SENJA DI HATI MEIRA

SENJA DI HATI MEIRA
Episode 25


__ADS_3

Taksi yang membawa Meira kembali menuju kantor berjalan merayap di tengah kemacetan. Pikiran Meira masih diliputi rasa gundah karena lusa ia harus mempresentasikan laporan keuangan perusahaan. “Dua hari ini harus lembur” batinnya.


Ia terus memandangi jalanan dari kaca jendela. Suara klakson mobil terdengar dimana-mana. Siang hari ini benar-benar terasa panas dan bising.


“Pak, kita putar arah saja, jalan di depan macet parah,” saran Meira


“Saya, sampai kantornya bisa nanti sore, kalau jalanan seperti ini terus,” lanjutnya.


“Ohh..baik ..baik mbak, kebetulan saya tahu jalan potong di sekitar sini,” ujar sopir taksi tersebut.


“Sebenarnya dari tadi saya mau tawarkan ke mbak untuk lewat jalan lain, tapi saya takut, nanti mbak sangka saya cari jalan yang lebih jauh.” Lanjut sopir taksi itu.


“Oh gitu… tapi kalau memang tahu jalan nggak apa-apa Pak, nggak usah sungkan,” ujar Meira


“Terus ini kita lewat mana?” Tanya Meira.


“Lewat jalan ini bisa mbak, tapi memang agak berbelok-belok dan agak jauh, tapi nggak antre jalannya.”


Meira mengangguk pasrah, karena ia sudah terlanjur duduk terempas di bangku penumpang.


Sesampainya di depan kantor Meira langsung turun dari taksi, lalu menuju ke kantin yang sudah mulai lengang. Farah masih ada di sana.


“Miraa…sini!” panggil Farah


Meira bergegas menghampiri Farah. Lalu duduk di sebelahnya.


“Fiuhhh…sepuluh menit cukup lah buat makan camilan” ujar Meira sambil mengambil lumpia goreng di piring Farah.


“Bayar..!!” Gurau Farah


Meira mencibirnya.


“Hemmm…tadi di tempat service mobil aku ketemu cowok, kayaknya aku pernah ketemu dia, tapi dimana ya?” Meira mengerutkan keningnya.


Farah menoleh ke Meira.


“Cakep?” Tanya Farah sambil menggigit risolesnya.


“Not bad lahh..” jawab Meira


“Apa mungkin dia pernah kerja di sini ya” Meira mencoba mengingat-ingat


“Roni mungkin Mir,” celetuk Farah


“Roni??” Meira kembali mengerutkan keningnya.


Sambil menggelengkan kepala Meira berucap “Bukan.. bukan Roni, kalau Roni sih aku ingat wajahnya.”


“Halahhhh…palingan juga penggemar kamu.” Cibir Farah


“Kamu kan banyak penggemar Mir,” lanjut Farah


Meira menoleh ke Farah “Penggemar? Jangan ngawur kamu!”


“Balik kantor yuk, udah jam 13.00,” ajak Meira


Farah mengangguk. Lalu mereka beranjak dari tempat duduk.

__ADS_1


***


Malamnya Meira berbincang dengan Deni lewat sambungan telepon


“Kamu sudah siap untuk presentasi besok lusa Mir?” Tanya Deni dari ujung telepon


Meira menyeringai lebar “Tadi Farah juga tanya gitu. Ya, sedikit lagi sudah selesai.”


“Kamu butuh bantuan?” Deni menawarkan


“Kalau sudah selesai membereskan slidenya, aku minta kamu buat cek ya,” pinta Meira


“Beres!” Sahut Deni.


“Nggak usah begadang juga Mir, supaya stamina kamu oke.” Deni mengingatkan


“Siap!” sahut Meira


“Oh ya Den, kalau kita melenyapkan manusia paling menyebalkan sedunia, dari muka bumi ini hukumannya apa ya?” Tanya Meira


“Nggak ada,” jawab Deni ringan.


“Beneran nggak ada?” sahut Meira


“Kalau nggak ketahuan,” tawa Deni terdengar dari seberang telepon.


“Lagian kamu ngapain mau ngilangin Julia dari muka bumi?” Tanya Deni


“Buang-buang tenaga aja,” lanjutnya.


“Biar dia nggak ganggu kita terus,” jawab Meira cepat


“Please deh Mir, siapa lagi kalau bukan dia?”


“Lagian percuma aja Mir, kalau dia ngilang trus jadi hantu, sudah pasti hantunya lebih menyebalkan daripada sekarang,” ujar Deni sambil tertawa.


Meira tergelak ketika ikut membayangkan jika Julia jadi hantu. Wajahnya yang penuh make up dengan lipstik merah darah akan berubah menjadi pucat pasi. Tapi ada benarnya juga perkataan Deni. Kalau Julia jadi hantu sudah pasti hantu Julia akan lebih parah lagi menganggu dirinya dan Deni.


“Mir, mulai sekarang kamu lupakan Julia, nggak usah mikir tentang dia. Sekarang kita pikirkan hal yang paling penting saja yaitu presentasi kamu besok lusa dan pekerjaan kamu.” Kata Deni serius.


“Iya Den,” jawab Meira lirih


Meira memijit-mijit dahinya. Entah mengapa semenjak bertemu dengan Julia di pernikahan Fani, pikirannya tidak pernah bisa lepas dari Julia. Dimanipun Meira berada, wajah Julia selalu membayangi.


“Mir, kamu ketiduran?” tanya Deni membuyarkan lamunan Meira


“Eng..enggak Den,” jawab Meira tergagap


“Kamu kelihatannya capek Mir, kamu tidur aja ya” saran Deni


“Oke Den, aku istirahat dulu ya,” pamit Meira.


Klik Meira menutup ponselnya dan mematikannya.


***


Pulang kantor sore itu, Meira dijemput oleh Deni.

__ADS_1


Mereka tiba di sebuah restoran untuk makan malam.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, Deni mengecek kerta-kertas yang berisi bahan untuk presentasi Meira besok pagi.


“Aku rasa sudah cukup Mir, kamu tinggal latihan presentasi saja,” ujar Deni


“Kenapa rasanya aku jadi nggak bisa nafas ya,” kata Meira dengan nada tercekik


“Seperti kehabisan nafas gitu,” lanjut Meira.


Deni mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas di hadapannya kepada Meira yang duduk di sebelahnya.


“Aku….” Suara Meira tertahan


Deni mengusap kepala Meira. “Tidak usah khawatir Mir, toh ini bukan presentasi pertama kamu kan?”


“Bukan itu maksudku,” ujar Meira


“Terus…?” Tanya Deni


“Aku semalam mimpi buruk tentang hantu…..” Meira menelan ludahnya. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.


“Julia lagi?” Tebak Deni


Meira mengangguk pelan.


“Huhhfff…” Deni menghembuskan nafas sambil memalingkan wajahnya.


“Sudah aku bilang berkali-kali Mir, lupakan Julia, dia tidak ada hubungnnya dengan kita, buat apa dipikirin terus,” kata Deni


“Tapi dia cukup meresahkan Den,” ujar Meira pelan.


Deni meraih tangan Meira dan memegangnya erat-erat. “Kamu percaya padaku kan?”


Deni menatap Meira dalam-dalam. Meira membalas tatapan Deni. Di kedalaman mata Deni ada kekuatan untuknya.


Meira mengangguk pelan.


Deni masih menatap Meira dengan lembut “Trus me! You're the best”


Meira tersenyum dengan penuh terima kasih pada Deni. Ia tidak tahu apa jadinya jika tidak ada Deni di dalam hidupnya.


***


Keesokan Harinya


Hari yang sempurna untuk memberikan presentasi. Meira membisikkan kalimat itu pada dirinya sendiri. Berdiri di hadapan sepuluh orang saja sudah membuat dirinya gugup. Meira berusaha berdiri dengan percaya diri sambil tersenyum manis. Walau jantungnya berdegup kencang, keringat dingin mengaliri tubuhnya, dan kakinya terasa lemas karena gemetar, senyum percaya diri tidak lepas dari wajah Meira.


Pak Irwan kepala cabangnya, Farah, Ocha, Sinta, Wati, Niken, juga lima teman lainnya, semua duduk menunggu Meira memulai presentasi.


Setelah menghitung dalam hati, pada hitungan ketiga ia memulai presentasinya.


“Selamat pagi semuanya,” sapa Meira dengan suara jernih


Tiga puluh menit kemudian, tepuk tangan terdengar menyudahi presentasi Meira.


Perasaan lega di hatinya terpancar dari wajahnya. Setidaknya ia bisa tidur nyenyak malam ini.

__ADS_1


Dengan perasaan lega Meira membereskan perlengkapan persentasinya.


__ADS_2