
Perjalanan pulang dari House Garden, mereka terjebak macet yang cukup panjang. Entah apa yang menyebabkan kemacetan itu, sudah hampir satu jam mobil mereka stuck.
Deni mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
“Haduhh…macetnya parah banget, tidak kelihatan apa yang menyebabkan macet” gerutu Deni
“Kendaran di belakang kita juga macet panjang, sampai tidak kelihatan ujungnya” timpal Meira
“Mungkin karena malam minggu, jadi volume kendaraan meningkat” ujar Deni
Meira mengangguk “Bisa jadi, atau ada truk yang macet di tengah jalan.”
“Membosankan sekali” ujar Deni kesal
Meira menoleh ke arah Deni yang sedang menyandarkan kepalanya di kursi mobil, dengan kedua tangan yang diletakkan di belakang kepala. Wajahnya terlihat lelah.
“Kalau kamu capek, biar aku yang gantiin Den, kamu istirahat aja.” Meira menawarkan.
“Nggak usah Mir.” Deni mengelus pipi Meira.
Di saluran radio sedang diputar full lagu-lagu barat lawas. Meira mendengarkan dengan seksama lagu yang sedang diputar.
🎶Would you know my name
If i saw you in heaven?
Would it be the same
If i saw you in heaven..🎶
“Tebak ini lagu apa, dan siapa yang nyanyi?” Tanya Meira
“Gampang” jawab Deni cepat
“Tears In Heaven, penyanyinya Eric Clapton” tebak Deni yakin
“Benerrr” jawab Meira sambil bertepuk tangan
“Satu kosong buat aku ya… habis ini kamu yang tebak” kata Deni
Meira setuju
🎶..Till now alaways got by on my own
I never really carred until i met you
And now it chills me to the bone
How do i get you alone..🎶
“Coba tebak apa judulnya Mir?” Giliran Deni yang memberi pertanyaan
“Alone.. penyanyinya Heart” jawab Meira dengan santai
Deni mengangguk “Skor jadi satu sama ya”
“Oke sekarang giliran kamu” ujar Meira ketika mendengar lagu selanjutnya
🎶You shouldn’t hesitate that my feelings for you
I’ll prove it si many times in different ways to you
I hold you somewhere deep inside you know that i love you..🎶
“Aku langsung jawab ya… Judulnya lagu Hey.. penyanyinya…tunggu sebentar” ujar Deni sambil berpikir
Lalu ia menirukan sang penyanyi.
🎶I say hey, hey
I love you ‘till the morning comes
I say hey, hey
I’ll kiss you in the morning sun🎶
__ADS_1
“Ayoo, siapa?” buru Meira
Sejenak Deni terdiam,.
“Ayo.. ayo… satu…dua…” seru Meira.
Deni tersenyum ceria. “Fatima” serunya
Meira mengangguk. “Ya betul.”
“Oke lagu selanjutnya sekarang” ujar Deni
🎶We don’t need to talk abaut it anymore
Yesterday’s just a memory,can we close the door?
I just made one mistake
I didn’t know just to do when you fall me baby
Don’t say goodbye, stay you’re gonna stay forever..🎶
Meira tampak berpikir keras, ia menyipitkan matanya dan menggigit bibirnya. Lagu ini terasa asing di telinganya. Ia belum pernah mendengarnya sama sekali.
“Ayo Mir, tebak apa judul lagunya?” tuntut Deni
Meira menggelengkan kepala.
“Jangan nyerah gitu dong” Deni memberi semangat.
“Aku benar-benar nggak tahu lagu ini.” ujar Meira.
“Bener, kamu nyerah?” tanya Deni
Meira mengangguk pasrah.
Deni mengangkat alisnya “Judulnya High enough, penyanyinya Damn Yankess”
“Wowww… Pengetahuan kamu soal musik, boleh juga Den” puji Meira
“Kalau begitu, sekarang skornya jadi 2-1 untuk aku ya” lanjut Deni
“Oke” Meira mengangguk.
“Sekarang kamu yang tebak Mir” kata Deni lagi
“Lho sekarang kan giliran kamu” Meira mengingatkan
“Kamu sekali lagi, supaya skor kita sama.” ujar Deni
“Baiklah” jawab Meira
🎶If you never say goodbye to the best things in your life
There are things you don’t appreciate at all
So it’s best that you don’t try
Holding back the tide…🎶
“Aku tahu” seru Meira senang
“Apa?” tanya Deni
“Judul lagunya Poscard from Heaven, yang nyanyi Lighthouse Family” tebak Meira
“Iyakk betul, jadi dua sama sekarang” ujar Deni
“Giliran kamu lagi” ujar Meira
🎶You and must make a pact
We must bring salvation back
Where there is love. I’ll be there (l’ll be there
__ADS_1
I’ll reach out my hand to you..🎶
“Nggak usah pakai mikirlah kalau lagu ini” Deni tersenyum yakin
“I’ll Be There dari Jackson Five” jawab Deni
Meira mengangguk-angguk. “Jadi 3-2 sekarang”
“Kalau gitu aku kasih satu poin aku buat kamu, jadi kamu tiga aku yang dua” ujar Deni mengalah
“Ah nggak usah, aku aja yang dua” sergah Meira
“Aku aja” jawab Deni
“Nggak aku aja” kata Meira
“Ya sudah gini aja, biar adil aku bagi kamu setengah, jadi skor kamu dua setengah, akupun sama dua setengah.” Kata Deni
“Nah….kalau gitu baru boleh” sahut Meira
“Penting banget ya kita meributkan hal seperti ini” kata Deni tertawa geli.
“Iya, dan lucunya kita seneng banget, karena “masalah terbesar” sejagad universe telah terpecahkan.” Meira terbahak
“Kalau perlu berita membahagiakan ini nanti, mau aku kabarkan ke Leonardo Da Vinci?” garau Deni
“Kenapa nggak sekalian aja kamu kabarkan ke bapak ibunya Clark Kent di planet Krypton” canda Meira
Keduanya masih tertawa-tawa sambil bercanda.
“Lihat mobil di depan kita sudah mulai jalan Den” tunjuk Meira ke depan
“Syukurlah akhirnya jalan juga” ujar Deni lega
“Sudah berapa lama kita stuck di sini ya Mir?” tanya Deni sambil melihat jam tangannya
“Dua jam lebih, tadi dari jam 21.00 sekarang jam 23.15” jawab Meira
“Aku kira kita bakalan sampai pagi di sini” ujar Deni
“Aku kira juga begitu” jawab Meira
Mobil mereka berjalan perlahan-lahan.
Ponsel Deni tiba-tiba berbunyi. Meira melihat Deni ragu-ragu mengangkat telepon, ia hanya melihatnya lalu diletakkannya lagi ponsel itu.
“Dari siapa Den, kenapa nggak diangkat?” Tanya Meira
“Julia” jawab Deni. Matanya tetap lurus memandang ke jalan.
Jantung Meira seakan berhenti berdetak dan nafasnya terasa sesak.
“Julia, mau apa lagi dia” gumam Meira
Ponsel Deni kembali berbunyi.
“Angkat saja Den” saran Meira
Deni mengangkat telepon dan menyalakan speaker pada ponselnya supaya Meira juga dapat mendengarnya.
“Halo Den, kamu gimana sih, kok nggak datang ke acaraku” cerocos Julia dari seberang sana.
“Maaf Lia, aku belum sempat memberitahu kamu kalau aku ada acara lain” jawab Deni
“Acara lain? Acara lain apa?” tuntut Julia
“Aku sudah ada janji dengan seseorang.” Deni menoleh ke Meira
“Meira?” Tebak Julia dengan nada tinggi
“Ya” jawab Deni
“Hah dia lagi” suara Julia terdengar kesal.
“Maaf Lia, aku masih di jalan, masih nyetir” Deni beralasan
__ADS_1
Seakan tahu maksud Deni, Julia langsung menjawab “Ya aku tahu, maaf mengganggu”. Lalu ia menutup teleponnya.