
“Gimana acara hari Sabtu kemarin Mir?" Tanya Farah saat mereka istirahat makan siang di kantin.
“Acaranya cukup meriah.” Tandas Meira.
“Benar-benar pesta pernikahan impian,” sambungnya.
“Oh ya? Rame banget dong pasti.” ujar Farah.
“Sangattt…..,” jawab Meira.
“Terus reaksi waktu Deni lihat penampilan kamu gimana?” Tanya Farah.
“Biasa aja.” Sahut Meira
“Masak sih Deni biasa aja, bohong kamu,” ucap Farah tidak percaya
“Lah memangnya Deni harus gimana? Mulutnya menganga terus matanya melotot, kayak di film-film kartun kalau kaget?” Meira terbahak.
“Ngaco kamu Mir, ya nggak gitu juga kali,” sanggah Farah sembari tertawa.
“Maksudku Deni muji penampilan kamu nggak?” Tanya Farah lagi.
Meira mengangguk sambil meneguk es jeruknya.
“Dia bilang apa?” Desak Farah.
“Kamu cantik Mir.” jawab Meira singkat.
“Terus apalagi?” lanjut Farah.
“Kepo kamu Far,” ujar Meira.
Farah menghembuskan nafas kesal.
“Sudah cuma gitu aja.” Tegas Meira
“Masak cuma gitu sih, nggak seru ah,” Farah merajuk.
“Terus disuruh ngomong apa lagi Far, Deni kan bukan pujangga.“ Meira terkikik.
Keduanya lalu tertawa bersama.
“Kamu Mir, diajak ngomong serius malah bercanda.” protes Farah
“Ehhhh…Tapi aku ngebayangin lucu juga Mir, kalau Deni memuji kamu bak pujangga gitu.” ujar Farah sambil menahan tawa.
“Kalau itu terjadi…mungkin dia sedang berusaha menghafal buku-bukunya Kahlil Gibran,” tukas Meira
“Tapi sepertinya Deni akan kesulitan menghafal kata-kata romantisnya Kahlil Gibran.” Imbuh Meira sambil tertawa disambut tawa Farah.
“Teman-teman Deni gimana Mir?” tanya Farah kemudian
“Teman- teman Deni?” Meira balik bertanya
“Iya!” tegas Farah
Meira mengerutkan kening dan menyipitkan matanya.
“Aku tahu arah pertanyaanmu Far,” tebaknya sambil memandang curiga Farah.
__ADS_1
“Apa coba?” tantang Farah.
“Pasti kamu mau tanya, gimana teman-teman Deni, keren-keren nggak? Mau dong aku dikenalin. Ya kan?” Bisik Meira
“Kamu bener-bener sahabat sejatiku Mir, kamu tahu apa yang ada dalam pikiranku,” senyum Farah terkuak lebar.
“Eh sebentar… bukannya kamu lagi pendekatan sama Dimas ya?” Meira mengernyitkan mukanya.
Farah terdiam sejenak.
“Akhir-akhir ini dia jarang balas pesanku Mir, kadang cuma dibaca aja.” raut wajah Farah berubah mendung.
“Sabar ya…,” Meira mengelus-elus pundak Farah.
“Tapi biar bagaimanapun aku masih mau berusaha, meskipun capek, tapi siapa tahu lama-lama hatinya akan luluh, aku suka dia Mir, dia tipe aku banget,” ujar Farah.
“Kamu yakin itu? Kalau cinta harusnya kamu nggak perlu capek, kalau capek itu namanya kami lagi kerja rodi.” Meira mencoba mengingatkan.
“Miraaaa…,” teriak Farah.
“Kenapa??…Bener kan, kok kesel sih,” gurau Meira.
Farah tertunduk lesu, dan wajahnya tampak sendu.
Meira tidak tega melihatnya.
“Maju dengan gagah berani dan pantang menyerah itulah kamu Far, dalam hal pekerjaan kamu luar biasa gigih, begitu pula dalam hal mengejar cinta. Kamu tahu kan cinta dan pekerjaan adalah dua hal yang sangat berbeda. Namun jika kamu tidak putus asa harapan itu pasti ada, tapi kamu ingat, jangan sampai itu membuat kamu lupa diri, lalu bersedih” Meira menyemangati sahabatnya.
“Makasih Mir, aku beruntung punya sahabat seperi kamu.” Ujar Farah.
“Hal terbaik yang bisa aku lakukan untuk sahabatku, adalah menjadi sahabatnya.” Kata Meira sambil tersenyum.
“Ehhh..Makanan kita sedari tadi baru kemakan sedikit loh,” ujar Meira melepaskan pelukan Farah
“Iya, bahkan nasi sotoku masih utuh, perkedelnya juga baru aku gigit sedikit,” sambung Farah
“Ya udah, ayo kita makan, nanti keburu dingin jadinya nggak enak.” Ajak Meira
Sedang asik-asiknyamakan, wajah Meira tiba-tiba berubah kesal, karena teringat Julia.
“Kenapa Mir, muka kamu tiba-tiba bete gitu?” Tanya Farah
“Haduhhh… bikin selera makanku hilang aja tuh orang.” Ujar Meira
“Siapa sih yang kamu maksud?” Farah memandangi orang di sekeliling kantin.
“Orangnya ada di sini?” Desak Farah
“Orangnya nggak ada di sini,” jawab Meira kesal.
“Terus dimana kalau nggak di sini?” Tanya Farah lagi.
“Orangnya ada di nikahan Fani (teman Deni) kemarin.” Jawab Meira
“Dia laki-laki atau perempuan?” Farah terlihat bingung
“Perempuan,” jawab Meira singkat.
Farah masih belum mengerti.
__ADS_1
“Ayo lah Mir, cerita yang jelas, jangan cuma jawab sepotong-sepotong gitu, aku nggak paham,” tuntut Farah.
Meira masih terdiam.
“Dia cantik?” Tanya Farah hati-hati.
Meira mengangguk pelan.
“Mmmm…. Aku tahu, kamu pasti lagi cemburu ya?” tebak Farah
Meira buru-buru menggeleng.
“Nggak cemburu Far,” sanggah Meira
“Lah…terus itu namanya apa kalau nggak cemburu?” Goda Farah
“Aku kesel aja sama dia, mukanya judes dan kayak nggak suka gitu sama aku.” Ujar Meira.
“Terus Deni gimana?” Tanya
“Deni buru-buru ngajak aku pergi dari situ.” jawab Meira.
“Bagus kalau gitu…berati Deni peka orangnya.” Hibur Farah.
Meira mengangguk dan berucap, “Sepertinya dia suka sama Deni Far?”
“Tapi Deni yang nggak suka kan sama yang namanya Julia?”
“Entahlah,,,,” Meira mengangkat bahunya.
“Sebelumnya Deni pernah cerita ke kamu nggak tentang Julia?” Tanya Farah
“Nggak pernah sama sekali,” sahut Meira
“Berarti dia memang bukan siapa-siapanya Deni…Maksudku bukan masa lalunya Deni.” Ujar Farah
“Sepertinya bukan, Deni kan nggak punya mantan.” Kata Meira
“Iya juga sih Mir, lagian wanita seperti Itu bukan tipenya Deni.”
“Terus dia sempat ngobrol sama Deni nggak?” Tanya Farah.
Meira menggeleng. “Nggak, Deni sepertinya enggan ngobrol sama dia.”
“Apa alasannya?” Tanya Farah bak penyidik.
Meira hanya mengangkat bahunya.
“Deni sepertinya tidak tertarik kalau aku ajak bicara soal Julia.” Ujar Meira.
“Nahhh…..Ya udah!!” Seru Farah.
“Orang Deni aja nggak tertarik sama dia, kenapa kamu mesti bete.” Lanjut Farah.
“Walau cuma ketemu sebentar, tapi kalau aku perhatikan Julia itu selain cantik, sepertinya dia tipe wanita yang agresif.” Kata Meira.
Farah memegang pundak Meira. “Denger ya Mir, cinta bukan hal yang bisa dinilai, dari siapa yang lebih cantik, atau enggak, siapa yang menang atau kalah. Tapi cinta hanyalah masalah cocok atau tidak. Dan meskipun menurut kamu dia cantik, juga agresif, tapi Deni lebih memilih kamu kan daripada Julia, itu karena dia merasa cocok dengan kamu.”
“Lagian tenang aja lah Mir, menurutku Deni nggak akan aneh-aneh.” Pungkas Farah
__ADS_1
Meira sedikit lega setelah curhat dan mendengar celotehan sabahatnya itu. Ya, lagipula Deni juga pernah bilang kalau kecantikan dari luar itu akan cepat memudar seiring berjalannya waktu, sedangkan kecantikan dari dalam akan abadi selamanya. Kalau cantik dari luar banyak, tetapi cantik dari dalam itu jarang. Dan menurut Deni, Meira memiliki keduanya. Meira tersenyum mengingat ucapan Deni waktu itu.