
Sejak pagi langit sudah mendung. Sekitar jam sembilan hujan lebat turun. Kebetulan Papa dan Mama sedang pergi mengunjungi rumah teman baik Papa di luar kota. “Kalau kamu mau makan, beli saja Mir, untuk makan malam nanti Mama bawakan,” pesan Mama tadi sebelum berangkat.
Meira menyekap diri di dalam kamar. Suasana di luar yang mendung dan basah membuatnya makin betah di kamar. Rumah terasa sunyi senyap. Sesekali saja terdengar suara aktivitas di dapur, tapi bunyinya seakan datang dari jauh. Meira mencoba membunuh waktu dengan membaca buku.
“Wah, hujan-hujan begini enaknya makan apa ya.” Tiba-tiba terbayang olehnya Farah di tempat kos yang dekat dengan tukang jualan makanan. Keluar dari rumah kos, jalan terus sedikit saja sudah ketemu sederetan penjual makanan. Murah-murah dan enak pula. Ada aneka gorengan, lontong sayur, soto mi, nasi uduk, bubur ayam, dan masih banyak lagi. Dingin-dingin begini enaknya makan soto mie atau bubur ayam. Ya soto atau bubur ayam panas dengan sambal satu sendok. “Aduh ngiler jadinya.” Pekik Meira pelan. Mungkin saja Farah sekarang sedang makan di warung soto, bersama teman-teman kosnya. Enaknya makan soto panas rame-rame.
Tidak lama Ia mengeluh sendiri, “Huhh! Seperti orang ngidam aja.”
“Ngidam?” Tiba-tiba Meira terkikik. “Dari mana bisa ngidam, menikah saja belum.”
Meira mengangkat muka dari buku yang dibacanya dan menatap tembok di depan matanya. Ia mengerutkan keningnya, sambil menggigit-gigit bolpen. Mendadak ia terbayang jika suatu saat ia berumah tangga, mungkin di saat libur dan hujan seperti ini, ia sudah tidak lagi, bisa bermalas-malasan. Pagi-pagi ia sudah harus mengurus suami dan anak, memasak untuk mereka, mempersiapkannya keperluan mereka, serta membereskan dan membersihkan rumah. Seperti yang dilakukan Mama selama ini.
“Lantas, aku harus pindah ke rumah suami dan berpisah dengan Papa dan Mama.” Meira mengerjap.
”Aku tidak lagi, setiap saat bisa bertemu dengan Papa dan Mama, menikmati masakan Mama yang lezat, bergurau dengan Papa. Ahhh….Pasti aku akan merindukan sekali rumah ini, juga merindukan kamarku yang hangat ini.”
Selama ini Meira memang tidak pernah jauh dari orangtuanya. Ia selalu tinggal bersama dengan orangtuanya semenjak ia lahir, sekolah, kuliah bahkan hingga ia bekerja seperti sekarang ini.
Tahu-tahu air mata Meira menetes membayangkan semua itu. “Ahhh..Aku terlalu berlebihan,” gumamnya sambil tersenyum tipis. Karena malas bergerak, dipakainya lengan bajunya untuk menyeka air mata dan hidung.
Di luar, geledek dan halilintar terdengar sambar menyambar. Hujan semakin menjadi-jadi. Di dalam kamar Meira menggigil sambil menangis sesenggukan. Tiba-tiba saja ia merasa kesepian. “Baru ditinggal Papa dan Mama beberapa jam saja rasanya sudah kangen banget.”
Hujan di luar masih belum reda. Meira beranjak dari tempat tidurnya. Ia termenung menatap ke luar jendela. Hujan di luar masih asyik sendiri, malah rasanya semakin lebat. Sesekali guntur menggelegar dahsyat.
“Nanti saja kalau sudah reda baru beli makan.” Gumam Meira.
Meira kembali ke tempat tidurnya dan membaca buku.
Setelah menunggu beberapa saat, hujanpun berangsur-angsur reda. Meira bersiap untuk membeli sesuatu untuk makan siangnya, ketika tiba-tiba ponsel di genggamannya berbunyi.
“Mir, kamu lagi apa?” Tanya Deni di seberang sana.
“Lagi mau beli makan, Papa Mama baru ke luar kota, dan aku lapar sekali.” Jawab Meira dengan suara memelas.
“Kasian sekali,“ gurau Deni
__ADS_1
“Tunggu ya, sebentar lagi aku jemput, kita cari makan siang bareng.” Kata Deni.
“Lho kamu nggak futsal?” Tanya Meira.
“Sudah selesai futsalnya, karena tadi hujan deras dan nggak banyak yang datang, jadi nggak perlu ngantri mainnya.” Ujar Deni.
“Ohhh,,,oke kalau gitu. Aku tunggu.” Jawab Meira mengakhiri percakapannya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Tidak lama berselang Deni sudah sampai di rumah Meira.
“Kamu pengen makan apa?” Tanya Deni setelah Meira masuk ke dalam mobilnya.
“Dingin-dingin gini, makan soto sepertinya enak.” Jawab Meira sambil membayangkan soto panas.
“Oke.” Deni setuju.
“Soto yang di dekat rumahku itu kan?” Tanya Deni.
“Nggak kejauhan Den, kalau kita ke sana, nanti kamu balik lagi jadinya.” Ujar Meira.
“Nggak masalah!” Sahut Deni.
Deni masih belum juga menjalankan mobilnya.
Ia menatap wajah Meira dalam-dalam.
”Kamu habis nangis Mir?” Tanyanya kemudian.
Meira menoleh sekejap. Ia tidak mengira kalau matanya masih terlihat sembab. Padahal ia tadi sudah cuci muka dan menyapukan sedikit bedak ke wajahnya.
“Ada apa sih?” Ulang Deni dengan suara mengandung perhatian.
“Enggak apa-apa. Mataku kelilipan!” Sahut Meira berbohong. Mana mungkin dia bercerita jujur pada Deni kalau dia habis menangis karena alasan tadi. Pasti Deni akan menertawainya dan menganggapnya anak manja.
__ADS_1
“Jangan bohong, masak kelilipan sampe sembab gitu matanya. Sini biar aku lihat apa masih ada kotorannya, atau mungkin ada bulu mata yang masuk!”
Deni memegang dagu Meira dan membuka kelopak atas kiri, lalu meniupnya sehingga membuat mata Meira berkedip-kedip geli.
Meira tertawa dalam hati, ia bisa malu kalau ketahuan sebenernya matanya tidak kenapa-napa.
Lalu mata kanannya disentuh juga oleh Deni, dan Meira buru-buru mengelak. “Udah kok Den, cuma mata yang kiri aja.”
“Beneran? Udah ilang kelilipannya?" Tanya Deni.
“Iya. Beneran.” Jawab Meira sungguh-sungguh.
Tapi rupanya Deni belum mau melepaskan pegangannya di dagu Meira. Ia malah menatap Meira seakan baru pertama kali melihatnya.
“Mata kamu cakep!” Kata itu tiba-tiba tercetus dari mulut Deni.
Meira buru-buru menjauhkan wajahnya dari wajah Deni. Ia paling tidak tahan kalau ditatap Deni seperti itu.
“Hebat banget, kelilipanmu tadi Mir, sampai bikin mata kamu sembab gitu.” goda Deni.
Meira tersenyum rikuh, ia merasa tidak enak karena telah berbohong.
“Kamu nggak apa-apa kan Mir?” Tanya Deni lagi dengan lembut.
“Emang kenapa aku? Dari tadi juga aku baik-baik saja.” Jawab Meira serius.
“Kamu kelihatan sedih!” Ujar Deni.
“Memang kenapa harus sedih?” Balas Meira.
“Itu yang mau aku tanyakan, kalau kamu sedih atau ada masalah cerita saja sama aku. Enggak usah malu. Aku kan calon suamimu!” Suara Deni terdengar lebih halus dari sebelumnya.
“Aduhhh! Gombal!!” Batin Meira. Begini rupanya seorang Deni yang mempunyai bakat jadi perayu ulung. Padahal dari awal pacaran, Deni sudah sering merayunya. Tapi entah mengapa sampai sekarang kalau mendengar rayuan Deni, hati Meira masih terasa kebat kebit.
,
__ADS_1