SENJA DI HATI MEIRA

SENJA DI HATI MEIRA
Episode 33


__ADS_3

Meira sudah selesai berbicara dengan Farah, ketika Deni bangun dari tidurnya.


“Jam berapa ini Mir?"


“Jam setengah lima.” Jawab Meira


“Owh, sudah sore rupanya.” Ujar Deni.


“Kamu pules banget sih tidurnya, sampai ngorok-ngorok gitu,” gurau Meira


“Soalnya ada kamu ya nemenin,” goda Deni sambil beranjak dari sofa dan mengacak rambut Meira.


Deni melangkah ke dapur. Ia membuka kulkas lalu menyobek karton susu, dan langsung meneguknya.


Meira masih duduk di posisi yang sama.


“Aku mandi dulu ya Mir, setelah itu aku antar kamu pulang.” Janji Deni.


Meira mengangguk.


Sambil menunggu Deni, Meira menyalakan televisi. Niatnya ingin menonton acara televisi, namun kenyataannya ia malah asik melamun. Terkadang tanpa disadari ia pun tersenyum-senyum sendiri.


la membayangkan kelak kalau dia menikah dengan Deni, ia akan tinggal di rumah ini, dan akan menghabiskan waktu bersamanya. Ia bisa melihat wajah Deni ketika bangun tidur, lalu membuatkannya kopi dan sarapan. Sepulangnya dari kantor, ia akan mencuci pakaian Deni, dan menyiapkan makan malam untuknya.


Sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunan Meira. Tanpa menunggu ketukan selanjutnya, ia bergegas membukanya.


“Selamat sore.” Terdengar suara sapaan ketika Meira membuka pintu.


“Sore!” Balas Meira dengan agak terkejut.


Ia masih belum begitu percaya kalau orang di hadapannya adalah Julia.


“Perkenalkan saya tetangga baru di sini.” Julia tersenyum sinis.


“Jadi, yang pindahan yang itu Julia.” Batin Meira.


“Kenapa Mir, kok kamu sepertinya tidak senang?” Ujar Julia meledek.


Deni muncul dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang masih basah dengan handuk.


“Ada siapa Mir?” Tanyanya.


Belum sempat Meira menjawab, Julia menyeletuk, “Ada aku, tetangga barumu.”


Deni tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


“Kamu?” Tanyanya kemudian.

__ADS_1


“Ya aku.” Julia meyakinkan.


Meira dan Deni saling berpandangan. Mereka tidak habis pikir, Julia begitu nekat. Setelah ia tidak berhasil mendekati Deni, kini ia mendekati rumahnya.


“Jadi begini ya cara kalian memperlakukan tamu,” sindir Julia.


Tanpa berpikir panjang, Deni mempersilahkan Julia masuk ke dalam rumahnya.


Meira mendekat ke Deni. Ia menggigit bibir bawahnya tanda cemas dan takut.


“Nggak usah takut, aku di sini.” Bisik Deni sambil menggandeng tangan Meira.


“Rumah tinggal kamu terlalu kecil Den.” Komentar Julia sambil menyusuri rumah Deni.


“Besar atau kecil, itu bukan urusanmu.” Sahut Deni.


Julia menoleh ke Deni.


“Suatu saat bisa jadi urusanku.” Ujar Julia.


Deg..!


Hati Meira bagai tersambar petir. Bagaimana bisa Julia berucap seperti itu di depannya, Meira begitu geram karena Julia terlalu percaya diri.


Julia terus meneliti setiap ruang di rumah Deni sambil sesekali mengkritik.


“Kamu seharusnya bisa membantu Deni menata rumah ini Mir, kamu kan perempuan, masak tidak bisa menata rumah.” Julia menuding Meira.


Meira dan Deni kembali saling berpandangan. Mulut mereka seakan terkunci. Mereka seperti tidak mampu berkata-kata, melihat tingkah aneh Julia, yang berlagak seperti pemilik rumah. Meira dan Deni terus bertahan supaya tidak memancing keributan, padahal kalau boleh jujur, mereka sama-sama sudah hilang kesabaran. Hanya saja mereka malu dengan tetangga sekitar kalau sampai terjadi keributan di rumah Deni.


Untuk saat ini, sebisa mungkin mereka berusaha untuk tetap diam dan bersabar menghadapi Julia. Namun tidak lama, sepertinya Deni mulai merasa jengah dengan tingkah Julia.


“Lia, maaf, aku harus mengantar Meira pulang,” ujar Deni berusaha sopan.


“Maksud kamu?” Tanya Julia dengan mata menyipit.


“Sekarang, aku mau antar Mira pulang!” Ulang Deni.


“Jadi kamu ngusir aku?” Tanya Julia dengan nada tinggi.


“Terserah apa persepsi kamu,” jawab Deni geram.


“Kalian benar-benar tidak sopan dengan tamu.” Ketus Julia.


Deni berusaha menahan amarahnya, sampai akhirnya Julia benar-benar keluar dari rumah Deni.


**********

__ADS_1


“Aku sungguh tidak habis pikir Mir,” kata Deni sambil menghempaskan dirinya ke sofa.


Meira mengikuti duduk di samping Deni. Badannya terasa lemas. “Akupun juga tidak habis pikir,” sahut Meira dengan suara lemah.


“Dia benar-benar agresif,” ujar Deni geram.


“Yang buat aku heran dia bertingkah seperti pemilik rumah ini, mengatur dan mengkritik seenaknya.” Timpal Meira.


“Ya…Orang itu benar-benar aneh.” Cetus Deni.


“Aku tidak bisa memahaminya.” lanjutnya.


Meira dan Deni merasa begitu lelah, padahal mereka tidak sedang melakukan pekerjaan berat. Bertemu dan berbicara dengan Julia memang sungguh menguras emosi dan energi. Lelahnya melebihi mendorong mobil mobil yang sedang mogok.


Terdengar Deni menghela nafasnya, lalu beranjak dari sofa tempatnya duduk untuk mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja tivi.


“Yuk Mir, aku antar kamu pulang sekarang.” Ujar Deni.


Meira beranjak berdiri tanpa suara, ada kekhawatiran mendalam terlukis di wajahnya.


Deni mendekati Meira lalu berdiri di hadapannya, kedua tangannya membingkai wajah Meira.


“Sudah tidak usah kamu pikirkan lagi tentang Julia, tidak ada gunanya. Kita nikmati saja cinta kita.” Kata Deni seraya mengecup bibir Meira.


“Tapi sekarang, rumah dia di dekat sini Den,” ujar Meira khawatir.


“Setiap hari, aku berada di kantor dari pagi sampai malam, hari Sabtu pagi aku bermain futsal, setelah itu aku bersamamu, dan di hari Minggu aku juga habiskan waktu bersama kamu, jadi aku tidak punya banyak waktu di rumah ini, aku pulang ke rumah hanya untuk istirahat dan tidur.“ Jelas Deni


“Sebelum tidurpun aku hanya punya waktu untuk memikirkan kamu, tidak memikirkan yang lain. Kamu tahu kan bagaimana kamu sudah merampas waktuku.” Gombal Deni.


Meira tersipu malu.


“Tapi kamu tahu kan, dia orangnya sangat nekat.” Meira kembali cemas.


“Biarkan saja, ini kan rumahku, kalaupun dia datang ke sini aku punya hak untuk tidak membukakannya pintu.”


Meira menghela nafas.


“Sudah kamu tenang aja, aku tetap merasa nyaman bersamamu.” ujar Deni sambil mengelus pipi mulus Meira.


Meira tersenyum lalu memeluk laki-laki di hadapannya. Sungguh Meira sangat takut kehilangan Deni, begitupun sebaliknya.


*********


Kaki Meira terasa penat ketika menaiki tangga di rumahnya satu per satu. Dibukanya pintu kamarnya yang memang tidak pernah terkunci, dilemparnya tasnya ke atas kursi, lalu dibantingnya dirinya di atas tempat tidur. Matanya dipejamkannya. Ia berusaha untuk tidak memikirkan apa-apa, namun tanpa disengaja otaknya terus berputar.


Julia benar-benar membuat hati Meira dilanda kegalauan. Usahanya untuk mendekati Deni tidak pernah sirna, malah semakin menjadi. Seakan dia sudah menggadaikan semua rasa malunya. Dan kini Julia tinggal di dekat rumah Deni. Dia bisa kapan saja mendatangi rumah Deni. Bagaimana kalau akhirnya Deni membukakan pintu untuknya? Lalu apa yang akan mereka lakukan kalau tidak ada aku? Akankah Deni bicara jujur padaku?

__ADS_1


“Ohh…tidak!” Meira menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia begitu cemas dan khawatir.


__ADS_2