
Grace melihat Lurika yang tengah mengemasi barang-barangnya, dia sudah diberitahu jika akan dibawa ke istana oleh Izek.
Padahal mereka baru saja pindah sekarang harus pindah lagi dan beradaptasi.
Grace hanya bisa menautkan jari-jarinya, dia tertunduk karena tidak tahu harus berbuat apa.
"Di istana banyak pemandangan cantik, Nona bisa melukis dengan leluasa di sana," ucap Lurika yang membuyarkan lamunan gadis itu.
Lurika kemudian mendekat dan mencoba membujuk Grace. "Saya juga akan ada di sana, Nona!"
Baiklah, bukankah memang Grace tidak punya pilihan selain menurut?
Hari itu, Giel datang dengan membawa beberapa orang untuk menjemput Grace dan Lurika.
Mereka pergi ke istana De Servant yang di mana Izek telah mengumpulkan penghuni istana untuk mengumumkan sesuatu.
"Tunanganku akan kemari dan tinggal di sini jadi kalian harus memperlakukannya dengan baik!" perintah Izek.
Semua tampak terkejut karena tiba-tiba Izek mengumumkan hal seperti itu. Mereka tidak berani bertanya.
Dari kejauhan Akash mendengar perkataan Izek itu, dia berdecih karena Izek membawa Grace ke istana.
Namun, dia tidak terlalu kecewa karena artinya Akash akan semakin mudah bertemu dengan Grace nantinya.
Akash menunggu sampai tak lama Grace tiba juga. "Grace..." batinnya. Dia melihat gadis itu terus tertunduk.
Sementara Izek sendiri, tersenyum miring melihat sang selir datang.
"Namanya Grace," ucap Izek seraya merangkul Grace di hadapan semua penghuni istana.
Grace tidak berani memandang ke depan, dia hanya bisa meremas dress yang dia kenakan. Sampai akhirnya Izek membubarkan semua dan membawa Grace ke kamar yang diperuntukkan untuk gadisnya.
Pada saat itu Ruzel dan anak buahnya mengiringi Izek dari belakang.
"Jangan takut!" Izek langsung menggendong Grace ketika di tengah perjalanan. "Kau aman di sini!"
Grace melihat wajah Izek dari posisi gendongannya yang ala bridal.
"Jaga pintu di luar!" perintah Izek pada Ruzel saat sampai.
__ADS_1
Ruzel hanya bisa mengangguk dan berjaga di luar sesuai perintah Izek.
Di dalam kamar, Izek menurunkan tubuh Grace. Dia meminta gadis itu melihat kamar barunya.
"Lebih luas dari kamarmu yang lama, di sini kau bisa melukis dengan bebas," ucap Izek.
Mata Grace terus memindai setiap sudut ruangan walaupun mewah dan luas tapi dia merasa sangat asing. Dia lebih nyaman di rumah lama.
"Bagaimana?" tanya Izek seraya meraih dagu gadis itu. Dia tidak bisa menahan diri untuk menyambar bibir Grace yang terus menggodanya.
Saat dia akan mencium Grace tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan Izzy yang baru mendengar kabar mengenai Grace langsung mengacaukan semuanya.
"Sebelum mencium simpananmu lebih baik kau menjelaskan semua padaku, Kak," tegur Izzy.
Izek pun tidak jadi mencium gadisnya karena gadis itu bersembunyi di punggungnya. Pasti gadis itu malu dan takut.
"Namanya Grace, dia akan tinggal di sini," jelas Izek singkat.
Izek lalu meminta Grace untuk menampakkan dirinya di depan Izzy. "Kalian sudah bertemu tempo hari, namanya Izzy, dia adalah adikku. Kau akan banyak belajar darinya!"
"Setidaknya jelaskan asal usulnya, Kak," tuntut Izzy.
Tentu saja Izek tidak mau memberitahu asal usul Grace pada Izzy, yang terpenting gadisnya aman bersamanya. Selanjutnya akan dia pikirkan nanti.
Dan Izzy mengalah karena melihat Grace yang memang ketakutan apalagi gadis itu tidak bisa berbicara.
"Jangan takut, aku tidak jahat," bujuk Izzy. Dia mendekati Grace tapi gadis itu justru meremas baju Izek.
"Tidak apa-apa, Izzy hanya ingin berkenalan." Izek juga berusaha membujuk Grace, dia mencoba melepas tangan Grace yang meremas bajunya kemudian dia genggam.
"Badannya sangat kurus Izzy, beri dia perawatan dan juga ajari dia urusan wanita," pinta Izek pada adiknya.
"Apa yang terjadi padanya, Kak?" tanya Izzy yang masih penasaran.
Tapi, dia buru-buru membuang pikiran itu karena tidak mau menekan Grace.
"Grace punya pelayan pribadi bernama Lurika, dia akan ikut tinggal di istana. Dia hanya mengenal Lurika selama ini," jelas Izek.
Mendengar itu, Izzy memanggil Abby untuk masuk supaya kepala pelayan itu juga mengenal Grace.
__ADS_1
Abby masuk dengan membawa sangkar burung Izzy bersamanya.
"Namanya Abby, dia kepala pelayan di istana ini," ucap Izzy memperkenalkan Abby.
Grace mulai tidak takut lagi karena atensinya beralih pada burung yang dibawa Abby. Gadis itu mengenal nama burung itu karena sewaktu kecil dia sering bermain dengan burung Horus.
"Kau menyukainya?" tanya Izzy.
Grace menganggukkan kepalanya dan Izzy meminta Abby untuk memberikannya pada gadis itu.
"Kalau kau mau, kau bisa merawatnya," ucap Izzy.
"Di mana kau menemukan burung Horus itu?" tanya Izek penuh selidik. "Aku kira burung itu sudah langka!"
"Etnel yang menemukannya dan sepertinya ada pemburu liar yang masuk ke hutan De Servant. Aku dan Etnel akan menyelidiki itu jadi aku tidak bisa menjaga Grace sepanjang waktu," jelas Izzy.
"Grace bisa melukis di kamarnya, kau pastikan saja dia mendapat pelayanan dan perawatan terbaik," ucap Izek.
"Baiklah." Izzy menyanggupi.
Sebelum meninggalkan kamar Grace, Izzy memberikan burung Horusnya pada gadis itu, setidaknya ada hal yang disukai Grace yang membuatnya tidak takut.
Terbukti senyum Grace terus mengembang karena bermain dengan burung itu.
"Aku kan punya Etnel. Kalau kak Izek tidak mau memberitahu siapa Grace, aku akan mencari tahu sendiri," batin Izzy.
Dia pun berlalu keluar dari kamar Grace, saat keluar ternyata Ruzel masih di depan pintu.
"Lebih baik bubar semua," ucap Izzy.
Ruzel membubarkan anak buahnya kemudian lelaki itu berjalan berdua dengan Izzy di koridor istana.
"Seperti biasa kak Izek tidak memberitahu secara detail dan hal itu membuatku penasaran," ucap Izzy.
"Rasanya semua juga penasaran," sahut Ruzel.
Semua juga tahu bagaimana dinginnya Izek pada wanita. Sampai naik tahta pun kursi Queen masih kosong dan belum ada calon yang mendudukinya.
"Dilihat dari mana pun, Grace tidak akan bisa menjadi Queen," ucap Izzy yang menilai bagaimana lemahnya Grace.
__ADS_1
"Jangan meremehkan orang lain seperti itu, king Izek pasti melihat sesuatu dari wanitanya," balas Ruzel.