SENJA DI HATI MEIRA

SENJA DI HATI MEIRA
Episode 23


__ADS_3

Pertemuan Julia dan Fani


(Sekedar mengingatkan bahwa Fani adalah teman Deni yang menikah beberapa waktu yang lalu, dimana Deni datang bersama Meira dan bertemu dengan Julia)


Di Hari Minggu sore Julia menunggu Fani di sebuah mall di pusat kota. Tidak lama kemudian Fani datang menghampiri Julia.


“Wahhh pengantin baru, makin cantik aja” puji Julia pada Fani


“Kamu lebih cantik “ jawab Fani merendah


“Suami kamu nggak apa-apa nih kamu, aku pinjam sekitar dua atau tiga jam” kata Julia


“Nggak apa-apa Lia, nyantai aja” ujar Fani


“Ehh.. kita mau duduk di mana nih” kata Julia sambil mencari tempat makan di sekitar mall


“Tuh…di sana mau nggak?” Saran Fani sambil menunjuk ke sebuah restoran Jepang


“Boleh” Julia mengangguk


Mereka duduk di teras restoran dengan pemandangan jalan raya. Ruangan dalam restoran penuh dengan pengunjung. Kursi-kursi yang tersisa hanya berada di teras restoran, namun mereka tidak keberatan, terutama Julia. Karena emosinya sedang menngelegak sehingga ruang tertutup hanya akan membuatnya depresi. Mata Julia melamun menatap nanar pada kendaraan yang berbaris mengantre di jalan raya di bawah sana.


“Kamu kenapa Lia?” Suara Fani membangunkan Julia dari lamunannya.


“Ohh..gak apa-apa” Julia tergagap


Seorang pelayan datang membawa pesanan mereka. Dua gelas ocha dingin, semangkuk mie ramen dengan kuah kare pesanan Fani, serta sushi salmon skin roll pesanan Julia.


Pelan-pelan Julia menyeruput ocha dinginnya.


“Kenapa Lia, sepertinya suasana hatimu sedang kurang baik ya?” tanya Fani


Julia mengangkat bahunya.


“Pasti masalah cowok” tebak Fani


“Ini soal Deni” tegas Julia


“Deniiiii? Emang kenapa Deni?” Tanya Fani heran


“Coba kamu pikir, kenapa Deni bisa jatuh cinta dengan Mira” tanya Julia


“Maksud kamu Meira?” Fani balik bertanya


“Ya, Meira, wanita yang dekat dengan Deni” sahut Julia


“Meskipun aku belum terlalu mengenalnya, tapi aku rasa Meira wanita yang baik, cantik, lugu dan apa adanya, jadi pantas saja kalau Deni jatuh cinta padanya, menurutku mereka pasangan yang serasi.” jawab Fani santai


“Dan sepertinya Deni juga sangat mencintainya” imbuh Fani


“Darimana kamu tahu, kalau Deni sangat mencintai Meira?” Tanya Julia ketus


“Dari cara Deni memperlakukan Meira” jawab Fani


“Contohnya?” desak Julia


“Contohnya apa ya?” Fani mencoba mengingat-ingat


“Oh ini….Deni selalu menggandeng tangan Meira kemanapun ia pergi, meskipun itu tidak spesifik sih, tapi dari tatapan mata Deni, aku bisa melihat kalau Deni sangat mencintai dan menyayangi Meira.” Jawab Fani sambil tersenyum.

__ADS_1


Julia menarik nafasnya dalam-dalam, ia mencoba menahan amarah yang sedang bergejolak di hatinya.


“Memang ada apa kok kamu bertanya seperti itu? Jangan-jangan kamu cemburu” Fani menebak-nebak.


“Kamu masih menyimpan rasa cinta pada Deni?” tanya Fani lagi


Julia mengangguk.


“OMG Lia…forget him, buat apa kamu membuang-buang waktu kamu untuk seseorang yang sudah memiliki orang lain.” Nasehat Fani


Julia melengos, hatinya terasa sesak mendengar nasehat Fani barusan.


“Selama mereka belum menikah, harapanku untuk memiliki Deni masih ada kan?” Jawab Julia


Fani agak tersentak mendengar jawaban Julia.


“Serius kamu masih mau mengejar cinta Deni?” Tanya Fani pelan


“Serius lah” jawab Julia agak keras


Fani menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Kamu begitu cantik Lia, banyak laki-laki di luar sana yang mau jadi kekasih kamu, cobalah buka hati untuk mereka” kata Fani


“Tapi aku hanya mencintai Deni Fan” ujar Julia


“Tapi Deni mencintai Meira” sergah Fani


Julia kesal mendengar ucapan Fani. Tanpa sadar tangannya menggegam gelas minumnya kuat-kuat.


“Kenapa kamu lebih berpihak pada Meira daripada aku, aku ini temanmu Fan?” Ujar Julia sedikit marah


“Cintaku pada Deni, hanya aku yang bisa merasakannya Fan.” Ucap Julia, matanya tidak berkedip melihat jalan raya yang semakin padat merayap.


“Aku sendiri juga tidak tahu, kenapa rasa cintaku pada Deni begitu besar dan tidak pernah berubah, dari dulu hingga sekarang.” lanjut Julia


“Mungkin karena kamu tidak mencoba membuka hati untuk yang lain Lia” ujar Fani lirih


Julia menggeleng.


“Aku sudah mencobanya Fan, tadi tidak bisa. Hanya Deni yang selalu ada di hatiku.”


“Mau sampai kapan kamu berjuang untuk mendapatkan Deni?” tanya Fani


“Sampai kapanpun.” tegas Julia


“Apa tidak sebaiknya kamu mencari orang yang benar-benar mencintai kamu, karena bagi seorang wanita bukankah lebih baik dicintai daripada mencintai.” saran Fani


Julia tersenyum kecut. “Perkara cinta itu masalah nanti, karena cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, yang terpenting aku harus mendapatkan Deni dulu Fan” ujar Julia optimis


“Terserah kamu Lia” ujar Fani lelah


Julia tersenyum. “Memang kamu nggak suka ya kalau aku berjodoh dengan Deni?” Tanya Julia pada Fani.


“Bukannya aku nggak suka kamu berjodoh sama Deni, hanya saja Deni saat ini punya pasangan, kecuali Deni lagi single, aku pasti dukung kamu” ujar Fani.


Julia kembali menatap ke jalanan yang saat ini sudah gelap.


Bunyi ponsel yang bergetar mengagetkan Fani. Fani mengambil ponsel itu dari tasnya. Sambil menjawab telepon itu Fani melihat ke jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.

__ADS_1


Julia baru tersadar. Restoran Jepang itu tiba-tiba terasa sepi. Rupanya pengunjung sudah tidak sebanyak sore tadi. Tidak terasa mereka sudah menghabiskan waktu hampir dua jam untuk mengobrol.


“Oke” sahut Fani pada suara di seberang telepon.


“Aku tunggu di depan mall.” Fani tersenyum meminta maaf sembari memutuskan hubungan teleponnya.


“Suamiku menjemputku dan sudah hampir sampai” ujar Fani pada Julia


“Ohhh..” jawab Julia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


“Aku duluan ya.” Fani bangkit dari tempat duduknya


“Oke…” Jawab Julia


“Sampai ketemu lagi…” lanjut Fani sambil melambaikan tangannya.


Dan Fanipun berlalu. Julia memalingkan wajahnya ke arah jalanan menatap deretan lampu di jalan raya.


“Seandainya Deni milikku pasti aku tidak akan kesepian seperti ini” batin Julia


Juliapun bangkit berdiri dan menuju parkiran untuk mengambil mobilnya.


Dalam perjalanan pulang, pikirannya masih melayang-layang memikirkan Deni. Lalu ia memilih saluran radio yang sedang memutar lagu milik Sheila on 7 yang berjudul Seberapa Pantas.


🎵🎵🎵


Seberapa pantaskan kau untuk kuntunggu


Cukup indahkan dirimu untuk kunantikan


Mampukah kau hadir dalam setiap mimpi burukku


Mampukah kita bertahan di saat kita jauh


Seberapa hebatkah untuk kubanggakan


Cukup tangguhkan dirimu untuk selalu kuandalkan


Mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang


Mampukah kau meyakinkan di saat aku bimbang”


Celakanya hanya kau lah yang benar-benar aku tunggu


Hanya kaulah yang benar-benar memahamiku


Kau pergi dan hilang kemanapun kau suka


Celakanya hanya kaulah yang pantas untuk kubanggakan


Hanya kaulah yang sanggup untuk aku andalkan


Diantara pedih aku selalu menantimu.


……..


🎵🎵🎵


Sambil mengendarai mobilnya Julia tersenyum.

__ADS_1


”Lagu ini cocok untuk Deni” ujarnya pelan.


__ADS_2