SENJA DI HATI MEIRA

SENJA DI HATI MEIRA
Episode 30


__ADS_3

“Kenapa kamu nampak bahagia, setelah bertemu Julia? Apa dia berbuat baik padamu?” Tanya Deni curiga.


Meira menggeleng sambil tersenyum.


Wajah Deni terlihat masih bingung.


“Lalu apa yang dia lakukan?” Desak Deni.


“Dia mencoba membuatku emosi, dan berusaha membuatku cemburu,” ujar Meira.


“Terus?” Tanya Deni tidak mengerti.


“Terus dia yang kepanasan sendiri,” Meira terbahak.


“Oh ya?” Deni melebarkan matanya.


Meira mengangguk sambil mengaduk-aduk isi zuppa soupnya, untuk mencari daging asap kesukaannya.


“Kamu ngomong apa sama dia, sampai dia kebakaran jenggot gitu?” Tanya Deni penasaran.


“Farah yang ngomong bukan aku,” Meira terkikik.


“Farah ngomong apa?” Deni turut menahan tawa, karena ia tidak bisa membayangkan, Julia harus berhadapan dengan seorang Farah yang suka bicara ceplas ceplos.


“Awalnya Julia menuduh aku mendekati kamu.” Jawab Meira lirih.


“Aku sih nggak masalah dibilang gitu.” Meira terdiam sesaat.


“Tapi setelah itu dia bilang, kalau aku merendahkan diri.”


Mendengar apa yang disampaikan Meira, spontan Deni merasa geram.


“Jangan khawatir Mir, biar nanti aku bilang ke Julia, kalau apa yang dia katakan itu tidak benar.” Deni menenangkan Meira, lalu ia mengusap-usap pipi Meira dengan lembut.


“Pasti Mira sedih sekali dituduh seperti itu.” Batin Deni.


“Nggak usah Den, aku dan Farah sudah berhasil menanganinya.“ Ujar Meira


“Oh iya, teruskan ceritanya…!” Pinta Deni.

__ADS_1


Lalu Meira menceritakan bagaimana Farah telah berhasil membuat Julia meradang.


“Muka dia sampai merah bangettt, mungkin karena marah bercampur malu,” Meira terkekeh.


“Terus….Akhirnya dia ngomong apa?” Tanya Deni.


“Aku buang-buang waktu di sini, terus kabur.” Kata Meira.


“Dia memang harus diberi pelajaran supaya jera.” Deni terbahak.


“Kamu yakin dia bakalan jera?” Tanya Meira tidak yakin.


“Semoga saja.” Ucap Deni.


“Kenapa Julia bisa seperti itu ya Den?” Tanya Meira lagi


“Seperti apa maksud kamu Mir?” Deni balik bertanya.


“Seperti tidak bisa menerima, kalau ada kalanya sesuatu yang ia inginkan belum tentu bisa ia dapatkan,” ujar Meira.


“Menurut cerita Julia, sejak ia kecil, kedua orangtuanya terlalu sibuk bekerja. Ayahnya bekerja di luar kota, dan biasanya pulang ke rumah hanya satu bulan sekali. Ibunya juga bekerja di kantor dan sering pulang hingga larut malam. Julia kecil diasuh oleh pengasuhnya. Hampir setiap hari orangtuanya tidak berada di rumah. Rumahnya yang besar dan luas, serasa tidak berpenghuni, hanya ada pengasuh dan dua asisten rumah tangga yang tinggal di sana, Julia seringkali merasa kesepian. Ia seperti tidak mempunyai orang tua dan teman. Ia hanya mempunyai benda-benda mewah sebagai kompensasi dari kesibukan orangtuanya, apapun yang Julia mau selalu dipenuhi oleh kedua orangtuanya. Apapun yang Julia minta, pasti akan dikabulkan. Mungkin karena kebiasaan itulah yang membuat sikapnya menjadi manipulatif. Ia tidak peduli apa yang ia perbuat dan seberapa merugikan untuk orang lain, yang penting ia bisa meraih apa yang diinginkannya.” Cerita Deni.


“Ya… temanya hanya beberapa orang saja, itupun bukan teman dekat.”


“Seandainya dia tidak membenciku, mungkin aku dan Julia bisa jadi teman.” Meira tersenyum tipis.


“Lupakan saja Mir..dia tidak seperti yang kamu bayangkan, hatinya sulit untuk ditebak, dia tidak mempunyai hati yang tulus seperti kamu.” Ungkap Deni.


“Oh iya…orangtuanya juga bercerai saat Julia masih duduk di bangku SMP, lalu ayahnya menikah lagi dan Julia tinggal bersama ibunya. Makanya seperti yang aku bilang, dia tidak mudah berteman, karena dia selalu menaruh curiga pada orang lain. Dia pikir, semua orang sama seperti ibu tirinya, yang telah merebut kasih sayang ayahnya.” Lanjut Deni.


“Kasian juga dia ya, dibalik sifatnya yang menyebalkan tapi dia mempunyai sisi kehidupan yang menyedihkan, ia punya segalanya, tapi dia tidak punya kasih sayang yang seharusnya dia dapat sejak kecil.” Ujar Meira prihatin.


Deni hanya mengangguk.


Ia memandangi Meira, wajahnya begitu lembut dan tulus.


Deni kagum dengan sifat Meira yang pemaaf. Meskipun Meira tidak suka dengan Julia, tapi Meira tidak membencinya.


Cinta dewasa seperti inilah yang membuat Deni semakin mencintai Meira. Cinta yang mampu menerima apa adanya, termasuk menerima dua individu yang berbeda. Sehingga tidak ada pihak yang perlu merasa menyembunyikan jati diri, opini dan identitasnya hanya untuk menghindari konflik.

__ADS_1


“Kenapa kamu pandangi aku seperti itu?” Tanya Meira heran.


“Karena kamu begitu cantik, orang pasti tidak akan pernah bosan kalau memandangi kamu terus menerus.” Puji Deni.


Lalu Deni merengkuh pundak Meira erat-erat.


🍃🍃🍃🍃🍃


Sementara di meja lain di sudut kafe itu, terlihat Julia sedang mengawasi Deni dan Meira. Hatinya terasa tercabik-cabik melihat kemesraan mereka berdua. Tangisnya tertahan,


“Apa yang sedang mereka bahas…mereka tampak bahagia.” Batin Julia.


Julia sangat iri pada Meira. Meira mendapat semua yang ia tidak pernah dapatkan. Kasih sayang dari kedua orangtua dan juga cinta dari Deni. Kenapa kehidupan ini seperti berpihak pada Meira. Bahkan Julia merasa kalau teman-temannya juga berpihak pada Meira. Bagi Julia, Meira sama sepeti ibu tirinya. Mereka berdua sama-sama merebut orang yang ia cintai.


”Apa kekuranganku, apa aku tidak secantik dia?” Tanya Julia geram pada Sekretarisnya yang bernama Nina.


“I..I..Ibu lebih cantik.” Jawab Nina terbata.


“Tapi kenapa Deni lebih memilih Meira?”


“Apa keistimewaan gadis itu?”


Julia terisak, dan Nina berusaha untuk menenangkannya.


“Lebih baik kita pulang bu, ibu istirahat saja di rumah..tidak baik terlalu lama berada di sini.” Saran Nina.


“Tidak..!!” Bantah Julia.


“Aku akan tetap di sini, menunggu mereka, meskipun harus menahan rasa sakit.”


“Aku iri dengan wanita itu, dia bisa sedekat itu dengan laki-laki yang sangat aku cintai.”


“Jangan pernah iri pada seseorang bu, karena itu akan membuat hati ibu tidak tenang.”


“Maaf bu kalau saya terlalu ikut campur.” Nina meminta maaf.


Julia terdiam. Nasehat apapun yang disampaikan padanya seakan tidak mempan untuknya. Meskipun nasehat itu untuk kebaikannya sendiri. Hatinya terlalu keras. Apalagi ini menyangkut masalah perasaan, siapapun tidak bisa melawannya. Hanya Deni, yang mampu membuatnya terus hidup dan bahagia. Meskipun saat ini, perhatiannya sering diabaikan, dan Deni selalu bersikap acuh tak acuh padanya, namun ia percaya kalau ini belum saatnya, karena suatu saat nanti hati Deni pasti akan luluh. Banyak orang yang mengatakan kalau cintanya pada Deni bukanlah cinta yang sehat, namun Julia tetap tak mau ambil pusing, ia merasa bahwa orang hanya merasa iri padanya. Dengan memberikan segalanya pada Deni, bukan kesedihan yang akan ia dapatkan, melainkan kebahagiaan.


Cinta memang buta.

__ADS_1


__ADS_2