SENJA DI HATI MEIRA

SENJA DI HATI MEIRA
Episode 20


__ADS_3

Sudah hampir jam 01.00 dini hari, Meira belum bisa memejamkan matanya. Ia duduk di pinggir tempat tidur. Bajunya sudah lama digantinya dengan baju tidur. Meira mengayun-ayunkan kakinya. Ia menunduk memandangi jari-jari kakinya yang terayun-ayun.


Meira mencari cara untuk membuat dirinya cepat tidur. Lalu ia teringat novel yang belum selesai ia baca. Diambilnya buku itu di atas meja, lalu ia bersandar dan melonjorkan kakinya di atas tempat tidur. Pada saat hening seperti ini, tidak ada kegiatan yang lebih disukainya selain berbaring di tempat tidur sambil membaca novel bergenre romantis favoritnya. Cerita cinta romantis sebelumnya belum pernah gagal menyita perhatiannya selama ini, namun saat ini ada sesuatu yang lebih penting menyiksa benaknya.


***


Keesokan harinya Meira maen ke kostan Farah, banyak hal yang ingin ia ceritakan pada sabahatnya itu.


Rumah kos Farah memang cukup nyaman. Halamannya yang cukup luas ditumbuhi rumput serta pepohohanan hijau dan beraneka macam bunga. Di sebelah kiri terdapat garasi luas tempat anak-anak kos menyimpan kendaraan mereka. Di sebelah kanan terdapat pintu samping yang bisa langsung menuju dapur dan biasanya dipergunakan sehari-hari oleh para penghuni. Di situ juga ada tangga menuju lantai atas.


Meira menaiki anak tangga untuk menuju kamar Farah. Begitu sampai di kamar Farah, ia langsung menjatuhkan diri di atas tempat tidur dengan nafas ngos-ngosan. Disekanya keringat yang bercucuran di dahi dan leher dengan tisyu.


“Kamu kenapa Mir, wajah kamu kelihatan pucat” Ujar Farah panik


“Nggak apa-apa Far, aku tadi lari naik tangganya” Meira tersenyum


“Kamu nyetir sendiri?” Tanya Farah.


“Nggak, males macet” jawab Meira.


Farah turun sebentar ke bawah dan tidak lama kemudian ia kembali ke kamarnya dengan membawa nampan berisi dua gelas sirup rasa melon dan sepiring pastel goreng, lalu meletakkannya di atas meja yang sudah dibersihkannya dari buku-buku dan kertas.


Mereka makan sambil ngobrol.


“Ehh…kamu mau cerita apa tadi Mir?” tuntut Farah


Meira mengangkat bahu, sesaat ia teringat Julia. Lalu ia mengurungkan niatnya untuk bercerita.


“Kenapa Mir? Pasti tentang Julia ya?” tanya Farah bertubi


Meira mengangguk pelan.


“Ayolah cerita” desak Farah


Meira berusaha menata moodnya, yang sudah terlanjur berantakan ketika mengingat Julia.


“Ternyata dia memang suka sama Deni sejak kuliah dan terus mengejarnya sampai sekarang” ujar Meira pelan


“Hahhh!!……masih mengejar Deni sampai sekarang?” Farah tersentak


“Benar-benar urat malunya sudah putus si Julia itu” Teriak Farah.

__ADS_1


Meira mengangguk lemah. Keringat dingin bercucuran di sekujur tubuhnya, jantungnya berdebar dan nafasnya terengah. Dengan lemas ia menuju ke tempat tidur Farah.


“Mirrr…kamu kenapa mir?” Dengan panik Farah memapah Meira


“Kamu demam, badan kamu panas Mir” Farah meraba dahi Meira


“Kamu mau aku belikan obat?” Tanya Farah iba.


“Nggak usah Far, aku mau tidur aja, dari semalam aku nggak tidur.. aku pinjam tempat tidurmu ya” Meira meminta ijin Farah dengan suara lemah. Lalu ia merebahkan badannya.


“Tapi kamu harus makan dulu Mir” cegah Farah


“Nanti saja, kalau bangun tidur Far” kata Meira


“ Oke…Sekarang tidurlah” pinta Farah sambil menyelimuti Meira.


Dalam keadaan tidak berdaya seperti ini yang bisa dilakukan Meira hanyalah berbaring sambil memejamkan mata. Tenaganya terasa lenyap dan kepalanya mulai terasa berdenyut. Kemudian Meira terlelap. Meira membuka matanya kembali, ia mendengar suara Farah di luar kamar sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon. Suaranya terdengar samar-samar.


Farah sudah selesai menelepon. Mata Meira kembali terpejam.


Ketika terdengar suara ketukan pintu kamar, Farah menoleh ke arah tempat tidur, dilihatnya Meira masih terlelap. Untuk mencegah ketukan itu diulang, Farah segera membuka pintu. Dalam lelapnya Meira bermimpi, samar- samar ia mendengar suara Deni. Kemudian namanya disebut-sebut, lalu kenapa wajah Julia tiba-tiba muncul di depannya. Meira terjaga dari tidurnya nafasnya terengah-tangah. Dirasakan kedua tangannya digenggam erat-erat. Ia membuka matanya. Dilihatnya Deni dan Farah ada di sampingnya. Deni tersenyum padanya.


“Kamu mimpi buruk Mir?” Tanya Deni sambil terus menggegam tangan Meira.


Deni meraba dahi Meira. “Demamnya sudah agak turun” ujarnya


“Kamu makan dulu ya, aku sudah membelikan bubur ayam kesukaanmu” ujar Deni sambil menyodorkan semangkuk bubur ayam pada Meira.


Meira mengangguk. Ia lalu duduk di tepi tempat tidur, sakit kepala yang tadi dirasakannya kita telah menghilang.


“Kalau kamu masih pusing, sambil sandaran saja Mir” saran Farah


“Sudah nggak pusing kok Far” Meira menggeleng.


“Kenapa tiba-tiba kamu ada di sini Den?” Tanya Meira


“Farah yang memberitahu aku” ujar Deni sambil melirik Farah


Meira menoleh ke Farah. “Makasih ya Far, aku sudah merepotkan kamu”


Farah menggeleng. “Nggak ada yang direpotkan Mir”

__ADS_1


“Aku tadi khawatir sekali, kamu demam tinggi dan tidak lama setelah kamu tidur kamu mengigau, aku ingin memberi tahu orangtuamu , tetapi aku ragu, takut mereka jadi khawatir, makanya aku putuskan untuk memberi tahu Deni saja” cerita Farah.


“Aku mengigau?” Meira terkejut


Farah mengangguk.


“Mengigau apa?” Tanya Meira penasaran


Farah menoleh ke arah Deni, lalu mereka saling berpandangan.


“Kamu habiskan dulu buburnya Mir” perintah Deni


Meira menyendok bubur ayam dari mangkuk, lalu memasukkan ke dalam mulutnya pelan-pelan. Ketika sudah habis, ia kembali menuntut Farah untuk menjawab pertanyaannya.


Farah kembali melihat ke arah Deni seolah meminta persetujuan. Deni menganggukkan kepalanya.


“Kamu mengigau menyebut nama Julia, Mir” jawab Farah


Meira tersentak. “Benarkah itu Far?” tanya Meira


Farah mengangguk.


“Sudah, sekarang obatnya diminum Mir” ujar Deni


Farah menyodorkan segelas air putih pada Meira. Meira masih terhenyak. Betapa malu dirinya mengingat ia mengigau menyebut nama Julia. Sebegitu hebatnya Julia mempengaruhi hidup, hati dan pikiran bahkan sampai ke alam bawah sadarnya.


Belum pernah rasanya hati Meira sepedih ini. Ia juga belum pernah secemburu ini pada Deni. Pernah ada beberapa wanita yang menyukai Deni, tetapi mereka memilih mundur saat mengetahui kalau Deni sudah punya pacar. Berbeda dengan Julia, yang masih terus mendekati Deni walaupun sudah ditolak dan tahu kalau Deni sudah punya pacar.


***


Deni mengantar Meira pulang ke rumah.


“Kalau kamu besok masih nggak enak badan, kamu ijin saja, nggak usah berangkat ke kantor dulu” saran Deni


Meira mengangguk.


“Kamu juga nggak usah terlalu memikirkan Julia, dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan aku,” nasehat Deni.


“Kamu tau kan akibatnya kalau kamu terus menerus memikirkan dia” ujar Deni lagi


Meira kembali mengangguk. “Ya, bukan hanya kesehatan mentalku yang terganggu, tapi juga kesehatan fisikku”

__ADS_1


Meira menoleh ke Deni sambil tersenyum, mereka lalu berpandangan. Deni mengusap rambut Meira. “Nah… itu kamu tahu.”


__ADS_2