
Grace perlahan menggores pergelangan tangannya namun tiba-tiba dia merasakan ada seseorang yang memegang tangannya.
"Apa yang kau lakukan, hem?" ucap orang itu seraya merebut cutter dari tangan Grace dan melemparnya.
Grace kaget dan membuka matanya, dia terkejut karena Ellen sudah ada di sana.
Sebelumnya, Ellen ingin mengecek keadaan gadis itu tapi justru mendapati Grace yang ingin bunuh diri.
"Jika kau mati, memangnya masalah langsung selesai?" tanya Ellen.
"Dari pada membersihkan rumor yang beredar, kau lebih memilih mengakhiri hidup? Dangkal sekali pikiranmu,"
Ellen berbicara seperti dirinya ketika memarahi Izzy. Kalau putrinya pasti sudah kebal tapi tidak dengan Grace yang rapuh.
"Aku tidak menyalahkanmu seratus persen karena kau memang tidak tahu apa-apa selama ini tapi satu hal yang harus kau ingat..." Ellen berkata dengan penuh penekanan. "Jika kau berada di sisi king De Servant itu artinya kau harus membela kehormatannya dengan nyawamu!"
"Apa kau tahu beban Izek dengan rumor ini?"
Grace hanya bisa tertunduk dan lagi-lagi menangis, seharusnya dia meminta pergi dari dulu kalau hanya merepotkan dan menjadi beban.
"Putraku memang tidak pandai mengekspresikan perasaannya tapi melihat dia ada di sisimu dan membelamu, seharusnya kau sadar diri!"
__ADS_1
Ellen menghela nafasnya panjang, sepertinya dia sudah keterlaluan.
"Baiklah, kita bersihkan dirimu dulu," ucap Ellen kemudian.
Perempuan itu bangkit dan membawa Grace ke kamar mandi.
"Lepaskan semua pakaianmu!" perintah Ellen.
Karena takut, Grace melupakan rasa malunya dan melepas pakaiannya satu persatu sampai tubuh polosnya dilihat oleh Ellen. Dan Ellen mengamati tubuh kurus itu dengan seksama.
"Kita rapikan rambutmu dulu!" Ellen mengambil gunting dan ingin memotong rambut panjang Grace supaya kelihatan lebih rapi.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Ellen.
Grace menjawabnya dengan gelengan kepala, dia sangat takut sekarang. Tapi, Ellen tidak menanyakan lebih lanjut karena fokus merapikan rambutnya.
Butuh waktu beberapa menit untuk merapikan rambut gadis itu. Ellen cukup puas dengan hasilnya kemudian dia meminta Grace untuk membersihkan dirinya.
Setelah selesai mandi, Ellen memilihkan baju untuk dikenakan Grace, dia juga memoles make up di wajah gadis itu dan memasang perhiasan.
"Sepertinya cukup," ucap Ellen setelah dirasa penampilan Grace berubah.
__ADS_1
"Ayo kita makan bersama!" ajaknya.
Tidak ada pilihan lain selain menurut, Grace dibawa Ellen ke meja makan utama di mana Draco sudah menunggu mereka.
Hanya ada mereka bertiga dan hal itu membuat Grace jadi gugup luar biasa. Wajahnya terus tertunduk dengan degup jantung yang cepat. Takut dan gelisah, hanya itu yang dia rasakan.
"Angkat kepalamu!" perintah Ellen yang membuat Grace kaget karena sadar dari lamunannya.
"Mulai sekarang, angkat kepalamu dan tatap semua orang yang berbicara padamu!"
Dengan ragu Grace mengangkat kepalanya dan melihat Ellen atau Draco bergantian. Ketika dia akan menunduk lagi, Ellen melotot tajam ke arahnya.
"Bagaimana?" tanya Draco pada istrinya.
"Tentu saja dia bukan tipemu kemana-mana, aku hanya ingin menguji dia, pantas atau tidak menerima cincin Yvone dan menjadi calon Queen," sahut Ellen.
Kemudian Ellen kembali menatap Grace di sana.
"Jika kau tidak lulus maka silahkan angkat kaki dari sini!" tegasnya.
Grace hanya bisa meremas bajunya, dia masih gamang.
__ADS_1