke arah air yang tergenang. Ternyata ini alasan dia menolak untuk segera pulang, kebelet pipis.
"Wei dodol, ngapain lu? "Teriak Rudi yang baru saja berjongkok di tepian air sambil memegang joran. Tanpa ekspresi Doni hanya menoleh dan melanjutkan pipisnya sambil kejet-kejet.
Aris cuma nyengir ngelihat kelakuan kedua temannya, walau perasaan was-was belum pergi dari dirinya. Dia menatap sekeliling. Ada yang janggal tapi tetap saja belum dapat menyimpulkan apa itu. Berkali-kali dia seperti melihat kilasan berkelebat-kelebat di rumah paling besar di tengah genangan, hanya saja belum bisa pastikan apakah itu benar-benar nyata atau cuma perasaannya saja. Satu hal lagi, dia merasa tak asing dengan bentuk rumah tersebut, walau tidak bisa memastikan dimana dia melihatnya sebelumnya.
Tak lama kemudian..
Tak perlu menunggu lama, begitu umpan dilemparkan selalu saja ada ikan menyambar kail, sebagian tertangkap, sedangkan selebihnya berhasil meloloskan diri. Sejauh ini Rudi sudah berhasil memancing lima ekor ikan. Sedangkan Doni dengan girangnya sibuk membantu Rudi mengumpulkan ikan-ikan hasil tangkapan.
"Berkat pipis gua ni, ikannya jadi pada mabuk, "ujar Doni cengengesan.
"Hati-hati Don, ikan lele lokal ni, kena patilnya demam lu, "ujar Rudi tanpa menoleh.
Aris jadi terbawa suasana, bersemangat melihat keberhasilan Rudi. Akhirnya dia pun lupa bahwa sudah setengah jam mereka berada disitu. Dia mengambil ponsel, memperhatikan, belum ada sinyal setitik pun. Setelah mengarahkan ponsel kesana kemari dan tetap tidak mendapatkan sinyal, dia lalu berinisiatif untuk menaiki lereng menuju dataran yang lebih tinggi.
__ADS_1
Disini dia melihat sebatang pohon mati berukuran cukup besar, lantas dia duduk di atasnya. Di lihatnya kembali ponselnya, kali ini ada satu titik sinyal, dengan girang dia segera menghubungi via WhatsApp ke Novi. Diaktifkannya pilihan video call untuk menunjukkan tempat ini pada Novi, tapi gadis itu merejectnya.
Aris menatap ponselnya dengan bingung. Tapi bingungnya tak lama karena segera masuk pesan dari Novi, "maaf kak Aris, Novi sedang berganti pakaian tadi sehabis mandi, "membaca pesan tersebut, Aris nyengir dengan wajah memerah.
Lalu Novi balik menelpon.
"Ada apa kak? "Tanya Novi.
"Ehm..Mang Asep udah balik ke rumah? "Aris balas bertanya.
"Ooh kalian kecarian dia ya? "
"Maaf kak, tadi ada sedikit urusan di kebun teh, jadi Novi meminta tolong anaknya Mang Asep, si Dian untuk menjemputnya, "jawab Novi.
"Ooh yawdah, "ujar Aris senang, syukurlah mereka tidak perlu kuatir Mang Asep mencari-cari mereka.
"Hei, tadi kakak vc untuk nunjukin tempat yang keren tapi aneh, "ujar Aris.
"Aneh bagaimana kak? "Tanya Novi.
"Ntar, aku video...."
"Sial, sinyal hilang lagi, "desis Aris melihat ponselnya.
Aris kembali berjalan sambil mengarahkan ponselnya kesana kemari mencari-cari sinyal. Tapi karena tidak satu titik sinyal pun muncul, akhirnya dia mengisi waktu dengan merekam rumah-rumah yang terbenam dan wilayah sekitarnya untuk nanti di analisa di rumah.
Tapi tiba-tiba matanya tertumbuk pada sesuatu di layar ponsel.
"Eh, apa ini.."batinnya memperhatikan gambar di layar.
Dia lalu membungkuk mengamati satu benda panjang yang tergeletak di tanah, sambil tetap merekam. Setelah diamatinya ternyata benda ini adalah pita yang sudah begitu kusam dan retas disana-sini. Pita ini berukuran tiga jari, berwarna merah dan sebagian sudah hilang warnanya karena lapuk. Ada lapisan sepertinya lilin yang membungkus pita ini agar tidak cepat rusak karena cuaca.
Aris menarik pita yang di pegangnya, ternyata pita ini memanjang beberapa meter ke arah kanan dan kiri, dililitkan ke batang-batang pohon terdekat.
Aris berjalan ke arah kiri untuk melihat dimana pita disangkutkan, "disini pitanya terputus, "pikirnya sambil memperhatikan.
Walau pita itu ditemukannya terputus, tapi dia dapat melihat sambungannya tergeletak di tanah, memanjang, lalu terputus lagi di beberapa tempat.
Aris menatap sejauh mata nya memandang dan melihat pita yang sama, mengelilingi areal rumah-rumah yang terendam.
Dia segera menyadari ada yang sangat salah disini, pita ini berwarna merah sudah pasti di maksudkan untuk memberi tanda bahwa tempat ini berbahaya atau terlarang.
__ADS_1
Satu hal lagi, akhirnya dia bisa menyimpulkan kenapa dia merasa ada yang janggal disini. Yaitu bahwasanya selain kumpulan ikan di air yang tergenang, tidak ada tanda-tanda hewan atau serangga. Jangankan burung melintas, suara serangga pun tidak terdengar, seolah-olah makhluk hidup menghindari tempat ini.
Aris segera melangkah tergesa menuruni lereng untuk menghampiri Rudi dan Doni.
"Streak!!! "Teriak Rudi, Aris melihat air bergejolak kuat beberapa meter di hadapan mereka. Seekor ikan yang kelihatannya sangat besar tengah bergulat di dalam air mencoba melepaskan diri dari mata kail.
Air menjadi keruh berlumpur karena rontaan ikan, mereka hanya dapat melihat sekilas bentuk ekor dan kepala ikan.
"Njir, induknya ni!! "Teriak Rudi. Sepertinya ukuran ikan ini sebesar paha orang dewasa, benar-benar besar. Beberapa kali mereka melihat kepala ikan muncul, terlihat kumisnya menandakan itu adalah ikan lele.
"Ulur lalu tarik Rud, "ujar Aris sambil mengawasi dengan tegang, beneran beruntung ni anak, pikirnya. Dia kembali lupa niatnya untuk mengajak kedua temannya pergi.
Tubuh Rudi sampai berkali-kali tertarik ke depan karena kuatnya rontaan ikan. Doni berdiri lalu memegang pinggang Rudi, "Oi jangan tarik celana gue!! "Jerit Rudi.
Setelah beberapa saat berkutat kelihatannya si ikan mulai lemas, tapi masih mencoba melawan. Saat ini jarak mereka dengan ikan tersebut hanya tinggal dua meter.
"Ni pegangkan Ris, aku biar turun ke air, "ujar Rudi menyerahkan joran ke Aris, dia kuatir tangkapannya memutus tali pancing dan meloloskan diri.
Aris memegang joran, memang terasa kuat banget ni ikan, seumur hidup dia memancing baru sekali ini menghadapi ikan lele segede ini.
Rudi membuka kaosnya untuk melibat tubuh ikan agar lebih mudah di pegang.
"Dapat!! "Teriak Rudi.
"Eh, jangan melawan, "ujarnya, karena ikan meronta-ronta dengan kuat.
"Kecipak, kecipak!! "
Terlihat Rudi berkutat berusaha membalut tubuh ikan dengan bajunya, itu cara efektif memegang ikan yang licin.
Rudi membekap mulut ikan dengan tangan kanannya, dia merasa perih di telapak tangan yang tadinya tergores mata kail.
Beberapa kali dia terpeleset dan hampir jatuh karena ikan masih melawan. Akhirnya ikan berhasil di gulung dengan pakaiannya dan tidak lagi meronta.
Dengan puas dia berjalan ke arah Aris dan Doni di tepi genangan sambil membopong ikan lele yang sangat besar.
"Berhasil gaes!! "Teriaknya girang, tapi kemudian kegirangannya berubah menjadi heran karena kedua temannya menatapnya dengan wajah pucat pasi.
Aris dan Doni menatap Rudi ketakutan karena mereka melihat tangan kanan Rudi berlumuran darah, kepala ikan yang di bekap tangan Rudi terlihat bergerak-gerak, ternyata mulut ikan tersebut menyedot darah dari telapak tangannya.
Bukan cuma itu, Rudi sangking senangnya juga tidak menyadari bahwa ikan yang di bekapnya dengan kain hanya kepala, sirip, dan ekornya yang berbentuk lele utuh. Sedangkan bagian tubuh yang lain hanyalah tulang belulang.
__ADS_1