
"Sudah, King!"
Semua yang ada di ruang latihan mencoba menghentikan Izek yang memukuli salah satu anggota. Lelaki itu sudah berdarah tapi Izek masih memukulinya.
Sarung tinju di tangan Izek penuh darah bahkan muncrat di wajah tampannya.
"Kenapa kau lampiaskan padanya, Iz!"
Tiba-tiba suara yang ditunggu akhirnya datang juga. Izek berhenti memukul dan menatap tajam pada Akash yang baru datang.
"Maaf aku terlambat, aku tadi menemui Grace," ucap Akash seolah sengaja membuat king mafia itu marah.
Akash berjalan masuk ke dalam ring seraya memakai sarung tinjunya.
Sejenak Izek dan Akash hanya saling adu tatap sampai mereka akhirnya saling maju dan beradu tinju.
Keadaan tegang, tidak ada yang berani membuka suara. Hanya suara pukulan dari Izek dan Akash yang terdengar di ruang latihan itu.
"Kemampuanmu sepertinya ada kemajuan," komentar Izek.
"Kau pikir aku selama ini tidak berlatih, yang kau lihat aku hanya bermain-main saja, bukan?" Akash menjawab seraya melayangkan pukulannya pada sepupunya itu.
Izek beberapa kali berhasil menangkis serangan Akash.
"Kau selalu meremehkan aku, Iz," ucap Akash yang tidak mau menyerah menyerang Izek.
Emosi Akash itu membuat Izek mempunyai celah, lelaki itu menendangkan kakinya ke atas mengenai dagu Akash yang membuatnya langsung jatuh tersungkur.
__ADS_1
"Sial!" umpat Akash seraya memegangi mulutnya yang mengeluarkan darah.
Izek tersenyum sinis sambil keluar dari ring, lelaki itu memilih meninggalkan Akash di sana.
Rupanya perkelahian itu lagi-lagi menjadi buah bibir di istana. Dan pastinya Grace menjadi sasarannya.
"Kau sudah dengar king Izek berkelahi sungguhan dengan tuan muda Akash di ring?"
"Iya, kali ini sepertinya bukan latihan!"
"King Draco dan Queen Ellen juga tidak romantis seperti biasanya,"
"Ini semua hanya karena satu orang,"
Suara-suara itu sengaja dikeraskan supaya terdengar di telinga Grace.
Grace mengerjakannya di perpustakaan dan para pelayan seolah sengaja menggunjingnya karena mereka tidak mendapat tugas membersihkan perpustakaan.
"Apa yang menarik darinya? Dia jauh dari standar!"
Sekarang Grace harus pura-pura tidak mendengar apapun. Dia tidak boleh menangis lagi atau mereka akan semakin menertawakan dirinya.
"Apa Nona ingin kembali ke kamar?" tanya Lurika yang tidak tahan.
Grace mengangguk, sepertinya mengurung diri di kamar adalah keputusan tepat.
"Lihatlah dia pergi! Selain bisu, pasti dia juga tuli!"
__ADS_1
Tidak ada perlawanan sama sekali dari Grace, dia memilih pergi, bohong kalau dia tidak sakit hati. Tapi, menangis pun percuma, yang bisa Grace lakukan adalah bertahan.
Di perjalanan ke kamarnya, Grace melihat Izek dari kejauhan.
Izek sudah berpenampilan rapi dan tampan, melihat ada Grace, lelaki itu meminta Giel untuk menjemput Grace supaya mendatanginya.
Keduanya kemudian berjalan ke arah taman istana.
"Apa kau lebih baik sekarang?" tanya Izek.
Dengan canggung, Grace mengangguk tanpa mau melihat Izek.
Ini di luar ekspektasi Grace, dia pikir Izek akan marah tapi lelaki itu memilih membelanya dan berada di sisinya.
Sekarang aku harus apa?
Grace bertanya pada dirinya sendiri karena bingung.
Apa aku memintanya untuk melepasku saja?
Ya, itu jauh lebih baik
Tapi, bagaimana caraku bicara padanya?
Grace baru teringat kalau dia bisa membaca sekarang.
Aku harus menulis surat!
__ADS_1