
Meira memarkir mobilnya di depan coffee shop di dekat kantornya. Tampak Farah sudah menunggu di sana, Meira buru-buru menghampirinya.
“Ya ampun kamu ngapain Far, mata kamu sampai bengkak gitu?” tanya Meira
“Mirrrr…” tangis Farah tertahan.
“Aku patah hati Mir, hatiku sakit sekali rasanya” lanjutnya.
“Patah hati gimana?” Meira menarik kursi sembari duduk di samping Farah
“Aku ditolak sama Dimas.” jawab Farah sambil menunduk dan menutup wajahnya
“Tenang dulu Far, jangan nangis gitu, malu diliatin banyak orang” bisik Meira
Farah menghapus air matanya dan menarik nafas panjang.
“Jadi kamu sudah menyatakan cinta ke Dimas, terus dia menolak kamu?” Tanya Meira bingung.
Farah menggelang “Enggak begitu Mir”
“Terus gimana ceritanya kamu tahu kalau dia menolak kamu?” Meira ingin tahu.
“Jadi tadi dia bilang sama aku, supaya mulai sekarang, aku tidak usah menghubungi dia lagi, katanya dia sudah punya calon istri dan sebentar lagi mereka akan menikah, gitu katanya Mir, nggak tahu itu beneran atau cuma alasan dia aja, untuk menghindari aku” cerita Farah sedih
Sejenak Meira menghela nafas, lalu menepuk-nepuk pundak Farah.
“Bukannya lebih baik kamu tahu dari sekarang Far daripada besok-besok itu akan lebih menyakitkan”
“Mau tahu sekarang atau nanti nggak ada bedanya Mir, aku tetap belum siap menerima kenyataan kalau aku ditolak secepat ini, kemarin-kemarin juga dia tidak pernah bilang kalau dia sudah punya pacar” gerutu Farah
“Atau mungkin dia dijodohkan Far sama orangtuanya” Meira menebak-nebak
“Entahlah Mir, aneh aja menurutku, baru beberapa hari ini dia tidak merespon pesanku” ujar Farah
“Kalau dia tidak suka sama aku harusnya sejak dari awal dong dia bilang, bukannya malah main tarik ulur, itu sama aja kasih harapan kan Mir” lanjut Farah kesal.
“Aku sudah berharap banyak darinya dan sekarang harapan itu telah musnah” ucapnya lirih
Meira terdiam, tidak tahu harus bicara apa.
“Jadi gimana dong Mir” Farah merajuk.
“Gimana apanya?” tanya Meira
“Gimana biar Dimas mau menerima aku” ujar Farah
“Melepaskan dan merelakannya” jawab Meira
“Ahhh kamu Mir, itu bukan solusi, kamu belum pernah ngerasain apa yang aku rasain sih Mir” ujar Farah kesal
__ADS_1
“Kamu butuh solusi seperti apa Far? Aku harus menyarankan kamu supaya terus memaksa dan mengancam Dimas gitu, biar dia mau menerima cinta kamu?” tanya Meira
“Itu bukan solusi namanya Far, tapi itu aku menjerumuskan kamu” lanjut Meira
Kini giliran Farah yang terdiam.
“Cinta tidak bisa dipaksakan Far, dan cinta juga belum tentu datang dari pendekatan yang tekun dan terus menerus, karena cinta itu datangnya dari hati dan kecocokan jiwa.” nasehat Meira
“Tapi aku mencintainya Mir” ujar Farah
“Cinta terkadang memang tidak harus selalu memiliki kan Far”
Farah menunduk sedih, matanya berkaca-kaca dan tidak lama kemudian butir butir air mata itu keluar menjatuhi pipinya. Meira tidak tega melihatnya. Farah memang benar-benar suka dengan Dimas, dan cintanya begitu tulus, tapi sayang Dimas mengacuhkannya. Sejak awal Meira juga tahu kalau Dimas tidak menyukai Farah, sikapnya acuh tak acuh terhadap Farah. Namun bagi Farah tidak ada yang mustahil jika ia terus berusaha.
“Hatiku hancur Mir, benar-benar hancur, sampai kapan aku harus merasakan Mir?” Farah terisak
“Sesaat memang terasa pahit, kalau kamu merasa sedih dan hancur, itu wajar-wajar saja, tapi biarkan semuanya mengalir dengan sendirinya, lama kelamaan kamu akan terbiasa dan kamu akan baik-baik saja” hibur Meira
“Apa yang harus aku lakukan sekarang Mir?” suara Farah terdengar parau
“Hiduplah dengan bahagia mulai dari sekarang” Meira mengelus pipi sahabatnya
“Jangan sedih lagi, setiap orang mempunyai takdir hidup, kelak kamu akan bertemu dengan orang yang benar-benar mencintai kamu.” lanjutnya
“Bagaimana cara aku menyembuhkan luka di hatiku ini Mir? Rasanya masih sakit sekali” ujar Farah
“Secepatnya?” Tanya Farah
“Itu tergantung kamu, kapan kamu bisa membuka hati orang lain” tegas Meira
“Rasanya aku masih belum bisa membuka hati untuk orang lain Mir” ujar Farah
“Semuanya butuh proses Far, tidak perlu terburu-buru” sahut Meira.
Farah meneguk es kopi susu yang sedari tadi tidak disentuhnya. Setelah itu terdiam.
***
SATU BULAN BERLALU
Meira sedang merapikan barang-barangnya ketika pagi itu Farah mendatangi meja kerjanya. Ia tersenyum-senyum bahagia.
“Ada apa nih, happy banget kelihatan” ujar Meira sambil menyalakan laptopnya.
“Kenapa coba Mir?” Tanya Farah
“Pasti kamu punya gebetan baru” tebak Meira
“Salah” jawab Farah cepat
__ADS_1
“Terus apa yang bikin kamu happy? Ada yang mau nraktir?” Meira kembali menebak
Farah menggelengkan kepalanya.
“Aku punya ide Mir” Farah kembali tersenyum
“Ide apa sih, kok kamu senyum-senyum terus, curiga aku” kata Meira.
“Kamu mau nggak Mir, kenalin aku sama temennya Deni” ujar Farah
“Temennya Deni?” tanya Meira
“Iya Mir” Farah buru-buru mengangguk
“Kenapa kamu tiba-tiba punya ide minta dikenalin sama temennya Deni, Far?” tanya Meira
“Biasanya kamu cuma bercanda kalau minta dikenalin” ujar Meira lagi
“Ide itu udah lama kali Mir, cuma aku sungkan aja sama kamu dan Deni” jawab Farah malu-malu
“O ya?” Meira mengangkat alisnya
“Kali aja kan Mir, teman Deni ada yang masih single” kata Farah
“Aku udah capek nih sendiri terus, apalagi ngliat kamu sama Deni, bikin ngiri” lanjutnya sambil tertawa.
Sebenarnya Meira sempat ingin mengenalkan Farah dengan sepupunya yang bernama Irwan, Irwan kala itu benar-benar serius mencari istri dan dia juga sudah mempunyai pekerjaan yang mapan, tapi Meira sungkan, karena Irwan sepertinya bukan tipe Farah, jadi Meira mengurungkan niatnya untuk memperkenalkannya pada Farah, dan sekarang Irwan sudah menikah.
“OK…nanti aku bilang sama Deni ya” jawab Meira
“Kamu mau ngomong gimana sama Deni, Mir?” tanya Farah
“Ya ngomong kalau Farah minta dikenalin sama temen kamu, gitu kan” jawab Meira
“Jangan gitu lah Mir, kalau gitu kesannya aku agresif banget” ujar Farah
“Kalau gitu nanti aku bilang aja sama Deni, kalau Deni punya teman yang masih single, mau aku kenalin sama Farah” celetuk Meira
“Nah itu baru bener Mir, jadi kesannya kamu yang punya ide buat ngenalin aku sama temennya Deni” Farah menyeringai.
Meira tersenyum pada Farah “Kurang baik apa coba aku ini Far” canda Meira
“Kamu terlalu baik Mir, buat aku kamu itu sahabat rasa saudara” Farah mencubit pipi Meira.
“Sebagai kompensasi atas kebaikan kamu selama ini, nanti siang aku aku traktir kamu bakso ya” lanjut Farah
“Asseekkk” seru Meira
“Sampai nanti Mir” Farah berlari kembali menuju meja kerjanya.
__ADS_1