SENJA DI HATI MEIRA

SENJA DI HATI MEIRA
Episode 9


__ADS_3

Meira dan Deni bergandengan tangan memasuki ballroom, tempat resepsi pernikahan digelar.


Seluruh ballroom hingga pelaminan tertutup oleh jutaan bunga yang didominasi warna putih. Pengantin wanita menggunakan gaun panjang ala princess yang cantik, dan kue pengantinnya dibentuk seperti kastil istana yang mewah. Sungguh pesta pernikahan ini layak disebut dream wedding.


“Kita kasih ucapan selamat dulu ke pengantin ya Mir” kata Deni. Meira mengangguk.


Setelah selesai bersalaman dan berfoto dengan pengantin, Deni mengajak Meira untuk menemui teman-temannya, Di sana sudah ada Reno dan dua teman lainnya. Deni menyalami mereka satu persatu, begitu juga dengan Meira.


“Vika mana, kok nggak keliahatan?” tanya Meira pada Reno. Vika adalah pacar Reno.


“Vika lagi ada acara keluarga Mir, jadi dia nggak bisa ikut” jelas Reno


“Yahhh…” Desis Meira kecewa. Padahal Meira berharap Reno datang bersama Vika, supaya ia ada teman, saat Deni, Reno dan teman-teman yang lain asik mengobrol.


“Ohhh jadi ini pacar Deni” seseorang berkacamata menyeletuk.


“Yoi Fer” jawab Reno


“Sama kan, kayak yang di foto?” tanya Deni.


Seseorang yang bernama Ferry itu mengernyitkan dahinya.


“Mmmm…. Sepertinya lebih cantik aslinya, coba saja kalau kamu ketemu aku lebih dulu sebelum ketemu Deni, pasti kamu naksirnya aku Mir,” ujarnya, disertai tawa teman-teman yang lain.


“Over PeDe loe Fer,” sambung teman lain yang bernama Yohan.


Deni menoleh ke Meira, seolah memberi tahu kalau apa yang baru saja dikatakan Ferry itu hanya bergurau. Meirapun memahami itu, kata-kata Ferry tidak ia ambil hati.


“Ehhh…Ngomong-ngomong kenapa kamu mau sama Deni, Mir?” tanya Yohan.


“Apa karena kasian melihat dia selalu kesepian?” desak Yohan


Meira tertawa kecil, tidak tahu harus menjawab apa.


“Kamu tahu nggak Mir sebelum ketemu kamu, Deni sering menghabiskan waktunya sepulang kerja atau setiap weekend di sebuah kafe, entah apa yang dilakukannya,” ujar Reno


“Kafe yang di jalan merpati itu?” tanya Meira


“Yaaa… Betul” jawab Reno cepat.


“Kamu pernah diajak ke sana?” giliran Ferry yang bertanya sekarang.


“Iya pernah.” Jawab Meira.


Deni hanya diam, ia tidak bisa berkata apa-apa karena malam ini dirinya jadi bahan bulan-bulanan teman-temannya.


“Ohhh, mungkin dia mau menapak tilas di tempat dia dulu meratapi nasibnya yang selalu jomblo,” Reno meledek.


Semua teman Deni tertawa terbahak-bahak.


“Ingat ya, jomblo itu memang pilihanku waktu itu,” Deni membela diri.


“Tapi heran kenapa ya, Deni yang cuek gini, banyak banget yang suka?” ujar Yohan


“Pastinya karena aku lebih ganteng dari kalian.” jawab Deni cepat.


“Halahhh… percuma ganteng kalau hatinya sedingin gunung es,” timpal Ferry.

__ADS_1


“Kemana-mana sendiri.” Sambung Ferry menahan tawa.


“Tapi pada akhirnya….lihat aku punya pacar!” Ujar Deni sambil merangkul pinggang Meira.


“Ya si gunung es sekarang tidak lagi beku.” tukas Reno


“Lagian mana tahan gunung es ngeliat wanita secantik Meira, pasti meleleh lah dia.” ujar Ferry.


“Kalau nggak cepat-cepat meleleh, Mira keburu diambil orang, bisa menyesal seumur hidup aku, apalagi orangnya kamu, nggak rela aku” Jawab Deni sambil menunjuk Ferry.


Semua tertawa terbahak.


“Ngomong-ngomong dari tadi kita belum makan ya,” celetuk Yohan.


“Keburu habis nanti,” sambung Reno.


***


Meira dan Deni mencicipi menu prasmanan terlebih dahulu.


Menu yang disajikan mewah dan beraneka ragam, selain nasi putih ada pilihan nasi goreng mentega, untuk lauknya ada mie goreng, sop kimlo, ayam goreng mentega, sate ayam, kakap asam manis, udang goreng tepung, ca brokoli dan kerupuk udang.


Setelah itu Meira dan Deni mencoba hidangan lainnya yang disajikan di stall stall, mereka berpindah dari satu stall ke stall yang lain, karena ada banyak pilihan stall.


Menu di stall terdiri dari :


🍬Jajanan tradisional seperti lemper, lumpia, kue putu, kue lumpur, sosis solo, dan dadar gulung.


🍬Bakso


🍬Siomay dan Batagor


🍬Es kopi


🍬Es krim, puding dan buah-buahan.


🍬Bebek peking


🍬 Sushi


Dan terakhir Meira mengajak Deni mencoba menu dessertnya di sweet corner yang menggugah selera. Ada :


🍫mini pies, mulai dari rasa coklat, ataupun buah-buahan seperti strawberry dan blueberry


🍫macarons


🍫mini cake


🍫marshmallow


Semua makanannya enak-enak.


Meira mempunyai impian, pernikahannya dengan Deni kelak juga ingin seperti ini, meskipun tidak semewah ini, tapi paling tidak bisa menyerupai ini. “Mulai sekarang harus rajin menabung demi pernikahan impian,” gumamnya.


“Kalian dari mana aja?” seru Reno pada Meira dan Deni.


“Dari tadi dicari-cari nggak ketemu,” sambungnya.

__ADS_1


“Muter,” sahut Deni.


“Yang lain mana?” tanya Deni sambil melihat sekeliling mencari Yohan dan Ferry.


“Entahlah, mungkin ketemu teman yang lain,” jawab Reno.


Tidak lama Ferry dan Yohan datang, bersama seorang teman lagi bernama Rudy.


“Hai Rud, kamu baru datang?” sapa Deni.


“Iya, tadi datang ke acara lain dulu.” jawab Rudy.


“Biasalah orang sibuk.” Celetuk Yohan.


“Rud, itu pacarnya Deni,” Ferry memperkenalkan Rudy pada Meira.


“Oh..ya,” Rudi menyalami Meira. Meira membalas uluran tangan Rudy.


Rupanya Rudy lebih pendiam dibandingkan tiga orang teman Deni lainnya. Ia tidak banyak bicara, paling hanya tersenyum dan menjawab pendek jika ditanya.


“Haloo…semua,” sapa seorang wanita cantik.


“Haloo juga,” jawab mereka hampir bersamaan.


“Kalian sudah pada datang dari tadi ya?” tanya wanita yang dipanggil Lia itu,


“Ya…cuma Rudy aja yang baru datang,” jawab Reno


“Ohh..” jawabnya pendek


“Apa kabar Den?” sapanya pada Deni.


“Baik.” Jawab Deni


“Aku juga baik.” Jawabnya tanpa ditanya.


“Oh ya Lia, kenalkan, ini Mira.” ujar Deni.


Lia cepat-cepat menyodorkan tangannya pada Meira.


“Oh ya…Julia.” Katanya memperkenalkan diri.


“Mira.” Balas Meira.


Raut wajahnya menyiratkan kalau ia tidak suka melihat keberadaan Meira. Matanya menatap tajam ke arah Meira. Ia merasa tidak nyaman, diamati seperti itu. Deni mendekatkan badannya pada Meira, seolah dia tahu apa yang sedangkan dirasakan Meira. Lalu Deni merangkul pinggang Meira.


Suasana yang tadi hangat dan ramai, kini berubah jadi kaku dan dingin semenjak kedatangan Julia.


“Kamu datang sama siapa Lia?” tanya Ferry mencoba mencairkan suasana.


“Seperti yang kamu lihat, aku datang sendiri.” Jawab Julia


“Sebetulnya tadi aku berharap bisa datang bersama Deni, tapi Deni ternyata sudah datang dengan yang lain.” ujarnya sambil melirik Meira.


Meira memalingkan wajahnya, ia merasa tidak nyaman dengan perkataan Julia.


Reno, Ferry, Yohan dan Rudy saling berpandangan. Merekapun terlihat serba salah dan tidak nyaman dengan situasi ini.

__ADS_1


“Kalau gitu aku dan Mira pamit dulu ya,” ujar Deni, membuat perasaan Meira menjadi lega.


.


__ADS_2