SENJA DI HATI MEIRA

SENJA DI HATI MEIRA
Episode 19


__ADS_3

Meira menahan nafas. Ia melihat wajah Deni yang sepertinya merasa tidak nyaman setelah ditelepon oleh Julia. Walaupun suasana hatinya sedang tidak baik, Deni tetap terlihat tampan dan sangat menarik. Dengan mata terpejam Meira membiarkan dirinya terlibat di pusaran lamunan yang indah-indah. Untuk beberapa saat, perasaannya menjadi nyaman, denyut jantungnya mulai teratur dan pelan-pelan ia bisa mulai bertanya pada Deni


“Sebenarnya ada hubungan apa antara kamu sama Julia, Den?” Tanya Meira pelan


“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia, Mir.” Jawab Deni tegas.


“Tapi kenapa dia merasa seperti punya hubungan dekat dengan kamu?” Desak Meira


“Hubungan dekat seperti apa? Aku sendiri tidak pernah merasa dekat dengannya, bisa jadi itu cuma perasaan kamu saja.” Jawab Deni


“Aku merasa dia ingin sekali, kamu selalu ada buat dia,” cetus Meira


Deni menarik nafas panjang.


“Sejujurnya aku malas membahas soal Julia, tapi aku pikir, kamu memang harus tahu soal ini, biar tidak terjadi kesalahpahaman.” Tegas Deni


“Sejak kuliah tingkat satu aku satu kelasnya dengannya.” Deni memulai ceritanya.


“Dan entah mengapa dia selalu ingin dekat denganku. Aku pikir mungkin dia menyukaiku.” Lanjut Deni.


Deg..!!


Jantung Meira serasa berhenti sejenak. Ternyata benar kecurigaannya selama ini. Julia memang menaruh hati pada Deni.


“Lalu kamu memberi harapan padanya?” Tanya Meira


Deni menoleh memandang Meira. “Tidak sama sekali.”


“Tapi kenapa dia terus mengejarmu seperti ini?” Desak Meira


“Aku juga tidak tahu, semakin aku menghindarinya dia semakin terus mendekatiku.” ujar Deni kesal

__ADS_1


Meira menghela nafas. Hatinya mulai tersulut api cemburu.


“Sungguh tidak masuk akal memang. Tapi begitulah kenyataannya.” Ungkap Deni


“Dia pernah menyatakan perasaannya padamu?” Selidik Meira.


Deni menggeleng.


“Paling tidak, kamu harus bisa bersikap lebih tegas Den, supaya dia tidak terus berharap sama kamu.” Ujar Meira.


“Kurang tegas apa aku Mir?”


Meira terdiam.


Deni memang selalu bersikap tegas pada Julia, tapi Julia tetap tidak peduli, itu yang membuat Meira agak kesal.


“Setiap kali dia menelepon, aku tidak pernah mengangkatnya, baru tadi aku mengangkat teleponnya karena kamu yang memintanya, pesan dari dia juga jarang sekali aku balas, kalau dia mengajak jalan aku selalu menolaknya, sampai-sampai ulang tahunnya pun aku tidak mau datang, tapi entah mengapa dia tidak pernah menyerah.” Ujar Deni agak emosi.


“Karena dia baru mendapatkan nomorku lagu” ujar Deni


“Setelah lulus kuliah, dia melanjutkan kuliah S2nya ke luar negeri Mir, dalam hal akademik, dia memang tidak diragukan. Hampir di setiap mata kuliah dia mendapatkan nilai yang sempurna. Tidak heran kalau dia mendapatkan bea siswa ke luar keluar negeri. Setelah dia kuliah ke luar negeri, aku kemudian mengganti nomorku dengan harapan dia tidak bisa menghubungiku lagi. Seringkali dia bertanya pada Reno, Ferry. Yohan atau Rudy, menanyakan kenapa nomorku tidak aktif. Teman-temanku bilang kalau mereka juga tidak bisa menghubungi aku. Awalnya Julia masih tidak percaya dan terus menerus menanyakan pada mereka, sampai pada akhirnya ia menyerah juga. Aku baru bisa merasa lega ketika teman-temanku bilang kalau sepertinya Julia sudah mulai menyerah, karena dia telah berhenti meneror mereka. Sampai pada akhirnya dia menamatkan studinya dan kembali ke tanah air, lalu bertemu dengan Fani temanku yang menikah beberapa waktu yang lalu itu Mir. Bukan Julia namanya kalau ia tidak berusaha menanyakan tentangku pada Fani. Fani pun memberikan nomor ponselku padanya. Saat itulah dia mulai gencar menghubungi lagi.” Deni bercerita panjang lebar.


Hati Meira semakin gundah. Jadi selama ini, meskipun cintanya bertepuk sebelah tangan, Julia masih berusaha keras untuk mendekati Deni. Bayangkan saja dari jaman kuliah sampai sekarang bukanlah waktu yang singkat. Apakah di hatinya hanya ada Deni?Ada apa sebenarnya dengan Julia? Bagaimana kalau ia terobsesi pada Deni?


Meira mencoba menenangkan hatinya yang galau.


“Kenapa kamu tidak bilang kalau selama ini Julia sering menghubungi kamu?” Desak Meira


Deni menoleh sebentar. “Aku tidak mau kamu salah paham dan aku juga tidak mau menyakitimu Mir” ucap Deni. Kemudian ia kembali menatap jalanan yang sudah mulai lancar.


“Apakah waktu kuliah kalian suka jalan bareng?” tanya Meira ragu. Ia akan takut sakit hati jika jawaban Deni ya. Dan benar saja Deni mengangguk, membuat hatinya terasa sakit seperti tertusuk jarum.

__ADS_1


“Tapi itu tidak seperti yang kamu kira Mir” kata Deni kemudian


“Aku hanya sebatas mengantarnya pulang kuliah saat dia meminta tolong padaku untuk mengantarkannya pulang, dan pernah sekali aku mengantarkannya ke toko buku, selebihnya aku tidak pernah pergi kemana-mana dengannya.” lanjut Deni


“Apakah kamu tidak pernah tertarik padanya sama sekali? Toh dia cantik, menarik, pintar lagi.” Ujar Meira


“Budi pekerti yang baik serta cinta yang tulus jauh lebih berarti daripada kecantikan yang hampa” Deni meyakinkan Meira.


Mobil Deni sudah sampai di depan rumah Meira.


Meira mengangkat mukanya pelan-pelan, lalu menatap Deni dengan tenang. Deni membalas menatap Meira. Suasana hening tercipta cukup lama, seakan kedua belah pihak tengah berusaha untuk memulai percakapan. Meira menahan nafas saat tangan Deni menyentuh pipinya, dan tahu-tahu wajahnya sudah ada dalam rangkuman kedua tangan Deni. Kemudian Deni mendekatkan wajahnya ke wajah Meira. Mata Deni begitu indah. Bibirnya begitu menawan. Wajahnya begitu tampan. Wanita mana yang tidak jatuh hati pada Deni.


“Kamu ingin tahu tentang siapa Julia, aku sudah memberitahumu, sekarang apalagi yang ingin kamu tanyakan?” Deni memulai pembicaraan.


Meira masih terpaku, seakan tidak sanggup membuka mulutnya, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


“Kalau begitu sekarang aku boleh meminta tolong padamu?” Tanya Deni


“Tentu saja, katakanlah” ucap Meira


“Tolong sekarang kamu masuk rumah dan langsung tidur, ini sudah larut malam, dan aku mohon jangan berpikir yang aneh-aneh” pinta Deni


“Aneh-aneh apa?” Meira pura-pura tidak mengerti maksud Deni


“Tentang perasaanku pada Julia” tukas Deni


Meira tersenyum sendu sambil mengangguk.


Sebelum Meira turun dari mobil, Deni mencium bibirnya dengan lembut.


Meira tidak tahu harus menangis atau tertawa. Ia memandangi ikan-ikan di aquarium milik Papa. Ikan-ikan itu kelihatan bahagia. Mereka berenang kesana kemari. Mungkin karena hidup mereka sederhana, walaupun monoton. Mereka tidak mempunyai keinginan apa-apa, tidak merancang cita-cita setinggi langit seperti dirinya. Jadi mereka tidak sampai terlibat benang-benang kusut yang penuh cemburu dan membingungkan. Sesuatu dalam dirinya terasa bergetar demikian kerasnya. Ia menahan air matanya yang hampir jatuh. Di sisi lain ia merasa bahagia karena Deni dengan tegas memilihnya daripada Julia. Akan tetapi bagi Meira, Julia adalah wanita yang harus selalu diwaspadai. Dia tidak pernah berhenti berusaha untuk mendapatkan Deni.

__ADS_1


__ADS_2