
Grace ingin kembali ke kamarnya secepat mungkin tapi dia masih ditahan oleh Izek, lelaki itu membawanya untuk duduk di kursi taman.
"Mana tanganmu?" pinta Izek.
Karena Grace tak kunjung memberikan tangannya, Izek mengambil sendiri tangan gadis itu kemudian melepas gelang lonceng Grace sebelumnya. Izek menggantinya dengan gelang lain.
"Ini katanya bagus untuk kesehatan," ucap Izek.
Grace memandangi gelang barunya, dia semakin bingung karena perhatian Izek yang seperti ini.
Kemudian dia berdiri dan mencoba berbicara pada Izek dengan bahasa isyaratnya.
Izek mengerutkan keningnya dan mencoba memahami apa yang dikatakan Grace sampai lelaki itu menatap Lurika yang tak jauh dari mereka.
"Nona ingin berbicara pada anda, King. Katanya nona mau menulis surat," ucap Lurika.
Senyum tipis tergambar di wajah Izek sekarang, ternyata kucing manisnya mau mengiriminya surat.
"Baiklah, aku akan menunggu surat itu," ucap Izek kemudian.
Akhirnya Grace pamit undur diri, dia harus segera menulis surat itu supaya bisa secepatnya pergi.
Karena baru saja belajar, kemampuan menulis Grace juga belum terampil, gadis itu berusaha merangkai setiap katanya dengan hati-hati.
Butuh waktu beberapa jam untuk menyelesaikan surat itu.
__ADS_1
"Apa sudah selesai? Saya akan memberikannya pada King," ucap Lurika.
Grace mengangguk dan memberikan surat itu pada pelayannya. Dia berharap Izek akan cepat membalasnya.
...***...
Hari sudah malam, Grace tak kunjung mendapat balasan. Dia jadi tidak bisa tidur karena gelisah.
Apa ada yang salah dengan suratku?
Grace mengingat-ingat lagi isi suratnya tadi siang.
Untuk king Izek
Maafkan saya karena sudah merepotkan semua orang
Jadi, biarkan saya pergi supaya beban king Izek berkurang
Saya tunggu jawabannya
Padahal Grace sudah merasa isi suratnya sudahlah sesopan mungkin. Dia bahkan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan memaki Izek dalam hatinya lagi.
Masih dalam pikirannya itu, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Grace pikir itu adalah Lurika tapi ternyata dia salah.
Grace melihat Izek datang tapi ada yang berbeda, lelaki itu hanya memakai jubah tidurnya saja.
__ADS_1
Apa dia mau memberikan balasan suratnya sendiri?
Jadi, Grace mengulurkan satu tangannya seolah meminta surat balasan.
"Kau meminta surat balasan?" tanya Izek yang seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran gadis itu.
Grace menganggukkan kepala dan mengangkat lima jarinya. Ah, rasanya Izek sudah lama tidak melihat Grace yang seperti itu, bedanya sekarang Grace tidak memakai gelang loncengnya.
"Sepertinya kau tidak sabar dengan balasannya, ya." Izek semakin dekat dan duduk di sisi ranjang Grace.
Tangan lelaki itu menarik selimut yang menutupi tubuh Grace dan membuangnya ke lantai.
Grace menelan ludahnya, dia gugup karena Izek yang merangkak ke arahnya dan langsung mencium bibirnya.
Apa ini ciuman perpisahan?
Namun, bukan hanya ciuman, tangan Izek bahkan mulai membuka gaun tidur yang dikenakan Grace.
Panik, hanya itu yang dirasakan Grace sekarang apalagi sekarang gadis itu sudah polos tanpa sehelai benang pun.
"Aku akan membalas isi suratmu jadi simak baik-baik," ucap Izek yang menurunkan ciumannya pada buah dada Grace yang masih sangat ranum.
Tubuh Grace seperti terkena aliran listrik, Izek menyesap buah dada itu dan meremasnya dengan lembut.
Kenapa balasan suratnya seperti ini?
__ADS_1
Grace menggeliat seperti cacing kepanasan.