SENJA DI HATI MEIRA

SENJA DI HATI MEIRA
Episode 8


__ADS_3

Sabtu siang menjelang sore adalah waktu yang sibuk buat Meira. Bagaimana tidak? Meira membutuhkan waktu kurang lebih dua jam untuk luluran, mandi, dan keramas. Setelah itu ia disibukkan dengan memilah-milah baju yang akan dipakainya nanti. Padahal dari beberapa hari yang lalu, ia sudah fix mengenakan gaun yang dibelinya bersama Farah beberapa waktu lalu. Tetapi tidak tahu mengapa siang ini tiba-tiba ia berubah pikiran untuk mencoba yang lain juga. Mungkin saja ada yang lebih cocok.


Meira mengambil beberapa gaun dari dalam lemari dan meletakkannya di atas tempat tidur. Untungnya ia tidak mempunyai banyak gaun pesta, sehingga tidak terlalu bingung untuk menentukan pilihan.


Ia memilih dress pendek berwarna peach, lalu menempelkan di badannya, di depan cermin ia memiringkan badannya ke kiri dan ke kanan, lalu menyipitkan matanya.


“Kependekan dan warnanya terlalu kalem untuk pesta di malam hari.”


Meira mengambil gaun hitam baru miliknya. Gaun itu sudah bersih dan wangi. Meira ingin mencoba gaun itu sekali lagi. Setelah memakainya, ia keluar kamar untuk menemui sang Mama yang sedang menyiram tanaman di teras, untuk meminta pendapat.


“Gaun ini bagus nggak Ma?” tanya Meira.


“Bagus, kelihatan manis kamu Mir” puji Mama.


“Makasih Ma.”


Lalu Meira kembali ke kamar, untuk mematut-matut diri di depan cermin.


“Bagus sih” ujarnya pelan


Tetapi Meira ingin mencoba baju lain sekali lagi. Ia mengambil baju warna mustard sekarang. Setelah memakainya ia kembali menemui Mama yang masih berada di teras.


“Kalau gaun yang ini bagaimana Ma?”


“Yang itu bagus juga.”


“Ok Ma, makasih”


Meira membalikkan badan dan kembali ke kamarnya. Ia baru menyadari betapa pendapat Mama dalam hal pakaian, sama sekali tidak bisa diandalkan. Apa saja yang Meira pakai, Mama selalu menganggapnya bagus. Mama tidak peduli apakah baju yang dipakai Meira itu berwarna merah, kuning, hijau, motif bunga-bunga, atau yang membuat Meira tampak gemuk sekalipun. Kecuali bila gaun itu kependekan, baru Mama akan bilang, “Mir, apa itu tidak terlalu pendek?”


“Hmm.. memang gaun hitam ini yang paling cocok,” gumam Meira.


Ia melihat ke jam dinding di kamarnya.


“Wahhh, sudah hampir jam 17.00,” pekiknya.


Waktunya tadi telah dihabiskan untuk memilih baju, sedangkan ia belum sempat berdandan dan mengatur rambutnya.


Meira mencantok rambutnya, supaya lebih rapi. Setelah itu ia mulai merias wajahnya. Meira memilih lipstik merah bold, lalu memakai eyeliner tipis, maskara dan tidak lupa menempelkan eyeshadow warna emas.


Ia memandangi wajahnya di cermin.


“Lumayan juga hasil riasanku,” ujarnya puas.


Setelah dirasa cukup, Meira turun ke bawah. Ia melihat Mama sedang menyiapkan makan malam.


“Papa belum pulang dari olahraga tenis Ma?”


“Belum”


“Tumben jam segini belum sampai rumah.” Meira merasa khawatir.

__ADS_1


“Papa tadi bilang, mau sekalian mampir ke toko lampu, soalnya lampu kamar mandi belakang mati.” Jelas Mama


“Ohh gitu.”


“Oh ya, Deni jemput kamu jam berapa Mir?” tanya Mama


“Mungkin sebentar lagi Ma, sekarang dia masih dalam perjalanan ke sini”


“Haloo semua”


Papa muncul di ruang makan


“Nahhh.. itu Papa sudah pulang” seru Meira


“Kamu mau keman Mir? Dandanan kamu apa tidak berlebihan ?” Papa heran melihat Meira.


“Papaaa!” pekik Meira


“Meira mau pergi ke pesta pernikahan Pa,” tukas Mama


“Ohh.. Papa kira, mau pergi malam mingguan seperti biasanya.” Papa tertawa


“Papa nih, Mira udah dandan cantik gini, masak nggak tahu kalau ini dandanan ke pesta,” gerutu Meira.


Papa dan Mama saling berpandangan, lalu tertawa.


Tiin…..tiin….


“Nah… dengar itu Mir, kamu sudah dijemput,” kata Papa


Meira mengambil hand bagnya di atas meja.


“Mira berangkat dulu ya Pa, Ma” Meira mencium tangan kedua orangtuanya.


***


Deni begitu terpesona melihat kecantikan Meira saat Meira masuk ke dalam mobilnya. Tatapan matanya memancarkan kekaguman yang teramat dalam.


“Kamu kenapa ngliatin aku seperti itu Den?”


“Aku nggak cocok ya pakai gaun ini?”


“Kalau kamu nggak suka, aku bisa ganti baju yang lain.”


Deni buru-buru menjawab.


“Nggak Mir, nggak usah ganti…justru kamu cocok pakai baju itu, aku suka.”


Meira masih terdiam


“Sungguh….kamu cantik sekali” puji Deni

__ADS_1


Meira bisa merasakan pipinya memerah ketika mendengar dirinya dipuji seperti itu.


“Kamu tahu nggak, selama ini Reno selalu bilang ke teman-teman kuliah, kalau Deni punya pacar cantik sekali.“


Meira terkesiap. “Terus kamu bilang apa sama mereka?”


“Aku bilang, ya jelas lah aku punya pacar cantik, karena aku juga tampan.”


“Narsis kamu ya” Meira terbahak


“Mereka ingin melihat foto kamu, lalu aku tunjukkan foto kamu ke mereka”


“Trus?” Meira ingin tahu.


“Mereka nggak percaya, mereka bilang aku bohong, mereka juga menuding aku mengambil foto kamu dari sosial media milik orang lain.”


“O ya?” Tawa Meira tertahan.


“Iya” Deni mengangguk


“Mereka minta bukti kalau foto yang ada di dalam handphoneku itu adalah pacarku.”


“Hahh….” Meira masih ternganga


“Dan sekarang waktuku untuk membuktikan pada mereka kalau aku bener-bener punya pacar yang sangat cantik.” Ujar Deni bangga.


Meira menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa geli.


“Ada-ada saja ya teman-teman kamu”


“Tapi bagaimana bisa, mereka tidak percaya kalau kamu punya pacar?”


Deni mengangkat bahunya. “Entahlah.”


“Mungkin karena dari dulu aku terlalu sulit untuk dekat dengan wanita,” Deni tersenyum tipis


“Cuma kamu yang bisa menaklukkan aku,” Deni menoleh lalu mengedipkan matanya.


Meira tersenyum menatap Deni.


Deni meraih tangan Meira dan menggegamnya.


“Dulu aku tidak mengerti arti kegelisahan. Aku merasa bahwa kegelisahan itu adalah suatu emosi yang tidak penting. Namun kini aku mengerti bahwa seseorang merasa gelisah karena dia bahagia. Sama seperti ketika aku mengenalmu, perasaan gelisah itu muncul karena ada rasa kangen, ada keinginan yang kuat untuk bertemu, ngobrol atau sekedar memperhatikan kamu dari jauh. Dan di saat itu aku menyadari kalau aku sedang jatuh cinta.”


Deni mengecup punggung tangan Meira.


“Tapi kenapa kamu bisa suka dan kemudian jatuh cinta sama aku, sedangkan banyak wanita cantik di luar sana?” Tanya Meira.


“Karena kamu begitu spesial. Ketulusan dan kerendahan hati kamu serta dirimu yang apa adanya itulah yang membuat aku jatuh cinta sama kamu. Kecantikan tidak melulu soal fisik karena kecantikan fisik sejatinya akan memudar seiring berjalannya waktu. Ada yang lebih abadi dari itu yaitu kecantikan dari dalam. Orang yang cantik secara fisik itu banyak, tetapi tidak semua bisa memancarkan kecantikan dari dalam, dan kamu memiliki keduanya Mir, kecantikan fisik dan kecantikan dari dalam.”


Menurut Meira, Deni juga laki-laki yang sangat spesial, selain memiliki wajah yang rupawan, Deni juga selalu ada saat ia membutuhkannya. Deni mencintainya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Karena itulah cinta Meira pada Deni begitu mendalam.

__ADS_1


Meira menggeser duduknya, agar lebih dekat dengan Deni, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Deni.


__ADS_2