
Deni sedang berada di kantor saat ponselnya berbunyi. Ia bergegas ke meja kerjanya, tetapi urung mengangkatnya ketika melihat nama Julia di layar ponsel.
Lagi-lagi ponsel itu berbunyi dan Deni mereject panggilan itu.
Ting….
Sebuah pesan masuk dari Julia. “Den, jam istirahat tolong temui aku di coffee shop sebelah kantormu”
“Maaf, aku masih ada meeting.” Balas Deni
Julia tidak membalasnya lagi. Denipun merasa lega.
Keluar dari ruang meeting, Deni melirik arlojinya. Jam menunjukkan pukul 16.50. Lalu ia merogoh saku celananya, kemudian menyalakan ponselnya, sebelum meeting tadi, ia memang sengaja mematikannya. Ada beberapa pesan yang masuk.
“Den, pulang kantor jadi mampir ke rumah?” Sebuah pesan dari Meira
“Ya Mir, kamu mau pesan dibelikan apa? Bagaimana badanmu, sudah enakan?” Deni membalasnya
“Nggak pesan apa-apa Den… badanku udah lumayan membaik,” tulis Meira
Lalu Deni membaca beberapa pesan yang lain. Ada satu pesan baru masuk.
“Aku masih menunggu kamu di coffee shop,” pesan dari Julia
Deni menghela nafas. Sejenak ia merasa ragu untuk menemui Julia, tetapi jika ia tidak menemuinya, Julia pasti akan terus mengejarnya.
“Ini waktunya untuk menjelaskan semua,” batin Deni
Sebelum menemui Julia, Deni mengirim pesan pada Meira. "Mir, aku ke rumah kamu agak malam ya, karena aku masih ada sedikit urusan” tulis Deni
“Oke Den, aku tunggu.” jawab Meira
Deni melangkahkan kakinya menuju coffee shop yang dimaksud oleh Julia. Dari kaca jendela besar tampak Julia menunggu di sana.
Julia mengurai senyum saat orang yang ditunggunya telah datang.
“Silahkan duduk Den, aku sudah memesankan minuman dan makanan kesukaanmu.” Ujar Julia
Deni menarik kursi serta melihat nasi goreng dan coffee macchiato yang sudah ada di meja.
“Ada keperluan apa Lia, sampai kamu harus menungguku berjam-jam di sini.” Tanya Deni
Julia tersenyum. “Apa kamu keberatan aku menemui kamu di sini?” Julia balik bertanya.
Deni tidak menjawab pertanyaan Julia.
“Katakan apa mau kamu Lia.” Ucap Deni
Julia mengernyitkan keningnya sambil tersenyum. “Santai aja dulu Den. nggak perlu terburu-buru.”
__ADS_1
“Lagian sudah lama kan kita nggak ngobrol berdua seperti ini.”
Deni tersenyum tipis.
“Oh ya Meira itu pacar kamu?” Tanya Julia. Entah dia pura-pura tidak tahu, atau memang benar-benar tidak tahu.
“Ya, dia pacarku." Tegas Deni.
Julia nampak sedikit terkejut, ia lalu mengaduk-aduk kopi yang ada di depannya.
“Kamu tidak seharusnya punya pacar,” ucap Julia.
“Kenapa aku tidak boleh punya pacar?” Tanya Deni heran.
“Den, sudah bertahun-tahun lamanya aku menyukaimu, apakah kamu tidak merasakannya sama sekali? Aku berharap kamu benar-benar tidak merasakannya, itu lebih baik daripada kamu mengetahuinya, tapi kamu pura-pura tidak tahu.” Ujar Julia.
Deni mengatupkan bibirnya.
“Apakah aku kurang baik untukmu Den, apa aku kurang pantas bersamamu?”
“Aku tidak ingin menyakitimu, tapi maaf sekali karena aku sudah mempunyai seseorang yang sangat aku cintai.” Tegas Deni
“Jadi maaf Lia, kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku akan pergi. Aku masih ada urusan.” Lanjut Deni
“Apakah urusan dengan Mira?” Tanya Julia ketus
Julia tidak ingin Deni meninggalkannya. “Cepat duduk!” bentak Julia
Suaranya agak keras, sehingga orang-orang yang berada di sekitar memperhatikan mereka. Julia kelihatan salah tingkah karena malu. Deni duduk kembali.
Setelah mengatur nafasnya, Julia kembali berujar. “Apakah kamu percaya cinta sejati?”
Deni mengangguk. “Percaya.”
“Aku sama seperti kebanyakan orang, percaya bahwa momen sesaat dapat berubah menjadi selamanya,” ungkap Deni
“Jadi menurutmu, apa kita akan berada di momen seperti itu?” Tuntut Julia
Deni menggeleng. “Tidak akan.” Tegasnya.
“Kenapa?” Tanya Julia emosi
“Teman-teman kuliah dulu kita menganggap kita sangat cocok.” Ujar Julia
“Kamu rekan seperjuangan terbaik aku pada saat kuliah. Aku sangat tulus menjadikanmu sebagai teman baik, tetapi selain itu, kita tidak mempunyai kemungkinan yang lain.” Kata Deni
“Kamu benar-benar sudah berubah Den.” Ucap Julia sinis
“Berubah seperti apa maksud kamu?” Tanya Deni
__ADS_1
“Sejak aku mengenalmu, sampai sekarang, sama sekali tidak ada wanita di sisimu, tidak pernah ada yang dekat denganmu, kecuali aku… tapi kini ada Mira… ya Mira,” ujar Julia sambil menahan air mata.
“Sejak kapan kamu mengenalnya dan kenapa kamu begitu mencintai Mira?” Desak Julia
“Aku mencintai Mira, biarlah itu menjadi urusanku, tidak ada hubungannya denganmu. Jadi maaf aku tidak bisa memberitahumu.” Jawab Deni
“Baik…Kalau suatu saat kamu dan Mira sudah tidak bersama, apakah kamu mau bersamaku?” Tanya Julia
“Meskipun aku dan Mira tidak bersama lagi, aku akan tetap selalu mencintainya.” Ucap Deni
“Benar-benar menakjubkan. Seseorang yang dikenal dingin seperti gunung es, ternyata bisa mencintai seseorang dengan merendahkan diri seperti itu.” Sindir Julia
Deni tersenyum kecut. “Aku pergi dulu.” Pamit Deni
Ia beranjak meninggalkan Julia sendiri.
***********
Deni mengendarai mobilnya menuju rumah Meira. Jam digital di mobilnya menunjukkan pukul 19.15. Jalanan malam ini lumayan lengang, jadi Deni berharap bisa secepatnya sampai di rumah Meira. Ia masih terbayang-bayang mengenai percakapannya dengan Julia tadi. Sudah sekian lama Julia menggantungkan harapan yang tinggi padanya., sedangkan dirinya tidak mempunyai perasaan yang sama terhadap Julia.
Deni sampai di rumah Meira. Kekasihnya itu sudah menunggunya di depan rumah.
“Akhirnya datang juga,” ujar Meira dengan mata berbinar.
Deni memeluknya. “Kenapa? Kamu kangen ya sama aku?” Bisik Deni.
“Lumayan,” jawab Meira sambil tersenyum, lalu Deni mencium keningnya. “Udah nggak panas Mir, berarti kamu sudah sembuh,” ucap Deni.
Meira mengangguk, lalu menarik tangan Deni, mengajaknya ke ruang tengah. “Masuk yuk, di luar dingin takut aku demam lagi.”
Deni menurut. “Papa Mama sudah tidur Mir?” tanya Deni
“Belum, sepertinya mereka masih nonton acara televisi di kamar” jawab Meira
“Sebentar aku buatkan minum,” kata Meira
Deni mengangguk, lalu duduk dan mengambil remote televisi, untuk mencari saluran yang ingin ditontonnya.
Tidak lama Meira datang membawa nampan yang berisi secangkir kopi hangat dan sepiring martabak telur, lalu diletakkannya di atas meja.
Meira duduk di samping Deni. Deni melingkarkan tangannya di bahu Meira, Meirapun menyandarkan kepalanya. Deni mengusap-usap rambut Meira sambil sesekali mencium keningnya.
“Kamu tadi urusan apa Den, kok sampai malam?” Tanya Meira
“Tadi ada teman kantor yang minta bantuanku untuk mengolah data,” ujar Deni berbohong. Ia tidak mau Meira sakit lagi karena memikirkan Julia.
Meira mempercayainya.
Deni memeluk Meira semakin erat. Meira begitu lugu dan manis. Belum pernah ia jatuh hati pada wanita, selain dengan Meira.
__ADS_1