
Hujan yang tak kunjung berhenti membuat warung soto di dekat rumah Deni, kebanjiran pelanggan. Rupanya banyak orang yang ingin menghangatkan badan dengan menikmati soto panas.
“Kamu mau nambah Mir, biar aku pesankan lagi,” Deni menawarkan.
“Boleh, aku masih lapar,” ujar Meira sambil nyengir.
Lalu Deni memesankan dua mangkuk soto lagi, satu mangkuk untuknya dan satu mangkuk lagi untuk Meira.
Deni menatap Meira yang nampak begitu lahap menikmati sotonya.
“Nah gitu…kamu harus banyak makan, karena aku lihat kamu agak kurusan! Kenapa, apa kamu tidak bahagia jadi calon istriku?”
Meira tidak menjawab, ia berlagak sibuk menghabiskan soto ayamnya.
“Atau kamu kecapekan, karena akhir-akhir ini kamu sering lembur?” Terdengar lagi suara Deni.
Meira menoleh menatap Deni dan mengangguk.
“Ya, aku kecapekan.” Keluh Meira dengan mata sayu, membuatnya semakin kelihatan lesu.
“Kalau sudah jadi istriku, tidak akan aku biarkan kamu bekerja Mir, supaya kamu tidak kelelahan seperti ini.”
Wahh! Gombalnya semakin menjadi! Jadi istri? Makanya cepetan dilamar!
Hampir saja Meira meledak ketawa, tapi tidak dilakukannya. Deni masih menatapnya dengan mata bening yang penuh nuansa-nuansa perasaan cinta. Tiba-tiba Deni mendekatkan kepalanya ke wajah Meira seakan ingin mengecupnya. Meira menahan nafas, menatap tanpa berkedip, lalu Deni memalingkan wajahnya ke samping. Kedengaran dia menghela nafas ketika bangkit dari tempat duduknya.
“Ayo ah, kita pulang!” Seru Deni seraya melihat jam tangan. “Hampir satu jam kita di sini!” Lengannya terulur membantu Meira berdiri.
💞💞💞💞💞💞💞
“Ke rumahku saja dulu ya Mir, toh kamu di rumah juga sendiri.” Ajak Deni.
Meira mengangguk.
Beberapa meter dari rumah Deni terlihat truk barang berhenti, beberapa orang sedang sibuk menurunkan barang. Meira mengamatinya dari kejauhan.
“Ada orang pindahan, sepertinya.” Ujar Meira.
“Ya, dari tadi malam, sudah terlihat aktivitas di sana, aku lihat beberapa orang sibuk keluar masuk rumah itu, sambil membawa barang.” Terang Deni.
Sesampainya di dalam rumah Deni, Meira mengirim pesan kepada Mamanya, untuk memberitahu kalau dia sedang berada di rumah Deni.
Deni menyalakan televisi dan memutar film perang. “Kalau kamu suka film yang diambil dari cerita kisah nyata, kamu pasti suka ini,” kata Deni sambil mendudukkan Meira di sofa bersamanya.
Terlihat pesawat pengebom terbang menuju target. Pesawat-pesawat tersebut terlibat dalam pertempuran sengit. Asap mengepul dari kapal-kapal yang dihantam pesawat pengebom, sementara di kejauhan ada kapal pengangkut pasukan perang yang telah dibom terlebih dahulu di dekat buritan. Itulah sepenggal adegan dalam film yang sedang ditonton oleh Meira dan Deni.
Ketika film sudah berjalan separo, Deni berniat rehat sejenak dan Meira juga berniat pergi ke dapur untuk mengambil makanan.
__ADS_1
”Kamu, punya cemilan nggak?” Tanya Meira.
“Ada di dapur.” Sahut Deni.
Meira sedang menuangkan keripik kentang ke dalam mangkuk ketika ponselnya berbunyi. Otomatis Meira langsung mengangkatnya.
“Mir, bagaimana jadinya acara untuk Ocha besok?” Tanya Farah. “Aku kira kamu akan mengabariku.”
“Memang,” jawab Meira. “Aku memang bilang begitu, tapi aku lupa waktu.” Meira benar-benar lupa.
“Jadi bagaimana?” Desak Farah.
Deni muncul di ambang pintu. “Ada apa?” Bisiknya.
“Adegan tembak-tembakan selalu mempengaruhi selera makanku. Aku kelaparan nih.”
Meira menjauhkan ponsel dari telinganya. “Dari Farah. Sebentar ya.” Ujar Meira dengan suara hampir tidak terdengar.
“Bagaimana kalau kita buat surprise birthday untuk Ocha sepulangnya dari kantor saja Mir?” Suara Farah terdengar penuh semangat.
Farah menjelaskan mengenai ide-idenya.
“Wow.” Ucap Meira. “Boleh juga idemu.”
Farah masih sibuk menceritakan tentang rangkaian kejutan yang akan diberikan untuk Ocha dari awal hingga akhir.
Farah merasa wajib untuk memberikan kejutan yang tidak terlupakan pada Ocha. “Kamu tahu Mir, paling nggak kita harus bisa memancing emosinya.”
“Ehm,” ujar Meira
Deni mulai meniup telinga Meira.
“Bagaimana menurutmu Mir?” tanya Farah.
”Kamu setuju atau tidak?”
“Well…” Sehalus mungkin Meira menjauhkan kepalanya dari Deni, supaya tidak menyakiti perasaannya, tapi Deni tidak mengerti juga.
“Mir?” teriak Farah. “Mira? Kamu masih ada di sana?”
Bibir Deni mulai menyusuri leher jenjang Meira.
“Maaf,” ujar Meira, berusaha menahan tawa. “Ya, aku masih di sini.”
Meira benar-benar tidak bisa mencerna perkataan Farah.
Farah menuturkan khayalannya tentang ide-ide yang menurutnya sangat menarik.
__ADS_1
“Jadi gimana pendapatmu? Apa kamu punya ide lain?”
Pendapat? Ide? Siapa yang bisa memberikan pendapat serta ide di saat seperti ini.
“Apa?” Tanya Meira.
Deni menggesek-gesekkan wajahnya di rambut Meira.
“Ada apa sih?” Bentak Farah. “Ada orang di sana bersamamu, Mir? Kamu sedang apa?”
“Tidak sedang apa-apa,” jawab Meira.
“Tunggu sebentar ya?” Meira kembali menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Den…..” Meira memohon.
“Teruslah berbicara,” bisik Deni. “Anggap saja aku tidak ada di sini.”
“Tidak bisa,” tolak Meira.
Deni menempelkan bibirnya di bibir Meira.
“Miraa…” Jerit Farah. “Mira ada apa sih?”
“Kutelepon kamu nanti ya,” janji Meira. “Aku sedang tidak bisa bicara sekarang.”
Meira masih memegang ponselnya waktu Farah memutuskan pembicaraan.
💞💞💞💞💞💞💞
Beberapa saat setelah film selesai, Deni tertidur pulas di sofa. Meira mengelus kepalanya lalu mengambilkan bantal untuk menopang kepalanya.
Setelah itu ia mondar mandir di ruang tamu. Saat Deni tidur, rumah ini benar-benar terasa kosong.
Meira duduk termenung, dan tiba-tiba tercetus idenya untuk memberi kejutan yang tidak terlupakan di hari ulang tahun Ocha.
Meira ingin di hari ulang tahun Ocha besok menjadi momen yang mengharukan. Seluruh teman-teman kantor diminta membuat video atau kenang-kenangan yang pernah dilakukan Ocha selama di tempat kerja. Entah berupa video atau foto. Jadi setelah jam pulang kantor semua lampu dimatikan dan video akan ditampilkan pada layar, dengan backsound yang bisa membuat Ocha terharu.
Dilihatnya jam dinding, semoga saja Farah tidak tidur siang, lalu ia menelepon Farah.
Meira bercerita mengenai idenya, dan Farah menyetujuinya.
”Tapi selama jam kerja kita harus pura-pura tidak ingat kalau hari itu hari ulang tahunnya Mir, biar mengalir seperti hari biasanya, seolah kita tidak peduli bahwa hari tersebut adalah momen yang spesial.”
“Oke…kue ulang tahun juga minta diantar sore saja ya, lalu titipkan dulu di resepsionis.” Ujar Meira.
“Sipp Mir, aku mau hubungi teman-teman yang lain dulu.” Ucap Farah bersemangat.
__ADS_1