
“Tumben telat Den?” Tanya Andre saat melihat Deni agak terlambat sampai di kantor.
“Aku tadi berangkat dari rumah orangtuaku.” Jelas Deni.
”Owh..pantes,” sahut Andre.
Deni menuju ke meja kerja, lalu menyalakan laptop dan memulai pekerjaannya. Tidak lama, tampak ia menguap beberapa kali. Ia menghempaskan badannya ke sandaran kursi, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya karena rasa kantuknya sulit sekali dibendung. Deni beranjak menuju ke pantry untuk membuat kopi.
“Satu cangkir kopi sepertinya tidak akan mempan, kalau ngantuknya model gini,” keluh Deni pada seorang teman kantor bernama Tedi yang kebetulan sedang membuat secangkir kopi susu.
“Oya? Emang semalam kamu ngapain?Ngronda?” Gurau Tedi. Deni hanya tersenyum simpul menanggapi gurauan Tedi. Ia merasa lelah sekali pagi ini. Lalu ia kembali ke mejanya.
“Semalam begadang Den?” Tanya Andre lagi saat melihat Deni kembali menguap sambil mengucek-ucek mata.
“Begitulah kira-kira,” sahut Deni sambil tetap berusaha fokus dengan pekerjaannya.
***********
Sepulangnya dari kantor Deni memilih untuk tidak pulang. Ia mengendarai mobilnya tanpa tujuan. Sedangkan Meira masih lembur di kantor. Mobil Deni terus melaju tak tentu arah. Matanya menatap tajam ke depan, sambil terus berpikir, kemana ia harus pergi. Ia butuh tempat untuk menenangkan diri. Kalau pergi ke cafe tidak mungkin, jam pulang kantor begini cafe biasanya ramai pengunjung. Lalu ia teringat akan sebuah tempat, ia memacu mobilnya ke sebuah tempat di mana ia bisa menenangkan diri.
Deni tersenyum lepas melihat hamparan air berwarna biru. Suara debur ombak membuatnya melupakan sejenak kepenatan dalam pikirannya. Pantai memang sangat indah. Selalu ada ketenangan jika melihatnya. Begitu luas dan tanpa batas. Semilir angin yang sepoi-sepoi terus menerpa wajah Deni, dan iapun sangat menikmatinya. Beberapa saat terlihat senyum menghiasi wajahnya. Ia sedang mengingat kekasihnya. Di pantai ini pertama kali ia mengungkapkan perasaannya pada Meira, dan betapa bahagianya ia saat Meira menerima cintanya. Cinta yang telah lama ia dambakan. Hatinya terasa penuh dengan kobaran cinta, yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata karena terlalu bahagia.
Di bola matamu ada pelangi yang bergurat di bibir pantai
Senyummu merekah membuat samudera hatiku berombak
Ingin rasanya kuberlari menyusuri hamparan pasir putih kulitmu
Lalu berhenti dalam dekapan pohon kelapa bersama desah cinta sang camar
Sebelum hilang bersama bintang dan purnama
(Kahlil Gibran)
Kala itu begitu indah, hidupnya terasa tentram dan damai. Hanya kebahagiaan yang ia punya, namun kini, masalah rumit yang tidak pernah ia duga muncul ke permukaan. Dadanya terasa sesak menahan amarah. Ia hanya ingin hidup bahagia bersama Meira. Deni melempar batu ke arah ombak yang sedang bergulung-gulung menuju daratan sambil berteriak panjang. Di pantai ia dapat meluapkan segala emosi dan amarahnya. Tidak lama ia terengah-engah lalu duduk di pasir sambil memainkannya. Matanya memandang jauh ke lautan yang luas.
***********
__ADS_1
Di kantor Meira tampak gelisah karena sedari tadi tidak bisa menghubungi Deni. “Kemana Deni ya? Tidak biasanya dia seperti ini,” batin Meira. Ia mencoba menelepon Deni sekali lagi, namun di luar jangkauan. “Atau mungkin dia sudah tidur karena kecaekan?” Meira mencoba berpikir positif. Namun tidak lama ia kembali merasa cemas, karena biasanya kalau mau tidur lebih dulu, Deni selalu bilang ke Meira.
Meira mengendarai mobilnya menuju rumah Deni. Ia benar-benar merasa was-was, takut terjadi apa-apa dengan Deni. Pikiran buruk berputar-putar di kepalanya, namun sesegera mungkin ditepisnya.
Mobilnya terus melaju. Sampai di rumah Deni, dijumpainya rumah Deni yang masih terlihat gelap, dan mobilnya juga tidak ada di carport. “Berati Deni belum pulang,” gumam Meira.
Ia menghela nafas panjang, ia tidak tahu lagi kemana harus mencari Deni.
Meira melirik sebentar ke rumah Julia dari kaca spion mobilnya. Rumah Julia juga nampak sepi. Meira membuang jauh-jauh pikiran negatifnya. “Tidak mungkin Deni pergi bersama Julia.” Gumam Meira menenangkan diri.
“Oh iya kafe Chez,” Meira mengingat sesuatu.
Dengan letih Meira mengendarai kembali mobil nya menuju ke kafe Chez. Ia berharap bisa menemukan Deni di sana.
Sesampainya di kafe Chez, Meira kembali menelan kekecewaan, ia tidak menemukan Deni di sana. Lalu Ia mencoba menghubungi teman-teman Deni, tapi hasilnyapun nihil, tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan Deni.
Meira masih termenung sendiri di sudut kafe. Bolak balik ia melihat ponselnya, menunggu pesan dari Deni, namun Deni tak kunjung memberinya kabar.
🎵🎵🎵
I hear the ticking of the clock
I’m liying here the room’s pitch dark
No answer on the telephone
And the night goes by so very slow
Oh I hope that it won’t end though
Alone
Till now I always got by on my own
I never really cared until I met you
And now it chills me to the bone
How do I get you alone
__ADS_1
How do I get you alone
You don’t know how long I have wanted
To touch your lips and hold you tight
You don’t know how long I have waited
And I was going to tell you tonight
But the secret is still my own
And my love for you is still unknown
Alone
Till know I always got by on my own
I never really cared until I met you
And I chills me to the bone
How do I get you alone
How do I get you alone
How do I get you alone
How do I get you alone
Alone...Alone
🎵🎵🎵
***********
Deni masih menikmati hamparan lautan yang luas. Ia tidak peduli kalau hari telah menjelang malam, debur ombak juga semakin kuat dan pakaian kerjanya kini telah kotor karena berlumuran pasir pantai. Paling tidak saat ini ia punya waktu luang untuk membuat jiwanya bahagia.
Deni berjalan sendiri menyusuri pasir dan pantai. Langit di atas dan pasir di bawah, seakan ada kedamaian di dalamya. Waktu yang ia buang untuk menikmati keindahan pantai adalah waktu yang terbaik, karena tidak ada tempat yang nyaman seperti rumah kecuali pantai. Bagi Deni pantai yang sunyi seperti ini bisa membebaskan jiwanya yang sedang keruh saat ini. Ia membiarkan kakinya dihempas air. Ia tetap berdiri di atas hamparan pasir di pinggir pantai. Sesaat air laut merendamnya sebagian, sesaat kemudian hilang lenyap dan menjauh.
__ADS_1
Deni memaknai masalah hidupnya seperti ombak di pantai, ombak akan datang, namun pada saatnya ia akan menjauh pergi.
Setelah perasaannya mulai tenang, Denipun melangkah pergi meninggalkan pantai.