SENJA DI HATI MEIRA

SENJA DI HATI MEIRA
Episode 6


__ADS_3

Suasana rumah sudah sepi saat Meira tiba di rumah. Meira membuka kunci pintu depan.


“Papa dan Mama pasti sudah tidur“ batinnya


Televisi sudah dimatikan dan ruang tengah sudah gelap. Meira tadi memang sengaja membawa kunci rumah sendiri untuk berjaga-jaga kalau ia pulang agak larut, supaya tidak mengganggu Papa dan Mama. Dan ternyata memang benar, malam ini ia pulang larut malam.


la berjalan masuk sambil berjingkat-jingkat karena tidak ingin membangunkan Papa dan Mama. Sebisa mungkin ia berusaha untuk tidak menimbulkan suara. Meira menahan nafas ketika mendengar ada suara di dapur.


“Apa pintu belakang tidak dikunci ya, jangan-jangan ada pencuri masuk?“


Perasaan takut dan ingin tahu berkecamuk di hati Meira. Ia berjalan berlahan menuju dapur, dan ia begitu terkejut ketika mendadak melihat mama berada di depannya. Ia tak berkedip melihat siapa yang ada di depannya.


“Kamu baru pulang Mir? kenapa kamu melihat mamamu seperti itu?“ tuntut Mama


“Seperti apa memangnya ma?” Tanya Meira


“Seperti kamu lupa kalau mama juga tinggal di sini,” nawab Mama.


Meira cepat-cepat menjawab.


“Ohh Ma, bukan begitu maksud Mira.”


“Mira pikir tadi mama sudah tidur, ruangan juga sudah gelap semua.“


“Nggak biasanya juga jam segini mama masih di dapur.“


“Jadi Mira pikir ada pencuri masuk, lewat pintu belakang.“

__ADS_1


“Terus kamu pandangi mama seperti itu? Sekarang kamu percaya nggak ini mama kamu?” Tanya Mama


“Maafin Mira Ma, Mira percaya ini mama Mira.“ jawab Meira sembari memeluk mamanya


Meira mengambil teko yang berisi air putih di meja makan dan menuangkannya ke dalam gelas, lalu meneguknya.


“Papa sudah tidur Ma?“ tanya Meira


“Sudah dari tadi.” jawab Mama


“Kamu dari mana saja Mir, jam segini baru pulang?”


“Tadi Deni ngajak Mira ke sebuah kafe Ma, kafenya nyaman sekali untuk bersantai, Mira dan Deni makan sembari ngobrol di sana dan tanpa terasa sudah malam aja.”


Mama mengangguk.


“Ya sudah sekarang waktunya kamu istirahat Mir, mama juga mau tidur.“


***********


Selesai mandi, Meira merebahkan badannya di tempat tidur. Ia tersenyum sambil memegangi bibirnya.


“Ciuman Deni masih begitu terasa, lembut dan hangat.” Meira terkekeh.


Bila ia memajamkan mata, bibir Deni masih terasa menempel di bibirnya.


Meira memiringkan tubuhnya, dan berkali-kali mencoba memejamkan mata. Tapi entah mengapa sulit rasanya memejamkan mata malam ini. Bayangan Deni selalu melintas dalam pikirannya.

__ADS_1


“Seandainya rumah Deni ada di sebelah rumahku, aku pasti akan datang dan mengetuk pintu rumahnya sekarang, tidak peduli ini jam berapa, dan Denipun pasti tidak akan bertanya, kenapa malam-malam kamu datang ke sini, karena dia tahu alasannya, dan aku juga yakin Deni pasti juga merindukan aku. Lalu kami berpelukan.” Meira berkhayal.


Sebetulnya Deni bukanlah pacar pertama Meira. Sebelum bertemu Deni, Meira pernah berpacaran dengan teman kuliahnya bernama Bayu. Tetapi perasaannya terhadap Bayu kala itu, tidak sama seperti apa yang dirasakannya dengan Deni sekarang. Rasanya sangat berbeda. Mungkin pada saat itu Meira belum terlalu memikirkan cinta, ia hanya fokus pada kuliahnya, sedangkan berpacaran hanya sekedar baginya, sekedar ada teman nonton, teman jalan-jalan, teman belajar, pokoknya tidak lebih dari itu.


Meira teringat saat ia makan malam pertama bersama Deni. Deni mengajaknya ke sebuah restoran di pinggir pantai. Suasana menjadi sangat romantis ketika suara gemuruh ombak di pantai menjadi saksi bisu awal dari perjalanan cinta mereka.


Setelah selesai makan Deni mengajak Meira duduk di tepi pantai yang dingin. Angin berembus kencang dan Deni memberikan jaketnya pada Meira, saat Meira mulai kedinginan. Deni menyentuh wajah Meira dengan tangannya. Meira tertunduk malu. Jantungnya berdebar sangat kencang, jika Deni mendengarnya, Meira pasti akan sangat malu. Tidak banyak kata yang terucap malam itu, hanya raut wajah yang menyiratkan kalau keduanya sedang dimabuk asmara.


Deni memberikan sebuah kalung pada Meira, dan meminta Meira untuk menyimpannya.


“Kalau kamu mau pakai juga boleh,” ujar Deni.


Meira tersenyum bahagia, lalu ia meminta tolong Deni untuk memakaikan kalung itu. Setelah itu mereka berdua berjalan menyusuri pantai sambil bergandengan tangan.


Deni mengantarkan Meira pulang ke rumahnya, dan ketika sudah sampai di depan rumah Meira, Deni menghentikan mobilnya. Cahaya terang rembulan menembus kaca mobil Deni. Deni meletakkan tangannya di pundak Meira, kemudian menciumnya. Saat itulah Meira merasakan benar-benar jatuh cinta. Ia membalas ciuman Deni. Meira seolah tidak peduli, jika ada tetangga yang melihatnya, dan bergosip tentang dirinya yang sedang berciuman dengan seorang laki-laki. Biarlah malam ini dunia hanya menjadi miliknya dan Deni.


“Aku jatuh cinta… aku jatuh cinta“ kata Meira berulang-ulang ketika ia sampai di dalam kamarnya. Ia menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Pantas saja ada banyak musisi yang membuat lagu yang bercerita tentang cinta, karena tidak ada perasaan yang bisa menyerupainya. Cinta benar-benar indah.


“Luar biasa rasanya, sungguh pengalaman terindah yang pernah aku rasakan,” gumam Meira.


Hari-hari yang dilalui Meira bersama Deni sungguh membahagiakan, mereka berdua adalah pasangan yang serasi. Keduanya hampir tidak pernah bertengkar. Bersama Deni, hati Meira selalu diliputi kebahagiaan, matanya selalu berbinar dan wajahnya selalu dihiasi senyuman.


Ada beberapa hal yang tidak bisa disembunyikan oleh manusia di dunia ini dan salah satunya adalah cinta.


Meira merasa menjadi orang yang sangat beruntung, karena telah menemukan orang yang berharga di dalam hidupnya, karena banyak orang yang tidak bisa menemukan itu selama hidupnya.


Meira sendiri tidak mengerti definisi cinta sejati itu seperti apa. Tapi menurutnya Denilah yang paling mendekati kategori itu. Deni yang selalu menghiburnya di saat ia bertanya mengapa dirinya dan Farah akhir-akhir ini sering tidak cocok. Meira sangat mengandalkan dan membutuhkan Deni dalam banyak hal, sampai-sampai ia pernah berpikir kalau pada akhirnya ia menikah dengan Deni, dan salah satu dari mereka ada yang meninggal, maka jika diperbolehkan Meira akan meminta pada Tuhan agar dirinya saja yang meninggal terlebih dulu, supaya ia tidak merasakan kalau harus hidup tanpa Deni. Egois memang. Tetapi bukankah cinta itu seringkali egois?

__ADS_1


Meskipun cinta mereka satu sama lain begitu besar, namun cinta Meira dan Deni adalah cinta yang dewasa. Mereka memahami bahwa saling mencintai berarti melewatkan waktu bersama, tetapi tidak sepanjang waktu, mereka juga tidak boleh melupakan teman-teman mereka. Meira berharap kisah cintanya bersama Deni berakhir bahagia. Karena ia percaya bahwa sebuah awal yang baik akan berujung kebahagiaan.


Dan tidak terasa Meira sudah terlelap dalam tidurnya.


__ADS_2