SENJA DI HATI MEIRA

SENJA DI HATI MEIRA
Episode 14


__ADS_3

Malam hari sebelum tidur, Meira masih terngiang-ngiang soal percakapannya dengan Farah tadi pagi.


Ia juga belum sempat bicara dengan Deni soal ini, karena hari ini kelihatannya Deni sedang sibuk.


Meira terus menerus berpikir tentang siapa teman Deni yang harus ia perkenalkan pada Farah. Ferry tidak mungkin, karena dia seorang petualang cinta, sulit untuk diajak serius, bisa-bisa Farah sakit hati lagi karena dia, kalau Yohan juga seperti bukan pilihan yang tepat karena jika di hati dan pikiran seseorang dipenuhi oleh orang lain, maka dia tidak akan memberi peluang pada orang lain, gimana perasaan Farah nanti kalau cintanya bertepuk sebelah tangan lagi, lalu Rudy dan Reno jelas tidak mungkin karena masing-masing sudah memiliki pasangan.


“Siapa ya” Meira mengingat-ingat


Tiba-tiba Meira teringat sosok Andre teman sekantor Deni.


‘Iya Andre, kenapa aku baru kepikiran Andre ya” ucap Meira


“Andre orangnya baik dan nggak macam-macam” ucapnya lagi


Meira menelepon Deni


"Halo Den” sapa Meira


“Halo Mir, kamu belum tidur?” tanya Deni


“Belum, kamu lagi ngapain?” Meira balik bertanya


“Lagi nyelesein laporan” jawab Deni


“Aku ganggu nggak?” Meira merasa tidak enak


“Nggak dong, aku malah seneng yang nemenin” ujar Deni


“Den…” panggil Meira


“Ya Mir” jawab Deni


“Andre sudah punya pacar belum ya?” tanya Meira


“Sepertinya belum” jawab Deni


“Tapi kenapa tiba-tiba kamu nanyain dia sudah punya pacar atau belum?” tanya Deni kemudian


“Kalau Andre belum punya pacar, aku pengen kenalin Farah sama dia Den” jelas Meira


“Mau kenalin Farah sama Andre?” Nada suara Deni terdengar kaget


“Iya Den, aku kasian sama Farah, dia di sini sendiri, dan aku kepikiran buat kenalin dia sama Andre, karena Andre sepertinya orang baik” jawab Meira


Deni terdiam


“Dennn…” panggil Meira lagi


“Lagi ngapain? Kok diem aja, ketiduran ya?” tanya Meira


“Lagi mikir Mir, gimana aku ngomongnya ke Andre, nggak enak hati aku, takut dia tersinggung” jawab Deni


“Iya juga ya” ucap Meira lirih


“Selama ini Andre nggak pernah ngomongin masalah cewek, dan aku juga nggak pernah menyinggung-nyinggung masalah cewek ke dia, nggak enak kan kalau tiba-tiba aku ngomong ke Andre, mau ngenalin dia ke Farah” jelas Deni


“I see !” jawab Meira

__ADS_1


“Jadi enaknya gimana ya Den?” lanjut Meira


“Gini aja Mir, kita pura-pura nggak sengaja ketemu saat jam makan siang di suatu tempat makan, kamu ajak Farah dan aku ajak Andre” Deni memberikan idenya


“Gimana Mir, setuju nggak? Atau kamu ada ide lain?” tanya Deni


“Boleh juga Den” jawab Meira senang


“Terus kita rencana mau makan dimana?” tanya Meira lagi


“Kalau di resto dekat kantor kamu gimana?” Deni menyampaikan pendapatnya


“Boleh, tapi Andre setuju nggak diajak makan siang di tempat yang agak jauh dari kantornya” ujar Meira


“Dia sih nggak pernah protes diajak makan kemanapun.” Deni terbahak


“Ke ujung dunia sekalipun?” gurau Meira


“Ya, bisa jadi yang penting judulnya makan kan” ujar Deni


“Terus kalau misalkan teman lain ada yang mau ikut gimana?” tanya Meira


“Tentu saja nggak akan aku ijinkan lah, bisa kacau nanti rencana kita dan Andre bakalan mau banget” sahut Deni


“Tapi ingat ya Mir, kita hanya sekedar mengenalkan dan memfasilitasi pertemuan mereka, untuk selanjutnya itu terserah mereka, kalau mereka cocok syukur, tapi kalau tidak, kita tidak bisa memaksakan mereka untuk bersama” Deni mengingatkan.


“Iya Den aku tahu itu” ucap Meira


“Oke, kapan waktunya nanti kamu atur Mir, sekarang kamu istirahat ya, sudah malam” kata Deni


“Oke Den, selamat malam, selamat tidur” Meira


***


“Far, aku kenalin sama teman sekantor Deni mau nggak” tanya Meira suatu pagi di kantor


Farah yang baru datang dan meletakkan tasnya langsung tersenyum bahagia.


“Kapan Mir?” tanya Farah


“Sebisa kamu lah” tukas Meira


“Kalau aku kapanpun siap Mir” Farah menyeringai


“Ya berati nanti tunggu temannya Deni, kapan bisanya.” Sahut Meira


“Dia tahu nggak Mir mau dikenalin aku?” tanya Farah lagi


“Dia nggak tahu” bisik Meira


Farah tersenyum malu.


“Jadi enaknya kapan Mir?” Desak Farah


“Ya nanti aku tanya Deni dulu, Andre bisanya kapan?” jawab Meira


“Ohh namanya Andre” Farah senyum-senyum

__ADS_1


Meira mengernyitkan wajahnya. “Kenapa senyum-senyum gitu”


“Pastinya kamu tahu lah Mir, apa yang ada dalam benakku” sahut Farah masih dengan senyum-senyum


Meira mengangkat bahunya, lalu membalikkan badan berjalan menuju mejanya.


“Ehh Mirrrr” panggil Farah


Meira menoleh “ Kenapa lagi?” seru Meira


“Sepertinya aku harus beli baju baru” tukas Farah malu-malu


“Hissh” hardik Meira


“Lagi pada ngobrolin apa sih?” Celutuk Ocha teman sekantor, yang baru datang.


“Ngobrolin masa depan Cha” sahut Farah


“Masa depan siapa? Mira mau nikah?” desak Ocha


“Bukan” jawab Meira cepat


“Terus masa depan siapa?” tuntut Ocha


“Masa depan Farah” jawab Meira sambil tertawa, diikuti oleh Farah.


“Udah ah, aku mau balik ke meja” tukas Meira


Lalu mereka berjalan ke meja kerja masing-masing.


Meira melihat ada pesan masuk di handphonenya. Dari Deni rupanya.


Mir hari Sabtu, ada undangan ulang tahun Julia, kamu mau datang sama aku?


Meira terpaku, ia belum menjawab pesan dari Deni “Julia lagi, Julia lagi”


Padahal Meira berharap pertemuannya dengan Julia di resepsi pernikahan itu adalah pertemuan pertama dan terakhir.


Meira menelepon Deni


“Halo Den, kalau kamu mau datang, datang aja sama teman-teman yang lain, aku nggak usah ikut” kata Meira


“Kalau kamu nggak ikut, aku juga nggak datang Mir” jawab Deni


“Teman-teman yang lain pada mau datang kan” tanya Meira


“Infonya mereka pada mau datang” jelas Deni


“Aku malas ketemu Julia lagi Den” Meira mencoba berkata jujur


“Aku tahu Mir, makanya aku coba menawarkan ke kamu mau datang atau nggak, kalau kamu nggak datang, juga juga enggak” ujar Deni


“Kamu datang aja nggak apa-apa Den, nggak enak sama Julia juga teman-teman yang lain” kata Meira


“ Nggak apa-apa Mir, teman lain juga akan ngerti kok” jawab Deni


Setelah selesai mengobrol Meira menutup teleponnya. Ada perasaan galau berkecamuk di hatinya. Di sisi lain dia tidak ingin bertemu Julia, tapi di sisi lain dia juga tidak ingin menghambat Deni untuk berelasi dengan orang lain.

__ADS_1


Ia melayangkan pandangan ke luar jendela kantor, lalu mengetuk-ngetuk meja dengan penanya. Meira benar-benar sedang bingung.


__ADS_2