
Kembali ke Kantor
“Kenapa tadi kamu diem aja Far?” tanya Meira
“Aku malu banget Mir” ujar Farah
Meira mengangkat bahu
“Lagian Andre juga diem-diem aja, aku jadi bingung mau ngomong apa.” gerutu Farah
“Biasanya kamu suka ngajak ngomong orang duluan, kenapa tadi bisa berubah total gitu.” Ungkap Meira
“Entahlah Mir, aku nggak bisa ngomong apa-apa tadi, mulutku seperti terkunci, grogi banget” ujar Farah sambil menutup mulutnya
Meira menahan tawa “Jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta sama Andre”
“Sok tahu banget kamu Mir” Farah menyangkal
“Tahu lah” pekik Meira yakin
“Darimana kamu bisa tahu?” tuntut Farah
“Ciri-ciri orang jatuh cinta, semua ada di kamu sekarang” sahut Meira sambil memandangi sahabatnya.
“Emang ciri yang kelihatan dari aku apa Mir?” Tanya Farah pelan.
“Tegang dan gelisah saat ketemu Andre” jawab Meira
“Bener kan?” tanya Meira yakin
“Ahh kamu Mir” jawab Farah malu.
Lalu ia membalikkan badan dan berlari kecil menuju meja kerjanya. Tidak lama kemudian, dari meja kerja Farah sayup sayup terdengar lagu Dying Inside To Hold You milik Timmy Thomas
🎵🎵
It’s turning out just another day
I took a shower and I went on my way
I stopped there as usual
Had coffee and pie
When I turned to leave
I couldn’t believe my eyes
Standing there I didn’t know what to say
Without one touch
We stood there face to face
And i was dying inside to hold you
I couldn’t believe what i felt for you
Dying inside i was dying inside
But i couldn’t bring myself to touch you
You said hello then you asked my name
__ADS_1
I didn’t know if i should go all the way
Inside i felt my life have really changed
l knew that it would never be the same
Standing there i didn’t know what to say
First time looked away when i whispered your name
And i was dying inside to hold you
I couldn’t bring my self to touch you
…….
I didn’t believe in love a first sight
But you’ve shown me what is life
…
🎵🎵
Meira tersenyum tipis.
“Rupanya Farah sudah jatuh cinta pada pandangan pertama, semoga Andre juga mempunyai perasaan yang sama dengan Farah” pintanya
***
Malam harinya Meira berbicara dengan Deni ditelepon.
“Tanggapan Andre tentang Farah gimana Den?” tanya Meira
“Dia sih nggak ngomong apa-apa Mir” jawab Deni
“Di perjalanan aku sempat nanya, gimana Farah, dia cuma jawab ya nggak gimana-gimana, terus lanjut lagi main handphone” cerita Deni
“Jawaban yang datar” timpal Meira sambil terkekeh
“Memang Andre orangnya susah ditebak” kata Deni
“Sayang sekali ya, padahal Farah sudah terlanjur jatuh cinta sama Andre.” tukas Meira
“Oh ya? Farah bilang sama kamu?” Selidik Deni
“Nggak sih, tapi dari gerak geriknya kelihatan.” ungkap Meira
“Tapi kita nggak bisa maksain Mir, tapi kita juga tidak perlu khawatir, jika memang mereka berjodoh, dan ini adalah hubungan cinta yang baik, pasti mengalir dengan sendirinya.” kata Deni
“Iya Den, karena cinta itu masalah hati, hati yang terdalam” tutur Meira
Mereka terdiam sejenak.
“Ngomong-ngomong acara yang hari Sabtu gimana Den?” Tanya Meira kemudian
“Acara hari Sabtu apa Mir?” Suara Deni terdengar bingung
“Itu loh ulang tahunnya Julia” Meira mengingatkan
“Oh.. aku malah lupa” Deni tertawa
“Aku malas datang Mir” lanjut Deni
__ADS_1
“Terus alasannya apa nanti kalau nggak datang?” Ujar Meira
“Nanti aku bilang ada acara lain.” sahut Deni
Meira mengangguk, ia juga tidak bisa memaksa Deni untuk datang ke acaranya Julia.
“Ehh… Mir… hari Sabtu kita ke kafe Chez yuk di jalan merpati itu, kamu mau nggak? Atau kamu ada ide mau kemana?” Deni memberi pilihan
“Aku mau ke kafe Chez aja Den, aku suka sekali tempat itu” jawab Meira cepat.
“Oke kalau gitu hari Sabtu kita ke sana ya, sekarang waktunya kamu istirahat Mir, sudah malam” pungkas Deni.
***
Jam istirahat siang Meira, Farah dan Ocha mengobrol di kantin, sambil menikmati makanan pesanan mereka masing-masing.
Meira memesan ketoprak dan es jeruk, Farah memesan Mie ayam dan es teh, sedangkan Ocha memesan soto ayam dan teh manis hangat.
“Kalian kemarin pada mau kemana sih buru-buru banget, aku panggil-panggil nggak dengar.” ujar Ocha
“Aduh maaf, kemarin buru-buru soalnya sudah ditunggu sama pacarnya Mira” jawab Farah.
“Nggak salah tuh..” protes Meira
“Salah apanya, emang iya kok, kamu ketemuan sama Deni” Farah menyeringai
“Kamu sukanya lempar batu sembunyi tangan” jawab Meira sambil menggigit kerupuknya
“Ada apa sih sebenarnya kenapa jadi ribut”.”ujar Ocha bingung
“Nggak apa-apa Cha, kayak nggak tahu kita aja sukanya bercanda” jawab Meira
Setelah menandaskan soto ayam, dan menyeruput teh hangatnya sampai habis, Ocha tiba-tiba teringat sesuatu. “Astaga ada beberapa lembar laporan yang belum aku print.” Ia berdiri sambil mengemasi dompet dan handphonenya.
“Aku duluan ya” pamit Ocha pada Meira dan Farah.
“Oke Cha” jawab Meira dan Farah bersamaan
“Andre ada nanyain aku nggak Mir?” tanya Farah malu-malu
“Mana aku tahu” jawab Meira singkat sambil menyesap es jeruknya.
“Masak Deni nggak cerita sama kamu?” desak Farah
“Aku belum sempat nanya dan Deni juga belum sempat cerita ke aku semalam” jelas Meira
Wajah Farah nampak kecewa.
Meira merasa tidak enak hati kalau harus jujur menjawab pertanyaan dari Farah. Masak Meira harus menjawab kalau Andre cuek dan tidak menanyakan dirinya sama sekali. Meira tidak tega melihat Farah kecewa. Akan tetapi jauh di lubuk hatinya, Meira yakin kalau Andre juga menyukai Farah. Meira beberapa kali memergoki Andre sedang curi-curi pandang pada Farah. Ungkapan cinta setiap orang memang berbeda-beda. Bisa jadi sikap cueknya Andre adalah ungkapan perasaan sukanya pada Farah. Hanya saja Andre tidak mau gegabah untuk langsung mendekati Farah. Pastinya dia butuh waktu.
“Nanti aku tanyakan ke Deni ya Far” ujar Meira kemudian.
“Udah jangan manyun gitu” hardik Meira
“Nanti cantiknya hilang lho.” lanjutnya
Farah tersenyum. “Setelah bertemu dengan Andre, patah hatiku dengan Dimas benar-benar sudah sembuh Mir”
“Benar kata kamu, cara mudah menyembuhkan patah hati adalah jatuh cinta pada orang lain” lanjut Farah.
Meira mengangguk.
“Meskipun beberapa waktu lalu aku ditolak Dimas, tapi sekarang aku sama sekali tidak merasa sakit hati. Luka itu kini telah sembuh.” Ujar Farah
__ADS_1
“Bisa jadi itu pertanda kalau kamu harus melepaskan dan merelakan Dimas, dan kamu berhasil” kata Meira
“Betul banget Mir” Farah tersenyum lega.