SENJA DI HATI MEIRA

SENJA DI HATI MEIRA
Episode 7


__ADS_3

Farah sedang sibuk dengan pekerjaannya saat Meira menghampiri meja kerjanya. Meira menepuk bahu Farah.


“Ah Mir, kamu bikin kaget aja.“


Meira tertawa kecil.


“Nanti pulang kantor kita ke mall yuk,“ ajak Meira.


“Mau ngapain?” tanya Farah, ia masih sibuk dengan pekerjaannya.


“Mau cari gaun.“


Farah menoleh. “Gaun?“


Meira buru-buru melanjutkan.


“Teman kuliah Deni, hari Sabtu besok ada yang menikah, Deni memintaku untuk menemaninya.”


“Males ah Mir, tanggal tua.“ jawab Farah.


“Kamu nggak setia kawan Far.” Meira pura-pura kesal


“Bukan nggak setia kawan Meira, aku masih harus bayar kost minggu ini, lagian kamu ngajak ke mall juga waktunya nggak tepat.“ sahut Farah sambil melanjutkan pekerjaannya.


“Kalau nggak ada yang mendesak, aku juga nggak akan pergi ke mall kali Far.”


“Iya aku antar nanti,” jawab Farah


“Beneran?“


“Ya bener lah, kapan aku pernah bohong kalau udah janji Mir.“


“Asikkk… “ sahut Meira senang.


“Nanti aku traktir deh “ janji Meira.


“Kalau dari tadi kamu bilang mau traktir, pasti aku nggak akan nolak ajakan kamu Mir.” Canda Farah.


“Huuuu… giliran denger kata traktir aja langsung semangat.“


“Iya dong Mir, kebahagiaan anak kost itu adalah dapat traktiran atau makan gratis.”


“Dasar kamu Far.“ Meira nyengir


“Hiihh.. jadi nggak diantar ke mall?”


“Jadi lah.“


“ Ya udah nggak usah protes.”


Meira menarik rambut Farah gemas, lalu berlari menuju meja kerjanya.


“Sampai nanti ya,“ ujar Meira


Farah pura-pura cemberut sambil memegang rambutnya.


***********

__ADS_1


Sore hari sepulangnya dari kantor, Meira mengendarai mobilnya menuju mall, dan Farah ikut bersamanya.


Ketika sampai di mall Meira berkeliling mencari tempat parkir.


“Heran, tanggal tua begini, masih banyak aja orang ngemall.“ Gerutu Farah.


“Yup.” Timpal Meira.


“Fiuhhhh penuhnya,” keluh Meira yang telah berputar beberapa kali mencari tempat yang kosong untuk memarkir mobilnya.


“Itu Mir, mobil putih itu sepertinya mau keluar.“ Farah menunjuk sebuah mobil putih yang sedang mundur.


Meira mengawasi mobil itu, berharap mobil itu benar-benar mau keluar, dan ternyata memang benar.


“ Akhirnyaaaa…!!“ SeruMeira, ia cepat- cepat memarkir mobilnya.


Meira memarkir mobilnya dengan penuh hati-hati. Ia masih trauma dengan peristiwa yang terjadi minggu lalu.


Meira dan Farah berjalan mengelilingi mall. Mereka masuk ke sebuah toko, Meira meraih sehelai gaun dari rak. Lalu menempelkan gaun itu ke badannya dan memandangi bayangan dirinya dalam cermin, miring ke sana, meneleng ke sini. Lalu menggeleng.


“Kepanjangan!!” Farah.


“Iya, terlalu longgar dan warnanya juga terlalu mencolok.” Sahut Meira.


“Aku tidak suka warna mencolok,“ tukasnya


Meira mengembalikan gaun itu ke rak semula. Lalu keluar dari toko tersebut.


Mereka terlihat beberapa kali keluar masuk toko. Meira dan Farah turun dari eskalator di lantai dua.


“Bagaimana kalau kita masuk, ke toko itu Mir? Sepertinya kita belum masuk ke sana.“ Ajak Farah.


Pandangan Meira tertuju pada sebuah dress hitam lengan panjang berbahan lace, yang dipakaikan ke manekin di etalase toko. Modelnya sederhana, tetapi tampak elegan.


“Ini model terbaru mbak?“ Tanya Meira pada seorang pramuniaga.


“Iya kak, ini model paling baru, stoknya juga nggak banyak.”


“Bisa saya coba?“


“Boleh kak.“


Meira membawa gaun itu menuju ke fitting room. Meira mencari ruang yang kosong dan menggantungkan gaun yang akan dicobanya di cantelan. Lalu mencoba gaun itu.


“Far sini…!” Panggil Meira seraya melambaikan tangannya.


Farah berjalan cepat menuju fitting room.


“Bagus nggak?“


“Bagus banget, pas di badan kamu, dan kamu makin cantik pakai gaun ini Mir.” Farah memandangi Meira.


“Beneran nggak nih?“


“Beneran Mir.“


“Ya udah aku ambil yang ini aja.“ Tukas Meira.

__ADS_1


Meira meminta pramuniaga toko untuk membungkus gaun itu.


***********


“Kamu mau makan apa Far?“ tanya Meira ketika mereka keluar dari toko.


“Terserah kamu Mir, kan kamu yang mau traktir.” Farah meringis.


“Aku nggak ada ide nih,“ ujar Meira


“Aku juga bingung.“ Sahut Farah


“Apa ya enaknya?“ Meira berpikir


“Kalau makan pizza mau nggak? “ sambungnya


“Boleh Mir.“ Jawab Farah cepat.


“Ya udah kita makan pizza.“ Sambung Meira.


Mereka menuju restoran pizza yang terletak di lantai satu mall tersebut. Suasana restoran tampak ramai karena sekarang masih jam-jam pulang kantor dan jam makan malam.


Setiap meja hampir penuh terisi. Seorang pelayan menyarankan mereka ke sebuah meja kosong yang terletak tidak jauh dari pintu masuk restoran. Mau tidak mau Meira dan Farah harus menyetujuinya karena mereka tidak punya pilihan lain.


Mereka duduk di bangku kosong yang tepat menghadap ke arah beberapa pemuda. Meira bisa menebak kalau mereka sedang meeting, karena masing-masing membawa laptop dan serius berbicara satu sama lain.


Meira dan Farah memesan pizza papperoni dan lemon tea.


“Lihat Mir, yang pakai jaket biru ganteng.“ Bisik Farah seraya memberi kode pada Meira untuk melihat ke meja seberang sana.


Dengan hati-hati Meira melihat ke arah meja seberang, dan tanpa sengaja matanya beradu pandang dengan pemuda berkemeja hitam yang duduk bersebelahan dengan pemuda berjaket biru yang ditunjuk Farah. Menurut Meira wajah pemuda itu lebih menarik dari yang ditunjuk Farah, senyumannya terlihat manis.


Meira buru-buru memalingkan wajahnya dan mengarahkan pandangannya ke arah luar restoran, ia pura-pura memperhatikan orang -orang yang sedang berlalu lalang di mall.


“Iya kan Mir, cakep kan?” Farah mengguncang bahu Meira.


“Stttt…. Jangan terlalu heboh ah, nanti dia ngliat gimana?”


“Ihhhh biarin aja Mir, emang kenapa kalau dia tahu?”


“Emang kamu nggak malu kelihatan lagi ngecengin dia?“


“Nggak lah, justru malah bagus kan kalau dia tahu.” Ujar Farah sambil terkikik


“Tapi dia ganteng kan Mir?” Tanya Farah lagi


“Iya ganteng, tipe kamu banget kan.” Jawaban Meira yang membuat Farah lega.


Meira merasa kalau pemuda berkemeja hitam itu sedang memperhatikannya, tak jarang Meira memergoki dia sedang curi-curi pandang terhadapnya. Meira merasa tidak nyaman duduk di kursi tempat ia duduk saat ini. Kepalanya sedikit pegal karena harus sering menunduk main ponsel, atau menoleh ke samping, agar tidak melihat ke depan.


“Pizzanya datang,“ seru Farah.


Meira melihat pelayan berjalan menyusup-nyusup di sela meja dengan menanting nampan berisi pizza berukuran besar di kedua tangannya, dan meletakkan pizza yang di bawanya di atas meja Meira dan Farah.


Pizza dengan taburan papperoni benar-benar terlihat lezat. Aromanya membuat Meira dan Farah tidak tahan untuk segera menyantap pizza dengan ukuran ekstra besar tersebut.


“Aku sudah lapar.“ Pekik Farah

__ADS_1


“Mari kita makan.“ Ajak Meira.


Meira merasa sedikit nyaman saat ini, karena kepalanya sudah tidak sepegal tadi. Paling tidak dengan adanya pizza di depannya, ia jadi punya kesibukan untuk menyantapnya, tidak bengong seperti tadi. Ia kini sudah bisa sedikit rileks, dansedikit menghadap ke depan, meskipun masih dengan kepala agak menunduk.


__ADS_2