
"Kak, gi pain? "Bunyi pesan dari Novi ke Aris.
"Lagi tidur Nov, habis ngantuk banget sehabis sholat Maghrib, "balas pesan Aris.
Saat itu Aris sedang duduk di atas ranjang masih bersarung sehabis sholat Maghrib. Dengan ponsel di tangan rencananya dia hendak menelpon papanya.
Novi tersenyum geli membaca pesan dari Aris, masak tidur bisa baca dan balas chat. Lagian nggak biasa-biasanya juga bagi mereka tidur Maghrib-maghrib, pamali. Tapi Novi jadi senang karena Aris sudah mau bercanda kembali.
"Tok..tok..tok, "tak lama terdengar ketukan di pintu Aris.
"Kak, Novi masuk ya, "suara merdu Novi terdengar, dan tanpa bisa dilarang gadis ini langsung masuk ke kamar. Aris cuma bisa nyengir melihat Novi nyelonong lagi.
"Hayo sedang chat sama siapa? "Tanya Novi melihat Aris yang duduk di ranjang sambil memegang ponsel. Gadis itu segera duduk di samping Aris sambil melongok ke ponsel yang di pegangnya.
"Ya chat sama elu barusan, "jawab Aris tersenyum.
"Kayak deja vu ya, "ujar Novi begitu melihat di ponsel Aris sama seperti kemarin menampilkan list nomor kontak dengan tulisan nama "Papa" diantara beberapa nama yang berawalan "P".
"Trus kak Aris bilang, kalau ketahuan bibi bisa kena marah lu Nov sembarangan masuk kamar laki-laki, "ujarnya dengan suara diberatkan meniru suara Aris lalu tangannya dikacakkan di pinggang.
Aris tertawa.
"Emang suara dan gayaku seperti itu? "Tanyanya geli.
Novi tidak menjawab tapi justru kembali bertanya.
"Mau nelpon om ya, kenapa nggak langsung di telpon aja? "Ujar Novi tanpa mengalihkan perhatian dari ponsel Aris.
"Udah, dua kali malah, tapi nggak di angkat, "jawab Aris.
"Mm.. mungkin om sedang diluar, "ujar Novi.
"Emang mau ngomong apa sih sama om? "Tanyanya lagi.
"Ya mau ingetin soal ultah mu, soalnya udah dari kemarin dia nggak ada nelpon atau sekedar chat, nggak biasa-biasanya dia lupa ultah mu, "jawab Aris.
"Oh iya, "ujar Novi tersenyum.
"Kalau kamu aja yang nelpon gimana? Siapa tau kalau kamu yang nelpon di angkat papa, "ujar Aris.
"Segan kak, "jawab Novi.
Novi memang rada segan pada papanya Aris, mungkin karena si Papa itu terlihat selalu serius. Padahal setau Aris, papanya itu lebih sayang kepada Novi daripada pada dirinya.
Dulu saja sewaktu Aris tamat SD dan dia dibawa pindah oleh papanya untuk ikut ke kota, Novi juga diminta papanya untuk ikut, alasannya agar ada teman Aris. Tentu saja Novi dan Aris senang sekali, tapi bik Isah dan suaminya yang saat itu masih hidup tidak mau melepaskan Novi.
Akhirnya papa Aris menawarkan agar Aris saja yang ditinggal untuk menemani bik Isah dan suaminya di desa. Sedangkan Novi akan dibawanya lalu disekolahkan di kota, lha. Seperti itulah kata-kata papa Aris dulu kalau sedang memarahi Aris πππ.
Tapi nggak ding, alasan papanya Aris ingin membawa Novi karena rumah mereka begitu sepi. Memang nasib Aris dan Novi nggak beda jauh. Mama dan Papanya Aris berpisah saat Aris masih kecil, lalu mamanya pindah keluar negeri membawa kakaknya satu-satunya.
"Hayo ngelamun, "ucap Novi membuyarkan perdebatan di benak Aris.
Aris tertawa.
__ADS_1
"Aku teringat waktu kamu kecil, "ujarnya.
"Waktu aku kecil kakak juga masih kecil, kita kan cuma beda dua tahun doang, "jawab Novi.
"Maksudku kamu itu imut banget waktu kecil, semua orang menyukaimu, "ujar Aris.
Novi tersenyum, lalu sesaat kemudian mendelik.
"Eh, maksudnya sekarang udah nggak imut lagi? "Tanyanya.
Aris mengangguk dan tertawa.
Novi mencubit lengan Aris.
"Eh, tadi kamu kesini pasti mau bilang makan malam sudah siap kan? "Tanya Aris mengalihkan pembicaraan.
Novi mengangguk dan melepaskan cubitannya. "Oh iya, bunda udah nunggu di ruang makan, "ujarnya lalu bergegas bangkit dan berjalan menuju pintu.
"Jangan lama-lama kak, "sambung Novi tertawa.
Aris cuma mengangguk dan nyengir.
Novi tersenyum sumringah saat keluar kamar. Awalnya dia takut Aris jadi menjauh karena mendengar perjodohan mereka, tapi ternyata kekhawatirannya tidak terbukti. Sikap Aris padanya masih hangat seperti biasa. Berarti sebelumnya sikap Aris menjadi berbeda karena panik temannya sakit, begitu kesimpulan Novi.
"Jalani ajalah, kelak waktu akan menunjukkan apa pilihan kak Aris, "batin Novi. Yang jelas Aris tetap lah Aris yang selama ini Novi kenal, Aris yang rela menggendongnya ke sekolah agar sepatunya tidak kotor, atau Aris yang rela dimarahi bibi atau papanya untuk melindunginya.
Begitu Novi membuka pintu dia terkaget karena ternyata Doni sedang berdiri di luar. Entah sudah berapa lama ni orang berdiri disini pikir Novi, mungkin tadinya dia hendak ke kamar Aris tapi karena mendengar suara Novi akhirnya menunggu di luar. Novi jadi tersenyum malu lalu buru-buru menunduk dan bergegas pergi, sementara Doni cuma nyengir sambil melambaikan tangan diatas dada.
Dari pintu yang belum tertutup saat Novi keluar kamar Aris melihat Doni, "duh kepergok ni bocah, bakal digodain lagi aku, "keluhnya. Buru-buru dia menunduk memperhatikan ponsel dan pura-pura tidak melihat Doni.
"Napa alismu kedutan begitu Don, cacingan? "Ujar Aris tertawa lalu berdiri dari ranjang menggapai celana panjang yang disangkutkan di dinding.
Doni menutupkan pintu kembali memberi waktu bagi Aris berganti celana. Tak lama Aris keluar kamar. Seperti tadi Doni masih menaik-naikkan alis sambil senyum-senyum.
"Yaelah ini bocah, "batin Aris.
"Udahan senyum lu, kayak ODGJ aja, "ujarnya lalu bergegas menuju ruang makan. Doni nyengir lalu mengikuti Aris dari belakang.
Selepas makan malam, Aris meminjam kunci Jeep beserta STNK ke Novi. Awalnya mereka hendak mengendarai motor trail untuk membesuk Rudi agar lebih cepat sampai. Tapi mendadak hujan gerimis turun, sehingga mereka terpaksa harus mengendarai mobil.
Lha hujan rintik malah berubah menjadi lebat selebat-lebatnya begitu mobil keluar dari pekarangan.
"Untung kita lebih memilih naik mobil Ris, kalau nggak bakal kuyup kita di jalan, "gumam Doni sambil menatap ke luar jendela.
Bulir-bulir air menerpa kaca lalu mengalir deras turun, seakan berlomba agar segera diserap bumi.
Aris mengangguk mengiyakan ucapan Doni lalu mengaktifkan wiper (penyapu kaca).
"AC nya hidupin dikit biar nggak berembun kacanya Don, "pinta Aris ke Doni.
Doni memutar kenop AC dan Kipas pada angka 2.
Setelah berjalan beberapa ratus meter hujan yang tadinya lebat kini sedikit mereda, hanya saja kini kabut mulai muncul memburamkan penglihatan.
__ADS_1
"Duh kabutnya, terpaksa berjalan lambat kita men, "ujar Aris memindahkan persneling.
Tak lama hujan pun terbilang reda, yang tersisa darinya hanya tetesan berupa rinai-rinai halus, sedangkan kabut justeru semakin tebal. Aris memain-mainkan lampu dim, memberi isyarat dari balik kabut bagi pelintas yang mungkin saja berpapasan dengan mereka.
Untuk menyalakan total lampu kabut Aris tidak tega, karena ini masih di jalan perkampungan, kuatir nanti mengganggu pengendara lain yang datang dari depan dan dapat mengakibatkan kecelakaan.
"Jadi Nyi Sari itu keturunan pendekar sakti Ris? "Tanya Doni membuka percakapan.
"Yo'i bro, "jawab Aris singkat sambil tetap fokus menatap jalan.
"Aku sendiri baru tau kisah lengkap tentang buyutku kemarin, "ujar Aris menoleh.
"Selama ini aku cuma dengar kalau buyutku itu disegani karena orangnya baik, gitu aja, "sambungnya sambil kembali melihat kedepan.
"Iya juga sih, mengingat rentang waktunya yang begitu lama, pastinya cerita tentang buyut lu sudah dilupakan orang. Lu udah generasi ke empat semenjak buyutmu kan? "Tanya Doni lagi.
"Yo'i men, "ujar Aris lagi, tumben ni anak pinter batinnya.
"Lu tadi makan rebusan daun ubi pakai sambel belacan? "Tanya Aris pada Doni yang mulai mengutak-atik radio mobil.
"Hu..uh, emang kenapa? "Tanya Doni.
"Itu bikin cerdas, "ujar Aris lalu tertawa.
"Bodo ah, "jawab Doni.
Saat ini sudah sekitar 10 menit mereka berkendara dengan perlahaan. Walau pun kabut tebal mengelilingi tapi Aris dapat perkirakan mereka sudah melewati jalan perkampungan dan kini berada di jalan yang kanan kirinya adalah kebun-kebun warga, tanpa ada satu rumah pun disekitar.
"Trus, Nyi Sari itu kok bisa tahu tentang yang terjadi di masa lampau ya, padahal dia saja belum lahir di masa itu? "Tanya Doni lagi.
"Kalau itu aku nggak tahu, bisa saja dia mendengarkan kisah tersebut turun temurun, atau memang dia bisa ngelihat apa yang pernah terjadi, "jawab Aris sekenanya karena dia juga nggak paham urusan seperti itu.
Doni mengangguk-angguk lalu mencoba hidupkan kembali audio mobil, tapi setelah di tekan-tekan nggak ada suara yang keluar.
Aris melirik, "volumenya dinaikin dong, "ujarnya. Doni nyengir lalu menaikkan volume, tapi yang terdengar cuma suara kresek..kresek..
Ditekannya tombol auto search tetap aja yang terdengar masih bunyi kresek..kresek..
"Di sekitar sini frekuensi radio agak langka men, "ujar Aris.
"Yah lu kok nggak ngasih tau dari tadi, "protes Doni.
"Lha masalah lu tadi kan karena audio nggak ada suaranya, yaudah aku bilang naikin volumenya, "jawab Aris tertawa.
"Kalau soal ada frekwensi atau nggak ya itu masalah lain lagi, "sambungnya.
"Pakai ponselmu aja sambungkan via bluetooth ke.."Omongan Aris terhenti lalu belokkan setir mendadak ke arah kiri.
Barusan seseorang terlihat melintas di tengah jalan. Doni pun sempat melihat seperti ada orang melintas, karena begitu merasakan gerak refleks Aris membanting setir dia spontan menatap ke depan, melepaskan pandangan dari audio mobil.
"Awas Ris!!! "Teriaknya.
Untungnya mobil hanya bergerak pada kecepatan 40 km/jam, begitupun ban belakang yang di rem terseret bergesekan dengan aspal dan menimbulkan suara berdecit keras.
__ADS_1
"CIIIT, BRUAGH, PYASH"