
Akash gusar karena mendapati jika Grace sekarang menjauhinya. Tidak ada kebersamaan mereka, Akash merindukan hal itu.
Namun, dia tidak bisa berbuat banyak karena ada Izek yang membelenggu Grace. Bahkan Izek sudah meminta haknya.
Membayangkan Izek yang bercinta dengan Grace, membuat darahnya mendidih. Dia ingin menghubungi para sekutu yang telah dia kumpulkan tapi Akash mengingat janjinya pada Draco untuk tidak membelot.
Harapan satu-satunya adalah menenangkan pertandingan gladiator nanti dan menagih janji Draco.
Akash memukuli samsak sampai samsak itu jatuh di lantai.
"Argghh!" teriaknya kesal.
Sementara Grace yang bersiap-siap tengah kebingungan untuk menutupi bekas percintaannya dengan Izek.
"Saya akan membantu, Nona," ucap Lurika. Dia memakaikan foundation supaya jejak-jejak merah itu tidak terlihat. Dilihat dari banyaknya jejak yang ditinggalkan Izek, sudah dipastikan jika king mafia itu sudah mengklaim Grace sebagai miliknya.
"Lain kali berhati-hatilah, Nona. Jangan sampai kejadian sebelumnya terulang lagi," sambung Lurika memberi peringatan.
Grace semakin merasa bersalah pada pelayan pribadinya itu. Pasti karena dia, Lurika juga ikut terseret dalam masalahnya.
Tak lama kemudian, Izek mendatangi Grace. Seperti yang lelaki itu bilang kalau dia akan membawa Grace pada orang tuanya.
"Apa Grace sudah siap?" tanya Izek.
__ADS_1
"Sudah, King." Lurika menjawab dengan membantu Grace berdiri.
Lurika sudah berhasil menutupi tanda merah di tubuh Grace jadi gadis itu tidak merasa khawatir dan malu lagi dengan penampilannya.
"Kalau begitu, Ayo!" Izek mengulurkan satu tangannya.
Dengan perlahan Grace menerima uluran tangan itu.
Grace tidak berani melihat Izek karena malu dengan kejadian semalam.
"Apa masih sakit, kucing manis?" tanya Izek. Lelaki itu justru kembali mengungkit kejadian semalam, Izek tentu menggoda Grace.
Dan seperti biasa, Izek seperti berbicara sendiri.
Ketika sampai, Grace langsung meremas baju Izek dan seolah ingin bersembunyi di belakang lelaki itu. Badan besar Izek pasti akan menyembunyikan tubuh mungil Grace.
"Tidak apa-apa," bujuk Izek supaya Grace tidak berpikir macam-macam.
Akhirnya mereka duduk, mengingat kata Ellen, Grace berusaha tidak menundukkan wajahnya.
"Aku dengar, kau menghabiskan malam dengan gadis itu," ucap Ellen tanpa basa-basi. "Jadi, itu keputusanmu?"
Izek menganggukkan kepalanya. "Entah butuh waktu berapa lama, aku harap Ibu mempersiapkannya jadi Queen!"
__ADS_1
"Bagaimana kau dengan mudah berbicara seperti itu?" tanya Ellen. "Kau pikir tanggung jawab Queen mudah sementara dia menjaga dirinya sendiri saja tidak bisa!"
"Wanita lemah, cengeng, tidak percaya diri, mudah ditindas, dan masih banyak lagi yang tidak bisa aku sebutkan!"
Entah kenapa mendengar dia direndahkan seperti itu membuat Grace merasakan perasaan tidak enak yang menyesakkan dada, Grace merasa marah.
Kalau biasanya Grace akan menangis, kali ini gadis itu marah. Dan dengan berani Grace menatap Ellen dengan tajam di sana.
"Kenapa?" tantang Ellen yang sadar ditatap seperti itu.
Draco tidak memberi respon apapun karena itu cara Ellen mendidik mental Grace supaya tidak lemah.
"Ibu..." protes Izek. Dia berusaha menengahi.
Baru pertama kali Izek melihat Grace yang seperti itu.
Mereka akhirnya makan bersama, Grace makan begitu banyak seolah tengah mengisi tenaganya.
Grace harus membuktikan pada Ellen bahwa semua yang dikatakan perempuan itu tidaklah benar.
"Kau sepertinya berhasil," komentar Draco.
"Ini hanya permulaan," balas Ellen.
__ADS_1