SENJA DI HATI MEIRA

SENJA DI HATI MEIRA
Episode 22


__ADS_3

Deni dan Meira sedang asik ngobrol dan nonton acara televisi, ketika tiba-tiba ada suara penjual nasi goreng lewat di depan rumah.


Tok! Tok! Tok!……Tik Tok Tik Tok


“Eh, ada penjual nasi goreng Den, kamu mau?” Meira menawari Deni


Dengan cepat Deni mengangguk, karena sedari tadi Deni memang belum makan. Ia merasa lapar sekali. Nasi goreng dan coffee macchiato yang telah dipesankan oleh Julia tadi, sama sekali tidak disentuhnya.


Meira berlari keluar memanggil penjual nasi goreng tersebut, kemudian ia memesan dua bungkus nasi goreng, dengan tingkat kepedasan sedang.


“Ini masnya baru ya jualan di sini?” tanya Meira kepada penjual nasi goreng, yang nampaknya masih muda itu.


“Iya mbak, baru sekitar satu bulan” jawabnya.


Meira melihat ke isi gerobak nasi goreng yang sangat sederhana itu, sayurannya tidak banyak, mie telor hanya satu plastik, kwetiau basah hanya satu plastik kecil, nasinyapun hanya seperempat bakul.


Karena penasaran, Meira memberanikan diri untuk bertanya lagi.


“Kenapa cuma bawa bahannya sedikit mas?”


“Ya mba, kalau bawa kebanyakan takut kalau nanti tidak habis” jawabnya pelan


“Ohhh…iya bener” ucap Meira


“Saya kalau pagi sampai sore kerja ngantor di dekat pelabuhan” imbuhnya


“Jauh sekali” Ujar Meira


Ia hanya tersenyum sambil memasukan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng ke dalam wajan.


“Kalau berangkat kerja pagi saya juga sering lewat sini mbak” ujarnya lagi

__ADS_1


Meira mengangguk-angguk. Ya dirinya mengingat sesuatu. Meira sering melihatnya pagi-pagi berangkat ke kantor dengan pakaian rapi.


Deni keluar dari rumah menyusul Meira.


“Masnya ini kalau pagi ngantor Den, kantornya di dekat pelabuhan” cerita Meira pada Deni.


“Ohh ya? Jauh sekali” ujar Deni


Lalu mas penjual nasi goreng itu bercerita, pada malam hari selepas isya dia akan mulai berjualan, sampai jam dua pagi atau bisa lebih cepat jika bahan yang dibawanya habis. Mau berusaha, bekerja keras dan niat baik, itulah yang Meira tangkap selama mengobrol. Kesederhanaan dan kerjasama yang baik dengan istrinya memungkinkan dia menjalankan semua ini. Mereka baru punya satu anak berusia dua tahun, istrinya yang menyiapkan semua bahan untuk berjualan dan saat pulang kantor, semua bahan sudah siap di gerobak untuk dibawa jualan.


Baik Meira maupun Deni sangat kagum dengan usahanya, tidak banyak bicara tetapi berani berusaha. Tidak terbayang lelah yang ia rasakan, tapi Meira melihat dia menjalaninya dengan happy, tanpa beban dan optimis. Kelelahan itu pasti ada, namun saat menjalani dengan bahagia, rasa lelah itu tidak seberapa. Kuncinya ada kemauan, dilandasi dengan niat baik, dan mau memikirkan cara mewujudkannya


Setelah nasi goreng tersebut selesai dimasak, Meira masuk ke dalam rumah bersama Deni.


***


Sementara itu di dalam mobil yang berhenti tidak jauh dari rumah Meira, ada sepasang mata yang mengawasi mereka…..Ya Julia ada di dalam sana.


Julia mengirim pesan pada Deni. “Den, kamu sudah sampai di rumah?”


Ia menunggu balasan, tetapi Deni tidak kunjung jua menjawab.


“Huhhh..sedang apa dia dengan perempuan itu?” Gerutu Julia


Lalu Julia mengirim pesan lagi pada Deni. “Den, kalau sudah sampai rumah, kabari aku ya, ada lagi yang ingin aku bicarakan dengan kamu”


Ia menunggu beberapa saat, namun lagi-lagi tidak mendapat mendapat balasan.


Ia berusaha keras menahan amarahnya, yang kian sulit terbendung.


“Deniiii, sedang apa kamu?” Julia memukul-mukul setiran mobilnya dengan kesal.

__ADS_1


Julia lalu mencoba menelepon Deni. Sekali ia mencoba, tidak diangkat oleh Deni, lalu ia mencobanya lagi, Deni masih bergeming, sampai akhirnya berkali-kali ia menelepon, tetap tidak juga diangkat oleh Deni. Ia mulai hilang kesabaran, lalu dibanting ponsel miliknya.


“Meiraaa, awas kamu!!” ujarnya geram.


Julia kemudian turun dari mobil. Ia melangkahkan kaki menuju rumah Meira. Matanya melihat ke sekitar rumah Meira yang terlihat sepi.


Ketika sampai di depan pintu, ia mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu itu. Didengarnya suara Deni dan Meira sedang tertawa. Ia mencoba melihat dari kaca jendela, terlihat Meira duduk di kursi sedangkan Deni tidak tampak. Lalu ia melihat Meira berjalan ke belakang mengambilkan Deni segelas air putih.


Julia terus mengintai mereka, mendengarkan obrolan mereka yang terdengar samar-samar. Kini ia melihat Deni yang duduk bergeser mendekat ke Meira, lalu menyuapi Meira, setelah itu gantian Meira yang menyuapi Deni, membuatnya semakin geram dan terbakar cemburu.


“Apa yang istimewa dari perempuan itu, sampai Deni bisa jatuh cinta padanya, sedangkan aku yang sudah lama mengenalnya saja, tidak pernah diliriknya.” gumam Julia kesal. Julia mencoba terus menguping percakapan mereka, ia ingin tahu apa yang sedang mereka perbincangkan, siapa tahu namanya disebut, namun usahanya sia-sia. Suara percakapan mereka hanya terdengar samar-samar, hanya suara tawa yang terdengar jelas. Hampir satu jam lamanya Julia mengintai mereka, ia mulai lelah, lalu duduk di kursi teras Meira.


Julia cepat-cepat berlari masuk ke dalam mobilnya ketika tiba-tiba mendengar suara Deni berpamitan.


“Aku pulang dulu ya Mir, sudah malam, kamu juga harus istirahat”


Lalu Meira mengantar Deni keluar, dan kembali masuk ke rumah setelah mobil Deni berlalu.


Julia mengikuti mobil Deni dari belakang. “Aku harus tahu dimana rumah Deni sekarang” kata Julia.


Ia melibas jalanan di malam hari, tidak peduli hujan mulai turun rintik-rintik. Setelah mengikuti Deni selama kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya sampai juga di rumah Deni. Julia merasa lega, karena akhirnya dia tahu dimana rumah Deni. Kalau dulu waktu kuliah Deni masih tinggal bersama orang tuanya. Setelah misinya mencari tahu rumah Deni berhasil, Julia kembali ke rumahnya.


***


Julia termangu di dalam kamarnya. Padahal malam sudah hampir berganti pagi. Ia masih terus berpikir bagaimana cara meluluhkan hati Deni.


Ia berjalan mondar mandir di dalam kamarnya yang lumayan luas. Hatinya diliputi rasa benci pada Meira. Ia terus menyalahkan Meira. Karena Meira semua usahanya selama ini untuk mendekati Deni menjadi sia-sia. Meira telah merampas Deni darinya. Dulu sebelum ada Meira, Deni tidak pernah menolak permintaannya. Tapi sekarang, semua berubah semenjak kehadiran Meira dalam hidup Deni.


“Aku benci Meira…Aku benci Meira…” ujar Julia geram. Hatinya benar-benar sedang diselimuti dendam dan amarah.


“Seandainya aku tidak melanjutkan kuliah di luar negeri, pasti Deni tidak akan dekat dengan Meira” gumamnya lagi.

__ADS_1


Julia mengetuk-ngetuk meja dengan jari tangannya. Entah apa yang sedang dipikirkan atau direncanakannya. Malam ini ia benar-benar tidak tidur.


__ADS_2