
Hari Sabtu sore Deni menjemput Meira di rumahnya. Kebetulan Meira sudah siap, jadi mereka bisa langsung berangkat.
“Kita jadi ke kafe Chez Mir?” tanya Deni
Meira mengernyitkan keningnya. Sejenak ia berpikir.
“Bagaimana kalau kita cari tempat lain saja, tempat yang belum pernah kita datangi ?” Meira berubah pikiran.
“Boleh.. Kamu ada ide?” tanya Deni
“Aku ada info dari teman kantor, katanya ada surga tersembunyi di tengah kota” jawab Meira
“Surga tersembunyi?” Deni terkejut
“Iya” Meira mengangguk
“Apa itu? Tempat wisata?” Deni masih belum mengerti
Meira buru-buru menggeleng. “Bukan..bukan tempat wisata, tapi restoran”
“Temanku, beberapa waktu lalu berkunjung ke sana bersama suaminya” lanjut Meira
“Oke, kalau gitu kita langsung ke sana” ajak Deni bersemangat
Deni menghentikan mobilnya di sebuah restoran yang disarankan oleh Meira, dan ternyata benar, meskipun berada di tengah kota, namun restoran ini justru memberikan suasana yang jauh dari keramaian.
“Aku tahu kenapa kamu mengajak aku ke sini” Deni menerka-nerka
“Kenapa?” tanya Meira sambil melepas sabuk pengamannya.
“Karena tempat ini suasananya cukup romantis.” Deni mengerlingkan matanya.
Meira menyeringai “Terserah apa kata kamu lah.”
Baik Meira maupun Deni, mereka begitu tertegun dengan suasana restoran ini. Inilah mungkin yang dimaksud dengan surga tersembunyi. Begitu datang mereka langsung lupa, kalau mereka masih berada di tengah kota. Suasananya yang asri, ditambah dengan bunga-bunga yang cantik membawa memori mereka ke wilayah perkebunan yang tenang dan damai. Nama restoran tersebut adalah House Garden
Setiap sudut di restoran itu begitu cantik. Di area indoor kesan mewah dan elegan begitu nyata adanya. Sementara di area outdoor terasa lebih santai, dan menyatu dengan alam karena ada pepohonan rimbun yang ada di sekelilingnya. Adapun kolam renang yang cantik memberikan tambahan kesehatan bagi yang ingin melepas penat, akan tetapi kolam renang tersebut diperuntukkan bagi pengunjung yang datang di pagi atau sore hari. Sedangkan untuk pengunjung yang datangnya menjelang petang seperti Meira dan Deni suasananya akan berubah menjadi romantis. Tempat ini benar-benar cocok untuk pengunjung yang ingin mencari suasana bersantap sambil menenangkan dan menyegarkan kembali pikiran.
Meira dan Deni memilih duduk di pinggir kolam renang yang dihiasi dengan lampu-lampu.
Untuk menunya pun beraneka ragam. Meira memilih menu ikan salmon dan Deni memilih Australian Ribs dengan mashed potato, menu tersebut adalah sajian yang di rekomendasikan di restoran tersebut.
“Info dari teman kamu tidak salah Mir” bisik Deni
Meira tersenyum bangga. Deni membalas senyuman Meira sambil mengelus rambutnya.
Meira memandangi Deni, Deni selalu membuat Meira bahagia saat berada di dekatnya. Menurut Meira tempat yang paling indah di dunia adalah duduk di samping Deni.
__ADS_1
“Kenapa kamu melihatku seperti itu Mir” tanya Deni heran
Meira buru-buru menggeleng sambil tersipu malu.
“Pasti kamu sedang mengagumi ketampananku kan?” gurau Deni
“Kamu terlalu percaya diri” sergah Meira
“Terus tadi kamu ngapain?” desak Deni
“Aku cuma mau nanya, kenapa kamu nurut aja aku ajak ke sini?” Jelas Meira
Deni tersenyum tipis. “Aku ingin selalu membuat kamu senang dalam hal apapun” jawabnya kalem.
“Gombal kamu Den” hardik Meira sambil tertawa
“Beneran, masak aku nggombal.” sangkal Deni
“Dan ternyata memang pilihan kamu memang tidak salah, pas dengan suasana hati.” lanjut Deni
“Pilihan siapa dulu dong….Miraaa.” ujar Meira bangga
Deni mencubit pipi Meira dengan gemas.
Itulah Deni apapun yang Meira inginkan, sebisa mungkin ia turuti. Deni juga selalu bangga dengan Meira meskipun Meira sedang jerawatan atau sedikit gemuk. Terkadang Meira sering uring-uringan dengan jerawat yang tiba-tiba muncul di wajahnya. “Kamu tetap cantik Mir” hibur Deni kala itu. Deni tidak pernah diam saja, setiap kali Meira mendapatkan masalah. Salah satu contohnya saat mobil Meira ditabrak motor beberapa waktu lalu.
“Betul” Deni mengangguk
“Selamat mencoba” ujar pramusaji itu lagi
“Terima kasih” jawab Meira
“Wow nampak lezat” ujar Meira melihat hidangan di depannya.
Lalu Meira mencicipinya. Tekstur daging salmon yang lembut dengan bumbu meresap sempurna. Kulit salmon yang krispi dan gurih menambah cita rasa lezat sajian ini.
“Kamu harus cobain ini Den” Meira menyuapi Deni sepotong daging salmon dengan garpu.
“Enak kan” ujarnya lagi.
Deni mengangguk. “Apalagi disuapin kamu, enaknya nambah” ujar Deni
Meira terbahak. “Tu kan…..nggombal aja terus”
“Dari tadi aku dibilang nggombal….padahal aku ngomong serius” ujar Deni pura-pura kesal.
“Sabarrrr..” Meira mengelus pipi Deni.
__ADS_1
“Aku mau coba ribs kamu” pinta Meira
Gantian Deni sekarang yang menyuapi Meira.
“Enak?” tanya Deni
“Yummy” Meira mengangkat jempolnya
“Bener kan, pilihan aku tidak pernah salah” ujar Deni
“O ya?” Ujar Meira sambil memandang Deni
“Ya” Deni mengangguk
“Sama seperti kalau aku memilih pasangan, tidak salah “ ujar Deni sambil meneguk peach mojitonya
“Sudah cantik, baik, pinter, apa lagi coba yang kurang? Nggak ada lagi kan.” lanjut Deni
Mulut Meira seperti dikunci, ia ingin berucap tapi tertahan.
Deni melihatnya. “Kamu mau ngomong apa?” tanyanya
“Mau ngomong gombal takut salah” jawab Meira sambil terkikik
“Banyak wanita yang ingin selalu dipuji oleh pasangannya, tapi berbeda dengan kamu…Kamu kalau dipuji malah menganggap itu hanya omong kosong,” protes Deni
Meira menahan tawa, ia menutup mulut dengan tangan kanannya.
Jauh di lubuk hati Meira, ia merasa senang ketika dipuji atau dirayu oleh Deni. Sudah bukan rahasia umum jikalau wanita adalah makhluk yang paling senang dirayu. Bahkan wanita dianggap rentan terlena dengan pujian. Pasalnya dengan rayuan yang dilontarkan seorang pria, wanita akan merasakan kebahagiaan tersendiri. Ia jadi merasa tinggi dan tersanjung dengan pujian yang dihaturkan oleh pria tersebut, dan tentunya itu juga akan membuat seorang wanita menjadi semakin percaya diri.
Sejujurnya Meira sendiri tidak menganggap pujian Deni sebagai omong kosong belaka, hanya saja seketika ia selalu salah tingkah ketika dipuji oleh Deni, saking bahagianya sampai ia lupa bilang terima kasih.
“Terima kasih Den” ujar Meira kemudian
Deni memperhatikannya. Mungkin saja Deni melihat pipinya yang sedang memerah.
“Nahhh… gitu dong” sahut Deni lega.
“Sama-sama Mira” sambung Deni
Meira masih tersenyum-senyum sendiri. Hatinya luluh dan berbunga-bunga setiap kali mendengar rayuan Deni. Ia merasa dirinya begitu istimewa.
“Dimakan itu salmonnya Mir, nanti kalau dingin jadi nggak enak” ujar Deni membuyarkan lamunan Meira.
“Kamu mau lagi salmonnya?” Meira menawari Deni
Deni menggeleng. “Enggak, kamu makan aja.”
__ADS_1
Semakin malam, suasana di restoran semakin romantis, karena House Garden menggelar live musik yang bertemakan cinta. Sungguh ini memanjakan telinga pengunjung yang kebanyakan datang bersama pasangannya.