
"Sial, penyihir itu melarikan diri, "geram Doni. Dia berdiri disamping Aris dengan memegang batu di kedua tangannya.
Aris mengangguk, mengiyakan ucapan temannya dan menatap ke arah menghilangnya Anna dengan ekspresi geram. Sangat tidak mungkin untuk mengejar lawan di tempat seperti ini, apalagi Anna menceburkan diri ke air yang dia tidak tahu kedalamannya, yaitu di bagian lorong yang gelap. Setelah beberapa saat menatap ke arah menghilangnya Anna untuk memastikan tidak ada serangan susulan, kini dia memperhatikan keris di dalam genggamannya.
Di bolak-baliknya keris berwarna hitam bergagang kayu tersebut, sama seperti yang sebelumnya dia lihat di dalam mimpi, tidak ada yang terlihat istimewa pada keris. Namun entah bagaimana sepertinya si penyihir Anna terlihat sangat takut pada senjata ini. Hal itu mengingatkannya kembali akan kisah yang diceritakan oleh Nyi Sari, tentang pertempuran antara dua pendekar di lubuk sungai yang mana seorang diantara mereka menggunakan keris yang sedang digenggamnya ini, sedang pendekar lainnya menggunakan kujang.
"Lantas dimana kujang tersebut? "Batin Aris bertanya-tanya karena sepanjang petualangan mereka berseteru dengan Anna dan kekasihnya tidak ada tanda-tanda senjata tersebut berada pada kedua musuh mereka tersebut.
Karena Aris tampak begitu serius memperhatikan keris di tangannya dan juga tidak ada tanda-tanda keributan susulan, Doni pun melihat-lihat sekeliling.
Saat ini suasana di dalam gua semakin terang semenjak dindingnya berlubang akibat pukulan Anna sebelumnya.
Doni melongokkan kepala melalui lubang berukuran lebih kurang satu meter itu dan melihat keluar. Terasa udara segar menyapu wajah bulatnya, lalu di luar dia melihat hijaunya pepohonan dan rumput.
"Ternyata saat ini masih sore, "batinnya lega mengingat tentunya Bik Isah dan rombongan masih berada disekitar lokasi mereka berada. Dia pun mencoba meloloskan diri melalui lubang di dinding, namun sayangnya bahunya tersangkut di dinding lubang.
"Ternyata badanku terlalu besar, "Doni membatin dan jadi nyengir sendiri menyadari kekurangannya. Dengan susah payah dia melepaskan diri dari lubang dan kembali berdiri di dalam gua.
Dia berjalan kembali ke arah Aris tapi dia menjadi heran melihat temannya itu berdiri terpaku, bukan lagi menatap ke arah keris yang saat ini sudah di selipkan ke pinggang kirinya, melainkan menatap ke arah lorong yang gelap di depan. Doni hendak berbicara namun Aris yang mendengar langkah sahabatnya mendekat segera memberi isyarat dengan tangan agar Doni berhenti.
Doni menghentikan langkahnya dan bersiaga dengan mencoba mendengarkan dan memperhatikan ke arah Aris menatap, lamat-lamat telinganya menangkap suara gemuruh pelan di kejauhan, dan suara gemuruh itu terdengar mendekat.
Dia menoleh kembali ke arah Aris yang masih berdiri terpaku, sepertinya memang suara itu yang menyita perhatian Aris.
Suara gemuruh itu kok bagaikan suara air, pikir Doni.
__ADS_1
"Air!!! "Doni kaget begitu menyadari itu adalah benar suara air, dia segera berbalik ke arah lubang di dinding.
"Minggir Don!!! "teriak Aris sambil berlari.
Doni menoleh dan segera menyingkir untuk memberikan ruang bagi Aris. Matanya dengan khawatir kembali menatap ke arah suara air yg bergemuruh semakin keras karena bergerak semakin dekat. Bersamaan dengan suara gemuruh mendekat, air di sekitar mereka dengan cepat meninggi. Hamparan kerikil di sekitar mereka pun segera tergenang.
"Bruak!! "Aris menendang dinding tanah disekitar lubang. Dinding tanah langsung pecah berhamburan. "Sepertinya di perlukan beberapa kali tendangan untuk menghancurkan dinding lorong ini, "batin Aris melihat ternyata tanah yang membatasi lorong ini lumayan tebal.
"Cepetan Ris!! "Teriak Doni panik, air sudah naik hingga ke betisnya. "Sialan, ada saja tingkah si penyihir ini untuk menyerang kami, "geram Doni di dalam hati.
"Bruak!! Bruak!! "Tanah berguguran kembali terkena tendangan Aris yang menendang sekuat tenaga, begitu kuatnya dia menendang sehingga kakinya terasa sakit. Setelah lubang yang tercipta cukup besar dengan cekatan Aris segera meloloskan diri dari lubang.
Setelah Aris keluar melalui lubang, Doni ikutan segera meloloskan diri keluar dari dalam lorong bawah tanah, hanya saja baru bagian dadanya melewati lubang, air bah segera menerjang tubuhnya, "Byuaar!!! "
Doni merasa bagaikan sedang berada di pusaran air yang kuat, air yang melanda lorong bawah tanah seakan berusaha membetotnya. Aris merasa kesulitan menarik tubuh temannya ini dikarenakan berat badan Doni dan juga terjangan air di dalam lorong. "Ayooo men..Urgh.. kamu pasti bisa!! "Ujar Aris menggeram. "Dih berat banget ni bocah, "batinnya.
"Dih..dih.. apa ini geli banget!! "Doni berteriak-teriak kegelian karena kini selain dorongan air dia mulai merasakan ada makhluk-makhluk kecil yang berseliweran menabrak bagian bawah tubuhnya.
"Jangan bergerak-gerak terus men, aku kesulitan mengangkat tubuhmu!! "ujar Aris kesal. Tapi Doni yang merasa kegelian tidak dapat menahan diri, dia kini bisa memastikan kalau makhluk-makhluk yang terasa menggelitiknya adalah ikan yang berenang bersileweran terbawa arus.
"Dih, ada yang masuk ke celanaku!! "teriak Doni. Tapi Aris tak menghiraukan ocehan Doni dan terus berusaha menarik tubuh sahabatnya tersebut. Tangannya terasa menjadi licin karena air, juga keringat di ketiak Doni, sehingga begitu Doni bergerak kembali perlahan jari-jari Aris meluncur lepas dari pegangannya di ketiak. Begitu pegangan di ketiak Doni terlepas dengan cepat dia memiting leher Doni agar sahabatnya ini tidak terseret air. Doni malah jadi kesulitan bernapas, matanya membelalak, Aris serba salah dan akhirnya melepaskan pitingan di leher. Kini Aris menarik baju Doni di bagian bahu. "Krek.."baju Doni yang di cengkeram Aris malah robek.
Pegangan di bahu Doni terlepas berikut robekan pakaiannya yang masih di genggam Aris. Dengan cepat Doni terseret air dan terbenam, Aris hendak terjun, tapi dia melihat bagaimana derasnya air yang melintas di dalam lorong mengurungkan niat. Sebagai ganti dia berlari mengikuti suara air di bawah tanah, "di suatu titik air ini pasti akan muncul ke permukaan, bertahanlah sobat.. !! "desis Aris. Secepat yang ia bisa Aris berlari menerabas semak dan belukar yang langsung berpatahan tertabrak tubuh kekarnya.
Sementara itu..
__ADS_1
Bik Isah dan rombongan masih berada di tepian sungai, di tempat awal tempat dimana Aris dan Doni tenggelam.
Sudah hampir empat puluh lima menit semenjak menghilangnya Doni dan Aris. Sejauh ini Mang Asep dan teman-temannya sudah bergantian menyelami lubuk untuk mencari kedua pemuda itu tanpa hasil.
Sedangkan Bik Isah dan Anita hanya dapat membantu dengan memanggil-manggil nama Aris dan Doni sambil berjalan berkeliling.
Mata Bik Isah sudah sembab karena menangis. Segala beban yang mendera hati sudah sampai pada puncaknya, tak tertahankan, sehingga air matanya pun tercurah. Dia bahkan sempat hendak menelpon papanya Aris tapi keburu ditahan oleh Nyi Sari. Nyi Sari menjelaskan bahwa dia masih merasakan kedua pemuda itu berada dalam keadaan hidup, dan juga masih berada disekitar situ, hanya saja pengaruh sihir Anna yang begitu kuat di wilayah itu mengganggu penglihatannya. Atas ucapan Nyi Sari ini lah mereka kembali melanjutkan pencarian hingga kini.
Nanang dan Karta yang tadinya menyelam kini terlihat muncul di seberang dan mengaso dengan duduk ndeprok di atas bebatuan. Mereka bersamaan menaikkan bahu begitu menyadari tatapan bertanya orang-orang di seberang.
"Bagaimana ini Nyi? "tanya Bik Isah dengan resah pada Nyi Sari yang berdiri di sebelahnya. Nyi Sari terlihat memejamkan mata, lalu ekspresinya berubah menegang.
"MUNDUR!!! "teriaknya
"MUNDUR!!! MUNDUR!!! "ulangnya.
"MENJAUH DARI AIR!!! "teriaknya kembali
Mereka yang berada di sekelilingnya menatap cemas dan segera menjauh dari tepian sungai.
Lalu perhatian mereka beralih ke tengah lubuk, terlihat gelembung-gelembung keluar dari dasar lubuk menuju ke permukaan, gelembung-gelembung itu muncul semakin banyak dan semakin besar-besar.
Lalu terlihat menyusul gelembung udara yang terlebih dahulu keluar, air bergolak menyembur dari dalam lubuk.
"BRUASH!!!! "
__ADS_1