SENJA DI HATI MEIRA

SENJA DI HATI MEIRA
Episode 34


__ADS_3

...Jangan dikira cinta datang dari keakraban yang lama dan karena pendekatan yang tekun. Cinta adalah anak dari kecocokan jiwa dan jika itu tidak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad. ...


...(Kahlil Gibran)...



*


Setelah mengantar Meira pulang, Deni enggan untuk kembali ke rumahnya. Kembali ke rumahnya kini rasanya seperti menyerahkan diri pada singa betina yang sedang kelaparan. Julia pasti sedang menunggunya.



Deni duduk di sofa sebuah kafe menunggu kedatangan Reno. Hidupnya kini makin terasa tertekan. Julia membuatnya lelah jiwa dan raga. Deni menghela nafas panjang.


Reno menepuk pundaknya dari belakang. “Sorry Den, kena macet.”


“I see!” Deni mengangguk


“Tumben, nggak sama Mira?” Tanya Reno.


“Tadi seharian Mira di rumahku, dan aku baru saja mengantarnya pulang.”


“Owhhhh…” Reno tersenyum-senyum meledek mendengar jawaban Deni. Tetapi dilihatnya Deni tidak merespon gurauannya. “Ada apa Den?” Tanya Reno.


“Ekspresimu begitu datar dan pandanganmu juga terlihat lelah,” lanjut Reno.


Deni menggeleng sambil menyeruput kopinya, lalu diletakkan kembali cangkir kopinya, tidak lama ia kembali menghela nafas panjang.


“Sudah lama ya kita tidak jalan berempat,” ujar Deni.


“Aku, kamu, Mira dan Fika.” Lanjutnya.


Reno mengangguk sambil mengaduk kopinya. Reno masih bertahan untuk tidak lagi bertanya, ia menunggu Deni yang mulai bicara.


“Beban pikiranku terlalu berat Ren,” keluh Deni


“Ada masalah dengan kerjaan?” Telisik Reno.


Deni kembali menggeleng, lalu mengusap wajah dengan tangannya.


“Kamu bertengkar dengan Mira?” Terka Reno.


Deni tersenyum tipis. “Bukan!”


“Gimana, promosi jabatan kamu?” Tanya Deni mengalihkan pembicaraan.


“Aku sedang menyelesaikan proposal, yang nanti akan aku presentasikan.” Jawab Reno.


Deni mengangguk. “Good luck!”


"Thanks, Den,” sahut Reno.


“Hanya saja kepalaku terasa penat, tiap kali melihat buku-buku tebal sebagai referensi.” Reno terkekeh.


“Calm down!…Nikmati saja dulu prosesnya Ren,” ujar Deni memberi dukungan pada Reno.


Reno mengangguk. “Of course!”


Tuttt…tuttt…tuttt…tuttt


Suara ponsel Deni, membuatnya mengalihkan pandangan sebentar ke layar ponsel di hadapannya, namun diabaikannya .


“Nggak diangkat Den?” Celutuk Reno.


“Nggak penting!” Ketus Deni.


Ponsel Deni kembali berbunyi. Reno melirik sebentar ke layar ponsel Deni, lalu mulutnya membentuk huruf sambil mengangguk-angguk pelan tanda mengerti.


“Pantas saja tidak diangkat,” batin Reno.


“Kalau saja aku boleh memilih waktu itu, lebih aku tidak usah pernah bertemu maupun mengenal Julia.” Cetus Deni.


“Kenapa lagi dia?” Tanya Reno.


“Dia pindah rumah di dekat rumahku.”

__ADS_1


“Whatttt?” Reno hampir tersedak minumannya.


“Dia pindah dekat rumahmu?” Tanya Reno dengan suara keras.


Deni mengarahkan pandangan ke sekeliling kafe, beberapa orang sedang memandang ke arah mereka.


“Pelankan suarumu!” Pinta Deni.


Reno terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


”Usahanya patut diajungi jempol,” ujar Reno sembari mengecilkan volume suaranya.


Deni menggertakkan gerahamnya.


“Pulang ke rumahpun, sekarang rasanya tidak tenang.” Ungkap Deni.


“Malam ini dia pasti menungguku, bahkan sampai besok.” Lanjutnya.


“Lalu apa yang akan kamu lakukan malam ini?” Tanya Reno.


“Entahlah,” Deni mengangkat bahunya.


“Kalau kamu berkenan, kamu bisa tinggal di rumahku untuk sementara waktu,” Saran Reno.


“Thanks bro!” Sahut Deni.


“Tapi tiba-tiba malam ini aku ingin pulang ke rumah orangtuaku, kebetulan sudah lama aku tidak mengunjungi mereka.” Kata Deni.


***********


Sementara Julia gelisah menunggu Deni yang tak kunjung pulang, dilihatnya carport di rumah Deni masih kosong. Meskipun kini posisinya kian mendekat, namun Deni masih saja sulit untuk dijangkau. Bukan hal yang mudah untuk mendapatkan Deni, bertahun-tahun lamanya ia harus menunggu, dan Meira datang, menghancurkan mimpinya.


“Pengorbananku sudah terlalu besar, dan Deni harus membayarnya.” Ujar Julia geram.


“Dan lihat saja kamu Meira, kamu akan merasakan apa yang aku rasakan sekarang,” lanjutnya.


Mata Julia memerah menahan rasa getir, ia benar-benar merasa kesepian, Tidak ada keluarga, teman maupun kekasih.


Ia mencoba menelepon kembali Deni, tapi kini ponselnya sudah tidak aktif. Julia pun merasa jenuh. Ia duduk di teras depan rumahnya, sambil memasang headseat di telinganya. Tidak lama ia bersenandung lirih.


🎶🎶


Tak ingin mata ini, kejapkan barang sejenak


Terhanyut imajinasi, menyeret anganku jauh


Kegelisahan yang tampak, hancurkan semua asa


Sakiti tubuh memenjarakan jiwa, masuki dunia yang tak nyata


Saat sepi datang, ingin kuhempaskan


Rindukan kasih mesra, yang tiada pernah berakhir


Tapi mengapa insan dunia, terasa dingin menyapa


Apakah ini jawaban, yang menyertaiku?


Sakiti tubuh memenjarakan jiwa, masuki dunia yang tak nyata


Bebaskan aku dari jeritan panjang, menata kembali kehidupan


Untaian cinta ini, segarkan hati yang beku


Serasa tubuh ini, terbang di taman surga


Yang indah damai


……


🎶🎶🎶


***********


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, akhirnya Deni tiba di rumah orangtuanya.

__ADS_1


Ibunya menyambut dengan hangat anak kesayangannya.


”Lama sekali kamu tidak pulang Den?”


“Maafin aku ya Ma,” ujarnya sambil memeluk erat ibunya.


“Gimana kamu,sehat kan?”


“Seperti yang mama lihat, sehat dan kuat,” jawab Deni sambil mengangkat lengannya.


“Syukurlah.”


“Papa mana Ma?”


“Ada, tadi sedang menelepon Om kamu.”


“Den, kok sampe malam?” Bapaknya Deni muncul dari ruang tengah.


“Tadi ketemu sama teman dulu Pa,” jawab Deni sambil mencium tangan Bapaknya.


“Kamu sendiri?”


Deni mengangguk


“Kamu nggak ngajak Mira?” Tanya sang Ibu.


“Harusnya kamu ajak sekalian.” Lanjutnya


“Nggak Ma, tadi aku dadakan soalnya,” Deni memberi alasan.


“Lain kali, aku ajak Mira ke sini, pasti dia senang.” Janji Deni.


Ibunya mengangguk senang.


Setelah terjadi perbincangan hangat antara Deni dan kedua orangtuanya, satu jam kemudian satu sama lain meminta ijin ke kamar untuk beristirahat.


Deni merasa lega karena berkesempatan untuk pulang ke rumah, rasa rindunya pada keluarga membuatnya terpanggil untuk kembali ke rumah.


Hati terasa tenang dan damai ketika bertemu dan berbincang dengan orangtua, rasa penat yang sejak tadi menyelimutinya, seakan bisa teratasi dalam sekejap.


Seperti waktu dirinya masih kecil, kepada siapa lagi ia berkeluh kesah kalau bukan dengan orang tuanya. Namun kini setelah dewasa, ia tidak mungkin bercerita tentang beban pikirannya pada orangtua.


“Oh iya, aku belum kasih kabar Mira,” celetuknya.


Ia menghidupkan ponsel yang sejak tadi dimatikannya.


Deni 📞


Halo Mir, aku sudah sampai.


Meira 📞


Syukurlah, kirain ilang dimana gitu, habis telponnya nggak aktif terus.


Deni 📞


Maaf tadi low batt hehehe…


Meira 📞


Ya udah, sekarang istirahat gih, pasti kamu capek


Deni 📞


Oke Mir, aku istirahat dulu ya, ngantuk banget, kamu juga istirahat ya


Meira 📞


Oke Den, met istirahat ya muaahhh


Deni 📞


Oke…selamat malam Mira…muaahh


Baru saja Deni mengakhiri percakapan dengan Meira, ada panggilan masuk dari Julia. Deni hanya menatap ponsel dengan perasaan lelah.

__ADS_1


__ADS_2