
Sebelumnya, Izek yang berada di ruangan pribadinya menerima surat dari Grace. Lelaki itu segera membuka surat itu dan membacanya.
Bukan isi surat yang Izek perhatikan melainkan tulisan Grace yang cukup rapi untuk orang yang baru belajar membaca dan menulis.
Izek berpikir sebenarnya Grace itu cepat belajar. Untuk urusan ini, dia akan berterima kasih pada Akash.
"King..." panggil Giel yang masuk ke ruangan. "Ada laporan dari Patrick!"
"Nona Izzy dan lainnya berhasil kabur dari misi kapal pesiar tapi..."
Izek diam saja menunggu Giel selesai bercerita.
"Lawan mereka sekarang adalah tuan Eros dan nyonya Freya," lanjut Giel.
Izek tidak langsung menanggapi tapi dia mencoba menghubungi Ruzel supaya tahu lebih jelasnya.
Beruntung Ruzel langsung menerima panggilan darinya.
"Kami masih belum bisa kembali karena ingin menyelidiki lebih dalam," ucap Ruzel.
"Baiklah, aku tunggu laporanmu dan jaga adikku dengan baik," balas Izek.
Izek kemudian beralih pada Giel lagi. "Aku yakin ada sesuatu jadi teruslah terhubung dengan Patrick!"
"Baik, King," jawab Giel.
__ADS_1
"Bagaimana dengan penginapan tamu?" tanya Izek yang membahas urusan lain.
"Sudah sembilan puluh persen, sebentar lagi akan selesai, King," jawab Giel lagi.
"Dan King Draco serta Queen Ellen ingin berbicara pada anda," sambungnya.
Izek mengangguk kepalanya. "Aku akan berbicara pada mereka nanti. Sekarang aku ada urusan lain!"
Lelaki itu pun pergi meninggalkan ruangan pribadinya. Izek kembali ke kamarnya dan melepas semua pakaiannya, dia kemudian memakai jubahnya yang biasa dia kenakan saat tidur.
Sekarang, waktunya memberi balasan surat untuk Grace.
"Pergilah kalian semua!" Izek meminta Lurika dan penjaga lainnya pergi dari kamar Grace karena malam ini dia akan menghabiskan malam dengan gadis itu.
Dan saat dia mendekat, Grace mengulurkan satu tangannya. Pasti gadis itu ingin meminta surat balasan.
"Kau meminta surat balasan?" tanya Izek.
Grace menganggukkan kepala dan mengangkat lima jarinya. Ah, rasanya Izek sudah lama tidak melihat Grace yang seperti itu, bedanya sekarang Grace tidak memakai gelang loncengnya.
"Sepertinya kau tidak sabar dengan balasannya, ya." Izek semakin dekat dan duduk di sisi ranjang Grace.
Tangan lelaki itu menarik selimut yang menutupi tubuh Grace dan membuangnya ke lantai.
Grace menelan ludahnya, dia gugup karena Izek yang merangkak ke arahnya dan langsung mencium bibirnya.
__ADS_1
Apa ini ciuman perpisahan?
Namun, bukan hanya ciuman, tangan Izek bahkan mulai membuka gaun tidur yang dikenakan Grace.
Panik, hanya itu yang dirasakan Grace sekarang apalagi sekarang gadis itu sudah polos tanpa sehelai benang pun.
"Aku akan membalas isi suratmu jadi simak baik-baik," ucap Izek yang menurunkan ciumannya pada buah dada Grace yang masih sangat ranum.
Tubuh Grace seperti terkena aliran listrik, Izek menyesap buah dada itu dan meremasnya dengan lembut.
Kenapa balasan suratnya seperti ini?
Grace menggeliat seperti cacing kepanasan apalagi saat Izek membuka kedua kakinya dan membenamkan wajah di pangkal pahanya.
Tidakkkk!!! Grace berteriak dalam hatinya, dia sampai menggigit jarinya merasakan Izek bermain di bawah sana.
Rasanya sangat aneh, tubuh Grace memanas dan mengejang beberapa kali.
Menyadari jika wajah Grace sudah memerah bahkan sampai keluar air mata, Izek berhenti dan mencoba menenangkan gadis itu.
"Aku harus melakukannya supaya mengurangi rasa sakitnya," ucap Izek seraya melepas jubahnya sampai tubuhnya polos.
Grace melihat sesuatu yang besar dan panjang di bawah tubuh Izek.
Kenapa itunya berdiri?
__ADS_1