
Meira dan Farah masih asik berbincang di restoran Padang sore itu, sambil menikmati nasi padang dengan lauk favorit mereka masing-masing, Julia masih menjadi topik utama dalam percakapan mereka.
“Berbicara dengan Julia membuat energiku benar-benar habis terkuras Mir” ujar Farah sambil melahap makanannya.
“Iya.. aku juga merasa seperti habis olahraga berat…makanya jadi lapar.” sahut Meira
“Ehh..tapi kamu percaya nggak Mir, sama apa yang dibilang Julia tadi?” Tanya Farah
Meira menggelang. “Deni sudah ceritakan semuanya Far.”
“Aku juga sama sekali tidak percaya…apalagi waktu dia bilang banyak teman wanita yang iri padanya karena dia bisa dekat dengan Deni, perutku langsung mual.” ujar Farah sambil terkekeh.
“Apa yang dia bilang sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan, banyakan bohongnya…mungkin maksud dia ngomong seperti itu supaya aku cemburu dan terpancing emosi.” ujar Meira.
“Iya..dan syukurlah kamu tidak mudah terpancing, aku lihat kamu begitu tenang tadi” kata Farah.
“Lagi pula mana ada yang orang yang iri sama dia, adanya dia yang iri sama kamu Mir” ucap Farah
Gaya tangan Meira yang sedang memegang sendok di udara, sesaat terhenti.
“Iri…?” Meira melebarkan matanya
“Iya iri….kamu nggak lihat gimana tadi ekspresi wajahnya?” tanya Farah.
“Aku tidak sempat mengamati wajahnya tadi, yang aku pikirkan cuma ingin mengguyur wajahnya dengan teh tarikku” Meira terbahak
“Akupun ingin menutup mulutnya dengan sambal hijau ini Mir, supaya dia berhenti bicara.” Farah menimpalinya sambil menunjuk sambal hijau di atas piringnya.
“Ada ya ternyata orang seperti Julia, kirain cuma ada di sinetron” ucap Meira
“Seperti yang baru saja kamu lihat…Memang nyatanya ada Mir…” sahut Farah
“Urat malunya benar-benar sudah putus, dia tidak punya rasa malu sama sekali” sambung Farah.
Meira terdiam untuk beberapa saat.
”Kalau dipikir, Julia itu berpendidikan tinggi, secara akademis juga tidak diragukan lagi kecerdasannya, secara fisik dia cantik, secara materi juga lebih dari cukup. Dia memiliki segalanya, tapi kenapa tingkah lakunya tidak mencerminkan kalau dia memiliki semuanya itu.” Ucap Meira kemudian.
“Semua itu tidak menjamin sih Mir, tergantung dari kepribadian masing-masing individu.” Kata Farah
“Ya…” Meira mengangguk.
“Yang ada di otaknya cuma Deni, Deni dan Deni…” Farah tertawa kecil.
__ADS_1
“Heran kayak nggak ada laki-laki lain aja, dia kan tahu Deni sudah punya pacar.” lanjutnya
Meira mengangkat bahunya. “Entahlah…akupun juga nggak habis pikir, baru kali ini aku bertemu orang seperti itu” ujar Meira sambil mengunyah kerupuk kulitnya.
“Ternyata dia memang mengerikan sekali…pantas saja kamu pernah ngiggau menyebut namanya, waktu ketiduran di kostanku.” ucap Farah
Meira menahan tawanya. Ia teringat beberapa waktu yang lalu dirinya pernah membayangkan Julia menjadi hantu.
***
Malam kian larut, Julia masih berdiri di balkon apartemennya. Ia melihat sekitar dengan tatapan mata kosong. Hembusan angin malam sesekali menerpa wajahnya, tapi ia tak menghiraukannya.
Tidak mudah baginya untuk menerima apa yang diceritakan Farah tadi sore. Kata-kata Farah membuat hatinya seperti tersambar petir. Deni yang dulu ia kenal, kini sudah berubah. Perhatiannya kini tercurah penuh pada Meira.
Mata Julia berkaca-kaca, tak lama kemudian bulir-bulir air mata itu jatuh di pipinya.
“Menyedihkan sekali kamu Julia, orang yang kamu cintai ternyata mencintai orang lain.” Ia terisak.
”Dari dulu aku selalu mendapatkan apa yang aku mau, tapi untuk mendapatkan Deni, aku harus terus menerus berjuang, namun berkali-kali aku menelan kekecewaan serta menanggung malu.” Julia masih terisak.
Julia mendudukkan dirinya di kursi balkon untuk menahan diri supaya tidak jatuh. Badannya sedikit lemah karena ia terus menerus menangis.
“Selama ini Deni, tidak pernah mencintaiku. Aku tahu itu, dan bodohnya aku terus mengharapkannya. Tapi aku tidak bisa melawan rasa ini, semakin aku ingin melupakan Deni, rasa itu menjadi semakin kuat. Aku benar-benar sedang terjebak dalam situasi yang rumit.” Rintih Julia. Air matanya semakin deras membasahi pipinya.
“Mungkinkah Deni benar-benar mencintai Meira? atau dia bersama Meira hanya untuk pelarian saja, karena harus berpisah denganku saat aku melanjutkan study ke keluar negeri.” tiba-tiba Julia merasa optimis.
“Ya..ya…ya…bisa jadi itu” ia mengangguk-angguk sambil tersenyum penuh arti.
🌞🌞🌞
Siang hari Julia akan bertemu dengan Reno sahabat Deni dari kuliah. Julia menunggu di sebuah restoran yang telah ia sepakati bersama Reno tadi pagi.
“Hai Lia…maaf membuatmu menunggu agak lama…masih ada pekerjaan yang aku harus selesaikan tadi..nanggung kalau nggak sekalian” ujar Reno meminta maaf.
“Tidak masalah” Julia menggelang sambil tersenyum
Setelah mereka basi basi menanyakan kabar dan pekerjaan masing-masing, Reno mulai bertanya pada Julia.
”Hal penting apa yang mau kamu bicarakan Lia?”
Julia menoleh sebentar keluar jendela, menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya pelan-pelan.
“Apakah kamu mau menjawab pertanyaanku dengan jujur?” Tanya Julia
__ADS_1
Reno mengerutkan keningnya. “Kalau aku bisa jawab, tentunya akan aku jawab dengan jujur”
“Baiklah kalau begitu…” ujar Julia
“Apa yang Deni bicarakan saat bertemu denganmu?” Tanya Julia
“Paling sering sih masalah pekerjaan” jawab Reno
“Memangnya ada apa?” Reno balik bertanya.
“Dia nggak pernah cerita masalah pribadi?”
“Masalah pribadi seperti apa Lia?”
“Tentang seseorang yang ia sukai misalnya?”
Dengan cepat Reno menyahut “Tentang Meira maksudnya?”
Julia mengangguk.
“Ohhh…kalau soal Meira dia sering cerita. Dia belum pernah menemukan gadis seperti Meira katanya waktu itu. Hanya Meira yang bisa membuatnya jatuh cinta. Tentu saja Deni sangat menyukai Meira, karena menurutku dia gadis yang baik dan ramah. Fika pacarku juga sangat menyukai Meira. Mereka bisa langsung akrab saat pertama kali bertemu.” Cerita Reno.
“Begitu besarkah cinta Deni pada Meira?” Tanya Julia dengan senyum yang dipaksakan.
“Kalau itu sih sebaiknya kamu tanyakan saja ke Deni langsung,” jawab Reno.
“Tapi menurut pengamatanku Deni sangat mencintai Mira. Selama ini aku belum pernah melihat Deni dekat dengan wanita, kecuali Meira,” lanjut Reno
“Dulu waktu kuliah kan Deni dekat sama aku,” tepis Julia
“Ohh…iya..ya..” jawab Reno pelan. Reno hampir lupa kalau Julia suka dengan Deni. Reno tersadar kalau Julia sedang menyelidiki Deni lewat dirinya.
“Apakah Deni tidak pernah bercerita tentangku?” Tanya Julia
Reno menggeleng pelan. “Seingatku tidak.”
Ada kekecewaan di raut wajah Julia. Sekali lagi ia harus menelan kekecewaan.
“Apa kamu masih mencintai Deni?” Tanya Reno
Julia mengangguk pelan.
“Maaf…sebelumnya Lia kalau aku terlalu ikut campur, tapi biarkan Deni bahagia bersama Meira. Kamu juga kelak akan menemukan kebahagiaan kamu sendiri.” Nasehat Reno.
__ADS_1
Julia terpaku memandangi secangkir kopi di depannya.
“Tidak Fani, tidak Reno….mereka sama saja. Mereka lebih mendukung Meira daripada aku.” Batin Julia.