
Hari yang benar-benar buruk dan melelahkan, itulah gambaran keadaan Aris dan tim pencari. Mereka pulang dengan tangan kosong setelah dipecundangi Rudi.
Tadinya Aris masih hendak mengejar tapi Bik Isah melalui telpon melarangnya. Bik Isah menelpon melalui Mang Asep lalu Mang Asep dan teman-temannya yang menahan Aris.
Itu dilakukan Bik Isah karena dia ragu untuk menelpon langsung ke Aris disaat seperti ini. Dia sangat mengenal watak keponakannya ini, walau terlihat penyabar tapi sebenarnya Aris berkepala panas dan suka nekad bila orang-orang terdekatnya dalam masalah.
Bik Isah memerintahkan mereka untuk kembali ke rumah setelah terlebih dahulu mendengar saran dari Nyi Sari. Kata Nyi Sari kepadanya, "panggil pulang Aris dan teman-temannya, ada hari lain untuk kembali bertarung dan menang, tapi bukan hari ini. Mereka harus kembali sekarang dan kita harus mengatur ulang siasat. "
Dan kini.. entah kenapa Aris merasa jalan untuk pulang terasa begitu jauh. Kakinya begitu berat untuk meninggalkan tempat ini.
Memang perjalanan yang harus ditempuh terbilang cukup jauh bagi Aris dan teman-teman untuk tiba di rumah. Tapi bukan itu yang membuatnya berat untuk melangkah, melainkan pikirannya tentang keadaan Novi dan apa yang di perbuat Rudi.
Mengingat soal Rudi, dia sungguh tak menyangka temannya itu sanggup mengkhianatinya. Kenapa Rudi harus memilih jalan ini, bukankah kami dapat berbicara baik-baik sebagai teman, keluhnya di dalam hati.
Untungnya saat tiba di wilayah yang terbilang cukup rata, Jeep milik mereka sudah menunggu untuk membawa pulang.
Yang mengendarai Jeep siapa lagi kalau bukan.. Anita, dia datang berdua ditemani Doni. Alasan Anita membawa Doni walaupun Doni nggak pandai nyetir, agar seandainya Jeep terperosok ke lubang ada yang bisa mendorong, kan vanke πππ.
Walau mengumpat di dalam hati karena mendengar alasan Anita tapi Doni senang bisa pergi berduaan dengan suster cantik ini.
Sepanjang perjalanan mereka cukup banyak berbincang. Hanya saja Anita masih membahasakan diri Doni "pak", dan Doni kembali memprotes hal tersebut. Secara dia kan lebih muda satu atau dua tahun dari Anita.
Tapi dengan enteng Anita menjawab sambil tersenyum, "ogah entar dikira orang usiaku sudah ratusan tahun. "
"Lha emang tampangku udah setua apa, sampai Anita nggak mau kalau dianggap lebih tua dariku, "batin Doni kesal.
Tapi begitulah, terkadang hidup ini juga sama seperti itu. Sama seperti yang dialami Doni saat bersama Anita, ngenes-ngenes asyik πππ.
Kembali ke medan perang..
__ADS_1
Dengan lemas Aris naik ke atas Jeep, sedang Mang Asep dan ke empat temannya memilih berjalan kaki untuk kembali ke rumah masing-masing. Mereka yang memilih seperti itu karena nggak akan mungkin muat kalau mereka semua ikut naik. Berenam dengan Aris, ditambah Anita sebagai supir dan Doni yang terhitung dua orang, ini kan Jeep bukan angkot.
Awalnya Aris juga menolak untuk ikut di Jeep, dia bersikeras dengan alasan "kami pergi bersama, pulangnya juga harus bersama. "
Tapi menjemput Aris adalah perintah Bik Isah. Dan Bik Isah yang sudah menduga pasti Aris akan menolak untuk ikut dengan Jeep maka sebelum berangkat dia bilang ke Doni apabila kejadiannya seperti itu maka sampaikan kepada Aris :
"Hemat tenagamu karena ada banyak hal harus kalian lakukan esok. "
Dan mendengar itu Aris pun terpaksa ikut naik ke Jeep.
Tidak ada yang buka suara selama perjalanan. Doni segan bertanya macam-macam karena melihat keadaan sohibnya yang sedang gundah. Padahal banyak yang ingin disampaikannya pada Aris tentang apa-apa yang terjadi selama Aris pergi mencari Novi. Sejauh ini dia cuma bisa mengucapkan "maaf bro, "pada Aris atas kegagalannya menutupi rahasia mereka. Dan Aris mengangguk, seperti Doni sebelumnya dia juga berpendapat sepertinya memang lebih baik begini.
Sekitar 15 menit melewati medan penuh undakan, terguncang-guncang mereka pun tiba dirumah.
Sayangnya perkiraan soal waktu kedatangan Aris sampai di rumah salah. Karena saat mereka tiba di rumah sudah lewat pukul 10 malam, jadi Nyi Sari sudah pulang diantar cucunya.
"Syukurlah kamu pulang anakku. Beristirahatlah, simpan tenagamu, pagi ini ada banyak hal yang harus kita diskusikan bersama Nyi Sari, "ujarnya.
"Tapi, Novi.. Rudi .., "Keluh Aris. Dia tidak tahu bagaimana melanjutkan kalimatnya.
"Iya.. iya.. Bibi tahu, yang sabar ya anakku, mereka tidak kenapa-napa kata Nyi Sari. "
"Tapi seandainya kalian mengikuti mereka malam ini, bisa jadi kalian yang bakal kenapa-napa, "sambungnya menjelaskan.
Aris heran mendengar ucapan Bik Isah, tapi dia sedang malas berpikir apalagi bertanya. Tubuh dan pikirannya terasa lelah sekali. Dengan dibimbing Bik Isah dia pun masuk kedalam rumah.
Doni memperhatikan bagaimana Aris yang begitu jantan dan tangguh menurut begitu saja seperti anak kecil yang takut dimarahi ibunya. Hubungan mereka memang istimewa Doni membatin.
"Apaan sih bapak ini, dekat-dekat, "goda Anita yang tahu-tahu sudah berdiri disampingnya.
__ADS_1
Dih ni anak, siapa juga yang dekati siapa.
"Lu nggak pulang mbak? "Doni balas menggoda.
"Ogah ah, gelap, takut, "jawab Anita.
"Ntar anakmu siapa yang ngurusi? "goda Doni kembali. Doni menggoda sekaligus menyelidiki, sambil menyelam minum kombantrin.
"Gak apa, kedua anakku kan sama bapaknya, "jawab Anita santai lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
"Dih ini cewe, "batin Doni.
Anita hanya bercanda, dia nyengir sambil membuka kembali pintu dan membiarkan Doni masuk ke dalam rumah. Entah kenapa dia merasa suka sekali menjahili Doni, cuma untuk ngelihat ekspresi diwajahnya yang berubah-ubah.
"Serius, emang anakmu dua? "tanya Doni penasaran.
Anita mengangguk.
"Itu dari tiga bapak lho, "sambungnya lalu tertawa geli, duh cantiknya.
Doni ikut tertawa dan mereka pun melanjutkan ngobrol di ruang tamu.
Ternyata malam ini Anita tidak pulang, dia menginap di rumah Bik Isah dan tidur di kamarnya Novi. Itu diminta Nyi Sari karena dia adalah perawat dan tenaganya sangat dibutuhkan hingga beberapa hari ke depan. Tentu saja Doni dong yang senang bisa pedekate.
Di kamar..
Aris berbaring dengan pikiran yang masih bekerja. Dia memikirkan apa sebenarnya peran Rudi pada kejadian-kejadian disini. Mengingat awalnya Rudi, dan Doni datang bersamanya kesini untuk berlibur. Trus apa ada hubungan Rudi dengan Novi yang selama ini yang tidak dia ketahui. Selain itu kenapa kabut putih yang tadi mengiringi menghilangnya Rudi persis sama dengan kabut di malam mereka mengalami kecelakaan.
Sejuta pertanyaan masih berseliweran di benak Aris hingga akhirnya rasa letih menguasai diri dan dia pun segera terbuai dalam mimpi..
__ADS_1