SENJA DI HATI MEIRA

SENJA DI HATI MEIRA
Episode 35


__ADS_3

...Yakinlah bahwa ada suatu keindahan yang telah menantimu, setelah banyak kesabaran yang kamu jalani, yang akan membuat kamu tertegun, serta membuatmu lupa akan rasa sakit ...


...(Author)...


Meira berdiri di dekat jendela kamarnya, sambil menatap jauh ke depan. Namun tidak ada yang dilihatnya karena ia sedang melamun. Wajahnya yang cantik terlihat tanpa senyum. Apa yang terjadi pada Julia? Apakah dia benar-bener mencintai Deni atau dia hanya terobsesi pada Deni? Pikiran itu serasa berputar-putar di atas kepalanya. Cinta dan obsesi itu sejatinya tidak jauh berbeda alias beda tipis. Hanya saja kalau cinta adalah emosi yang sehat, sedangkan obsesi adalah emosi yang tidak sehat. Dan menurut perkiraan Meira entah itu benar atau tidak, Julia menjurus ke dalam kategori yang terobsesi. Julia tidak peduli Deni mencintainya atau tidak, yang terpenting ia bisa memiliki Deni. Ia butuh kasih sayang dari Deni sebagai orang yang dicintainya.


Meira membuka laptopnya dan mulai mencari-cari informasi di internet, mengenai obsesi seseorang terhadap cinta.


Seseorang yang terobsesi terhadap cinta akan terus mendekati targetnya tanpa kenal lelah.


Obsesi yang terkait dengan menyukai atau mencintai seseorang bisa menjadi salah satu ciri gangguan kepribadian. Obsesi tidak bisa menerima penolakan. Bagi seseorang yang terobsesi dengan objek cintanya, penolakan sangatlah menyakitkan, karena ia sangat tergantung pada obyek cintanya tersebut. Dalam khayalannya objek cinta adalah kekasihnya yang sempurna.


Meira manggut-manggut sambil pelan-pelan membaca serta memahami bacaan tersebut. “Pantas saja Julia seperti tidak terima diabaikan oleh Deni, dan menyalahkan aku sebagai sumber atas semua ini.” Batin Meira. Ia meneruskan membaca artikel tersebut.


Orang yang terobsesi cenderung terus mendekati objek cintanya untuk kepentingannya sendiri, agar dirinya merasa lega. Ia tidak peduli apakah objek cintanya suka atau tidak, bahkan nyaman atau tidak. Biasanya orang yang terobsesi tidak menyadari bahwa yang ia rasakan adalah sebuah obsesi bukan cinta yang sesungguhnya. Biasanya dibalik obsesi ada pikiran negatif pada diri sendiri. Merasa tidak berharga dan merasa tidak patut dicintai. Selain itu orang yang terobsesi ingin selalu dekat dengan obyek cintanya, untuk itu tidak jarang mereka berbuat nekat dengan pindah rumah atau kantor mendekati objek yang disukainya, atau sekedar mondar mandir di depan rumah atau kantornya.


Ciri-ciri obsesi :


* Sering memikirkan objek cintanya hingga sulit berkonsentrasi


* Berusaha keras agar bisa bertemu

__ADS_1


* Cemburu berlebihan


* Sulit menerima penolakan dari orang yang disukainya


* Suka dengan bayangan orang yang disukainya, bukan apa adanya


* Mengejar orang yang disukai membuatnya tenang/ merasa lebih lega


“Hampir semua mengaju pada perilaku Julia.” Cetus Meira. Namun Meira tak lantas menuduh Julia, karena untuk membuktikan itu semua, dibutuhkan pemeriksaan ke psikolog.


Namun jika Julia memang benar-benar terobsesi pada Deni, kasian sekali Deni. Deni akan merasa tertekan dengan tingkah laku Julia.


Meira kemudian mencari artikel yang lain untuk bahan pembanding. Dan isinya rata-rata hampir sama bahwa obsesi adalah emosi yang tidak sehat. Kalau cinta akan membiarkan orang yang disukainya bahagia dengan orang lain, meskipun sesaat harus kecewa (itu hal yang wajar), namun seiring dengan berjalannya waktu, akan bisa menerima dan merasa semua baik-baik saja. Berbeda dengan obsesi, jika seseorang yang terobsesi itu menderita, karena ditolak cintanya oleh target, maka targetpun harus ikut menderita, dengan kata lain target harus merasakan apa yang ia rasakan. Intinya seseorang yang terobsesi tidak akan membiarkan targetnya bahagia. Meira menarik nafas panjang. Itulah yang dilakukan Julia selama ini pada Deni, juga pada dirinya. Julia selalu membuat dirinya dan Deni tidak tenang. Ia berpikir bagaimana cara menyampaikannya pada Deni.


Namun kalaupun ia menyampaikan pada Deni, lalu mereka harus berbuat apa? Membawa Julia ke psikolog? Jelas itu tidak mungkin.


*********


Deni termenung di kamarnya. Malam ini ia masih tidur di rumah orangtuanya, besok pagi-pagi ia berangkat ke kantor dari rumah orangtuanya. Semenjak kehadiran Julia kembali, kehidupan Deni perlahan berubah. Ia mulai tidak nyaman dan tidak jenak dimana pun ia berada. Seperti saat ini ia jadi sering mematikan ponsel, dan sekarang kembali ke rumahpun sudah mulai tidak tenang. Beruntung Meira sangat memahami keadaannya. Meira tidak menuntut kalau ia harus cepat mengangkat telpon atau cepat membalas pesan.


Lalu apa yang harus ia lakukan pada Julia? Menolaknya sudah seringkali dilakukan. Namun Julia tetap saja tidak peduli. Apa ia harus terus menghindarinya seperti ini? Sampai kapan?

__ADS_1


“Apa aku harus harus pindah rumah?” Tercetus idenya. Namun pindah rumah juga tidak mudah dan cepat. Kalaupun bisa cepat pindah, mau pindah kemana? Ia masih bingung.


Deni masih mondar mandir di dalam kamarnya. Hatinya seperti tidak tenang, wajahnyapun terlihat sangat lelah. Baginya masalah Julia bukanlah masalah yang berati, namun ini sangat mengganggu banyak orang, karena Julia tidak hanya mengusiknya dan Meira, namun juga mengganggu teman lain, yang dekat dengan dirinya dan Meira.


“Lalu bagaimana kalau Julia nanti nekat mengganggu orangtuaku atau orangtua Meira,” perasaan Deni semakin gusar.


Ingin sekali ia menghubungi Meira untuk membahas hal ini, tapi diurungkannya, karena ia tidak ingin, ini malah menjadi beban pikiran Meira.


***********


Sementara Julia terlihat masih menunggu Deni. Sudah dua malam Deni tidak pulang. Julia sangat mengkhawatirkan Deni. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Deni namun ponselnya tidak aktif. “Masak dari kemarin nggak aktif, jangan-jangan Deni kenapa-kenapa,” batin Julia. Setiap kali ia melongok ke rumah Deni, namun rumah itu masih saja kosong. “Kemana Deni?” Tanya Julia dalam hati.


Julia sangat mendambakan Deni, karena ia menganggap Deni begitu sempurna di matanya. Menurut khayalannya Deni begitu baik dan perhatian padanya. Itu yang tidak pernah ia dapatkan dari figur kedua orangtuanya. Hubungan Julia dengan orangtuanya sangat dingin. Makanya ia takut menjalin hubungan dengan orang selain Deni, apalagi dengan orang yang baru dikenalnya, karena ia tidak mau pada akhirnya ditinggalkan, seperti ayahnya yang meninggalkannya dulu. “Kalau Deni, dia berbeda, dia sangat menyayangi aku, dan pastinya dia orang yang setia,” khayal Julia. Pikiran negatifnya yang tidak rasional selalu muncul karena trauma di masa lalu. Terkadang ia merasa tidak layak, namun terkadang ia merasa sangat percaya diri.


”Deni cinta pertama dan terakhirku,” ujar Julia sambil tersenyum membayangkan Deni.


Dengan Deni ia merasa bahwa hidupnya akan bahagia.


...Takdir seseorang memang sudah ditetapkan, begitupun dengan dengan jodoh. Kita hanya bisa menjalaninya tanpa kenal lelah dalam setiap keadaan, karena dalam perjuangan pasti ada kebahagian ...


...(Julia)...

__ADS_1


__ADS_2