
Meira menoleh untuk melihat siapa yang menepuk bahunya, dan seketika senyuman di wajahnya sirna saat mengetahui siapa yang datang. Wajah yang selalu membayangi dirinya kini berdiri di hadapannya.
“Betul kan ini Meira, dari tadi aku memperhatikan dan mengikutimu dan ternyata betul kamu Meira..” ujar Julia
Meira bergeming. Ia tidak percaya Julia ada di sini.
“Boleh aku bergabung dengan kalian di sini?” Julia meminta ijin.
Meira masih membisu, ia hanya menganggukkan kepalanya.
Julia menarik kursinya kemudian duduk di depan Meira.
Meira melirik ke Farah yang tampaknya masih belum tahu siapa wanita yang duduk di depan mereka.
“Oh ya, ini teman kamu Mir?” Tanya Julia sambil menunjuk Farah.
Lagi-lagi Meira hanya mengangguk.
Julia lalu mengulurkan tangannya pada Farah, dan disambut oleh Farah dengan senyuman hangat.
Akan tetapi, tidak lama berselang, raut wajah Farah berubah, senyuman itu menghilang dan berganti dengan tatapan tajam, setelah Julia memperkenalkan dirinya. Farah menoleh ke arah Meira, lalu ia menggegam tangan sahabatnya itu.
“Kenapa kamu mengikuti aku? Bukankah sebelumnya kita tidak punya kepentingan apapun?” Akhirnya Meira angkat bicara.
Julia tersenyum tipis.
“Jangan salah sangka dulu Mira, aku hanya ingin berteman denganmu..Sepulang aku dari luar negeri, aku tidak punya teman di sini.” Jawab Julia.
“Jadi boleh kan aku berteman dan mengobrol denganmu?” tanya Julia dengan senyum palsu.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” Tanya Meira
“Tentunya kamu tahu apa yang ingin aku bicarakan denganmu..” ujar Julia
__ADS_1
“Katakan..!” Tuntut Meira
“Sudah berapa lama kamu kenal Deni?” Selidik Julia
“Itu bukan urusanmu!” jawab Meira cepat
“Tentu saja ini urusanku, karena Deni adalah orang terdekatku,” ujar Julia ketus
“Maksud kamu? Deni pacar kamu?” Tanya Meira tenang.
“Aku tidak perlu menjawabnya, karena seharusnya kamu tahu, arti dari teman dekat antara laki-laki dan perempuan.” Julia mulai memanasi Meira
“Aku dan Deni sangat dekat…aku adalah teman wanita satu-satunya Deni di waktu kuliah…Dimanapun ada Deni di situ pasti aku. Deni yang selalu mengantar aku kemana-kemana. Teman-teman kuliah, menganggap kami sebagai pasangan yang serasi." Cerita Julia
Farah mengawasi mereka berdua dengan tegang.
Meira tertawa santai, karena ia sendiri pernah mendengarnya dari Deni.
“Kamu tidak percaya Mir?” Tanya Julia serius
Julia heran mengapa Meira tidak cemburu, dan masih terlihat santai menanggapi ceritanya.
“Teruskan kalau kamu masih ingin bercerita?” Ucap Meira
“Baiklah…” kata Julia pura-pura tenang.
“Aku dan Deni bisa dibilang pasangan kekasih, meskipun tidak pernah ada kata yang terucap dari mulut kami, akan tetapi dengan perlakuan Deni ke aku, begitu juga sebaliknya,,tentunya itu sudah menyiratkan kalau kami berdua saling mencintai dan saling membutuhkan.” lanjut Julia
“Deni termasuk tipe laki-laki yang tidak mudah dekat dengan wanita, tapi denganku dia bisa begitu dekat dan nyaman. Mungkin saja banyak wanita yang iri padaku. Kamu tahu kan…berapa banyak wanita yang suka dengan Deni dan berusaha untuk mendekatinya, tetapi mereka tidak seberuntung aku. Aku tidak perlu susah-susah mengejarnya.”
Terlihat Farah mencibirkan bibirnya. “KePeDean banget wanita ini,” batin Farah.
“Oh ya…dulu kamu termasuk salah satu yang mendekati Deni juga ya….” sindir Julia. Lalu ia tertawa kecil.
__ADS_1
“Serendah itu kamu Mir…” ujar Julia sinis
Mulut Meira terasa bergetar. Seluruh tubuhnya terasa panas dan jantungnya berdetak dengan cepat. Ia menyipitkan matanya lalu menatap tajam Julia.
“Tolong jaga perkataan kamu Julia…” ujar Meira sambil menahan emosi.
“Asal kamu tahu ya…Mira tidak pernah mengejar Deni….aku tahu itu.” Sanggah Farah dengan nada marah. Ia tidak tahan sahabatnya diperlakukan seperti itu.
Meira memegangi tangan Farah, dan berusaha menenangkannya.
“Boleh aku jelaskan semuanya Mir, biar dia tahu, kalau kamu tidak seperti yang dia pikirkan,” ujar Farah emosi.
“Dulu kantor Deni bersebelahan dengan kantor kami, sebelum akhirnya Deni pindah ke kantor barunya yang sekarang. Aku dan Meira sering bertemu Deni saat jam makan siang atau pulang jam pulang kantor…Deni suka sekali memperhatikan Mira. Matanya selalu bersinar ketika bertemu Mira, dan aku lihat ada cinta di sana. Tak jarang di saat jam istirahat, dengan sengaja Deni bersama seorang temannya mengikuti kami, supaya mereka bisa makan siang di tempat yang sama dengan kami, dan pastinya supaya dia bisa bertemu dengan Mira. Sampai suatu hari Deni memberanikan diri untuk menanyakan tentang Mira padaku. Deni sering menitipkan salam untuk Mira lewat aku. Awalnya Mira tidak terlalu menanggapinya. Sampai akhirnya hati Mira luluh juga. Tidak lelah Deni mendekati Mira, walau itu tidak mudah. “Harus berjuang dan terus berjuang”, kata Deni kala itu. Seringkali dengan sukarela ia menunggui Mira yang harus lembur di kantor sampai larut malam. Lalu setelah itu dengan senang hati mengantarkan Mira pulang ke rumahnya..Dan aku adalah orang yang paling bahagia ketika mengetahui mereka sudah jadi pasangan kekasih. Mereka adalah pasangan yang selalu mengumbar kemesraan, maka aku dan teman-teman kantor menjuluki mereka love bird. Aku dan teman-teman kantor mempunyai impian, kelak jika kami mempunyai pasangan, kami ingin seperti Meira dan Deni.” Cerita Farah panjang lebar dengan senyum mengembang.
Julia menelan ludahnya, lalu menghembuskan nafasnya dengan berat. Wajahnya memerah, darah yang mengaliri tubuhnya seperti mulai mendidih, dan mengeluarkan hawa panas. Ia mencoba menahan rasa marah dan perasaan cemburu yang telah tercampur aduk di hatinya.
Perkataannya bagaikan senjata makan tuan. Awalnya ia ingin menyerang Meira dan membuatnya cemburu, namun semua itu malah berbalik padanya, hatinya kini perih bagai tersayat sembilu.
“Deni begitu gigih mengejar Meira, bahkan ia rela berkorban demi Meira. Deni tidak pernah melakukan itu untukku. Aku yang selalu mengejarnya, dan sampai sekarang dia tetap saja mengabaikanku. Padahal aku juga sudah banyak berkorban untuknya….Kini aku berhasil dipermalukan oleh Meira dan Farah karena memperjuangkan Deni.” Batin Julia geram.
“Ada yang masih ingin kamu bicarakan denganku?” Tanya Meira dengan senyum kemenangan.
“Tidak..,tidak…sepertinya aku sudah banyak buang-buang waktuku di sini” ujar Julia. Lalu dengan terburu-buru pergi meninggalkan Meira dan Farah.
Meira dan Farah saling berpandangan lalu tertawa cekikikan.
“Orang model gitu, emang harus dikasih pelajaran Mir…biar kapok,” ujar Farah
“Iyaa,,, mukanya lucu banget waktu nahan marah,” timpal Meira.
“Merahhhh…kayak saus cabe” sahut Farah sambil tertawa. Meirapun ikut tertawa.
“Makasih banget ya Far, untung ada kamu, kalau enggak… Bisa jadi aku yang kabur duluan kayak Julia” kata Meira tulus.
__ADS_1
Farah menggangguk. “Itulah gunanya sahabat Mir.”