SENJA DI HATI MEIRA

SENJA DI HATI MEIRA
Episode 10


__ADS_3

“Teman kamu cantik ya,” ujar Meira, saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.


“Maksud kamu Julia?” Deni melirik Meira.


Meira mengangguk pelan.


“Tapi dia tidak secantik kamu,” jawab Deni, matanya beralih lagi ke jalanan.


“Dari dulu dia memang sudah pandai berdandan ya?” Tanya Meira lagi.


Deni mengangkat bahunya “Entahlah aku tidak pernah memperhatikannya.”


Meira terdiam sejenak.


“Sepertinya dia nggak suka sama aku Den,” ungkap Meira.


“Tapi aku menyukaimu,” jawab Deni.


“Teman-temanku yang lain juga menyukai kamu,” imbuhnya.


“Bagaimana kamu bisa tahu mereka menyukai aku, memang apa yang mereka katakan?” telisik Meira.


“Mana mungkin mereka menggoda kamu, kalau mereka nggak suka sama kamu,” jawab Deni


“Mereka juga bilang, kalau kamu begitu….,” Deni tidak meneruskan kalimatnya, ia memandang Meira sambil menyeringai.


“Begitu apa?” desak Meira


“Begitu apa adanya, menurut mereka kita tampak serasi berdua.” Deni tersenyum.


Meira merasa lega, sebab ini kali pertama ia bertemu dengan teman-teman kuliah Deni, kecuali Reno. Tapi di benak Meira, masih ada yang mengganjal. Banyak yang ingin ia ditanyakan tentang Julia pada Deni.


“Memang hubungan kamu dulu dengan Julia sedekat apa Den?” Tanya Meira hati-hati.


Deni menoleh. “Hubungan seperti apa maksud kamu?” Deni balik bertanya.


“Ya hubungan dalam hal pertemanan misalnya,” sahut Meira


“Biasa aja, kalau dibilang dekat sih nggak juga.” Jawab Deni singkat. Ia seperti tidak suka ditanya-tanya soal Julia.


Meira dan Deni terdiam. Meira bisa mendengar suara mesin, deru ban menggelinding, begitu juga dengan detak jantungnya. Semua terasa begitu senyap di dalam mobil. Meira mengalihkan pandangannya, supaya Deni tidak tahu, kalau Meira memandanginya. Dalam diam hati dan pikirannya masih terusik dengan tingkah Julia tadi. Sepertinya dia ingin menggoda Deni.


“Biar nggak sepi,” Deni menyalakan tape mobilnya.


Terdengar lagu milik Ronan Keating yang berjudul When You Say Nothing At All. Lagu ini favorit Meira, karena lagu ini liriknya romantis dan punya makna yang sangat dalam.


🎶 It’s amazing how you can speak right to my heart



Without saying a word, you can light up the dark*


Try as I may I can never explain*


What I hear when you don’t say a thing*



The smile on your face lets me know that you need me



There’s a truth in your eyes saying you’ll never leave me*


The touch of your hand says you’ll catch me wherever i fall*


You say it best, when you say nothing at all*



All day long I can hear people talking out loud

__ADS_1



But when you hold me near, you drown out the crowd*


Try as they may they could never define*


What’s been said between your hear and mine*



The smile on your face let me know that you need me



There’s a truth in your eyes saying you’ll never leave me*


The touch of your hand says you’ll catch me whereever i fall*


You say it best, when you say nothing at all*



……………


The smile on your face (You say it best)



The truth in your eyes (When you say nothing at all)*


The touch of your hand (You say it best)*


Lets me know that you need me (When you say nothing at all)*



Nothing at all




Lirik lagu When You Say Nothing At All menceritakan tentang seseorang yang sangat peka terhadap pasangannya, meskipun pasangannya tidak mengatakan apapun, ia sudah mengerti apa yang dia rasakan, apa yang dia butuhkan dan apa yang dia katakan.


Terkadang diam adalah cara komunikasi yang terbaik.


“Ya buat apa aku terus menanyai Deni tentang Julia, toh Deni tidak ada apa-apa dengan Julia, kalau memang Julia suka sama Deni ya itu hak dia, karena setiap orang memang punya hak untuk mencintai dan dicintai, dan Deni juga punya hak untuk menolaknya. Meskipun Deni tidak berkata apapun tapi aku tahu kalau orang yang dicintainya adalah aku. Jadi buat apa aku memikirkan Julia. Pada saat ini juga Deni pulang bersamaku” batin Meira. Ia terus diam sambil menenangkan dirinya.


“Ehmmm….” Meira berdehem.


Deni menoleh. “Batuk?” guraunya.


“Tenggorokanku tiba-tiba terasanya gatal,” ujar Meira berbohong.


Deni mengambil permen rasa mint dari saku celananya. Lalu diberikannya pada Meira.


”Ini, biar tenggorokan kamu nggak kering.”


“Makanya ngomong, biar tenggorokanmu nggak gatal, lagi pula nggak ada yang ngelarang,” kata Deni


“Takutnya, kalau ngomong disuruh bayar,” sanggah Meira


“Ya memang harus bayar… tapi bayarnya pakai cinta,” Deni mengangkat alisnya menggoda Meira.


“Ishhhhh….” desis Meira


“Btw, Rudy emang orangnya pendiam ya Den?”


“Iya, dia memang kalem dari dulu, jaman kuliah dia serius belajar, kamarnyapun penuh dengan buku dan diktat, bisa dibilang kamarnya mirip perpustakaan.”


“O ya? Kelihatan sih,”

__ADS_1


“Diantara kami berlima dia yang paling cepat lulus dan paling cepat menikah,”


“Apa?? Rudy sudah menikah?” Meira melebarkan matanya.


“Sudah, tiga tahun yang lalu,” ujar Deni.


“Nggak kelihatan ya kalau sudah nikah, pacarannya sudah lama ya?”


“Nggak pacaran, dia dijodohkan. Rudy mana pernah pacaran, kerjaannya cuma belajar, main bulutangkis, baca buku, udah gitu aja setiap harinya,” terang Deni


‘Bukannya kamu juga gitu?” goda Meira.


“Tapi aku lain Mir,” protes Deni.


“Lain gimana?” Meira terkikik.


“Aku tidak perlu dijodohkan, untuk mencari pasangan,” ujar Deni.


“Terus kalau Ferry?”


“Kalau dia sih pacarnya banyak,”


“Hahhhh….,” Meira membelalak.


“Sebulan sekali dia ganti pacar. Pacaran sudah kayak ganti baju aja, hampir semua teman wanita di kampus pernah jadi pacarnya, tapi nggak ada yang bertahan lama.” Cerita Deni.


“Sekarang juga masih gitu?”


“Seharusnya sih sudah enggak,”


Meira terheran-heran sekaligus geli mendengar cerita Deni tentang teman-temannya.


“Kalau Yohan lain lagi,” lanjut Deni


“Kenapa dia?”


“Sampai sekarang dia masih patah hati,”


“Patah hati sama siapa?”


“Dulu cintanya pernah ditolak sama teman kampus,”


“Trus?”


“Trus sampai sekarang masih belum bisa move on, padahal wanita incarannya itu sudah menikah.”


“Yahhh, kasian sekali,” ujar Meira iba.


“Ya, begitulah, cinta terkadang memamg tidak harus memiliki” ujar Deni


“Mungkin dulu kalau aku kamu tolak, bisa jadi sampai sekarang aku patah hati seperti Yohan,” lanjut Deni


“Ahh…bohong kamu.” Sanggah Meira.


“Beneran, kapan aku pernah bohong sama kamu Mir,”


“Tadi kata Yohan, kamu banyak disukai cewek-cewek.”


“Tapi nggak ada satupun yang aku suka. Selama hidup, satu-satunya wanita yang aku suka, ya cuma kamu.”


Kata-kata Deni membuat Meira tersipu.


“Itu karena kamu belum ketemu sama yang lain aja mungkin,” tukas Meira


“Kalaupun ketemu yang lain, mungkin nggak ada yang aku suka, seperti aku menyukai kamu,” ujar Deni sungguh-sungguh.


Tidak terasa mobil Deni sudah sampai di depan rumah Meira.


Deni mengelus rambut Meira “Lekas masuk Mir, sudah malam,“


Meira mencium pipi Deni “Kamu hati-hati ya,”

__ADS_1


Deni mengangguk, kemudian melambaikan tangannya.


__ADS_2