SENJA DI HATI MEIRA

SENJA DI HATI MEIRA
Episode 24


__ADS_3

Turun dari mobil, Meira melirik penampilannya di kaca mobil. Semua masih sama seperti terakhir kali ia melihat dirinya di cermin kamar. Ia tidak sempat ke toilet karena rapat sebentar lagi dimulai. Sambil berjalan, ia menebar senyum kepada tukang koran, tukang parkir dan satpam yang hampir setiap pagi berada di depan kantornya.


Dengan terengah-engah Meira menapaki anak tangga yang terakhir di lantai empat itu. Di saat darurat begini ia tak habis pikir jika lift di kantornya rusak. Pukul 07.30 tepat Meira sampai di kantor. Ruang rapat di depan meja resepsionis itu masih sepi dan masih tertutup rapat. Hanya ada Asmi seorang gadis muda penerima tamu. Meira menarik nafas berat.


“Masih sepi?” Tanya Meira pada Asmi.


“Iya bu, belum pada datang, hanya ada bu Ocha di ruang kerja,” jelas Asmi.


Meira masuk ke ruang kerja, dan memang betul, sudah ada Ocha di dalam.


“Rapatnya diundur satu jam lagi Mir,” seru Ocha ketika melihat Meira datang.


“Kenapa nggak ada yang kasih info sih kalau diundur?” Ujar Meira kesal


“Ada kali di grup.” Jawab Ocha


“Astagaaa…iya,” seru Meira sambil membaca ponselnya


“Aku tadi pagi buru-buru, jadi nggak sempat baca,” Meira beralasan


“Lihat mukaku jadi kucel gini kan, karena harus naik tangga,” tutur Meira sambil menunjuk wajahnya.


Ocha tertawa mendengar celotehan Meira


“Biar kucel juga kamu tetap cakep Mir,” ujar Ocha.


“Kamu, kenapa jam segini udah datang Cha, kan kamu tahu jam rapat diundur?” Tanya Meira


“Aku tadi sekalian ngantar adikku ke kampus Mir, dia ada kuliah pagi,” jawab Ocha


“Ohhhh gitu.” Kata Meira


“Ya ampuuunnnn..capekkk,” terdengar pekikan Farah dari belakang Meira.


Farah mendudukkan dirinya di kursi. Nafasnya masih terengah-engah seperti Meira tadi saat baru tiba di kantor.

__ADS_1


Meira tersenyum memandangi sahabatnya.


“Anggap saja olahraga,” canda Meira sambil meletakkkan tasnya.


“Huhhh…olahraga di waktu yang tidak tepat,” gerutu Farah.


“Makeupku jadi pudar,” keluh Farah lagi sambil memandangi wajahnya di cermin kecil yang dibawanya.


“Sejak kapan sih liftnya rusak?” Tanyanya dongkol.


Meira dan Ocha bersama-sama mengangkat bahunya.


Farah menggigit bibir bawahnya. Hawa panas seperti naik ke wajahnya, sehingga membuat wajahnya merah padam.


“Sabarrrr!” Meira menepuk pundak Farah.


“Gimana bisa sabar sih Mir, pagi-pagi udah diuji,” sanggah Farah sambil meminum air dalam botol yang dibawanya.


Meira pergi ke toilet. Ia lalu mengaca di cermin besar di dalam kamar kecil perempuan. Ruangan itu kosong. Bilik-bilik toilet berjajar di belakangnya. Semua pintunya tertutup rapi. Meira menyisir rambutnya. Di kaca ia melihat dirinya sendiri sambil meringis. “Mukaku kusut banget,” gumamnya sambil menangkupkan kedua tangan di pipinya. “Akupun tidak pandai berdandan seperti Julia.” Ujarnya lirih.


Meira melirik jam tangannya. “Masih ada waktu tiga puluh menit” ujarnya. Meira menyempatkan diri untuk mampir ke pantry dan membuat secangkir teh. Ia tidak berlama-lama di pantry, begitu tehnya jadi ia langsung keluar. Lalu ia melenggang masuk ke ruang kerjanya. Tangan kanannya membawa secangkir teh hangat. Sambil bersenandung kecil Meira membereskan perlengkapan kantor di atas meja kerjanya. Meja kerja Meira terkenal selalu bersih dan licin. Tidak ada debu, kertas maupun alat tulis yang bertebaran di sana. Laptop, printer, dan aksesorinya berdiri patuh di ujung meja dengan kabel-kabel yang terlilit rapi. Kebiasaan mamanya yang selalu rapi dan bersih memang menurun pada dirinya.


Di tengah-tengah proses berbenahnya, Meira menemukan buku agenda lamanya. Ia membaca resolusi-resolusi yang ia tulis sekitar setahun lalu.


* Traveling ke luar negeri


* Financial Revolution


* Menikah dua tahun lagi


Meira bukan termasuk orang yang rutin membuat resolusi, bahkan ini resolusi pertama yang ia tulis. Alasannya cukup simpel, karena ia baru membeli agenda baru, jadi ia ingin mengisi agenda itu.


Meira tersenyum sendiri membaca tulisan tersebut. Terutama resolusi yang ketiga. “Berarti tahun depan dong,” ujarnya sambil terkikik.


Sebuah mimpi retoris, boleh dibilang begitu, titik dimana Meira dan Deni sedang memikirkan pernikahan dan seringkali membicarakan hal itu, namun sampai saat ini mereka belum juga berani melangkah ke sana.

__ADS_1


Lalu ia beralih ke resolusi yang pertama tentang traveling, sebuah khayalan dan mimpi yang coba ia tulis dengan harapan suatu saat ia dapat merealisasikannya. Meira termenung, mengingat keinginannya untuk berlibur ke New York kala itu. Times Square adalah tempat yang ingin sekali ia datangi, sebuah tempat di salah satu jantung kota New York. Times Square adalah salah satu tempat yang kerap disambangi wisatawan saat sedang berlibur ke Negeri Paman Sam. Sebab selain ikonik, Times Square juga menjadi langganan lokasi syuting film-film Hollywood. Seperti yang pernah ia lihat di film Step Up 3D dimana Luke mengajak Moose mengelilingi Times Square di malam hari, begitu indah dan gemerlap. Mimpi dan harapan Meira bukan untuk sekedar gengsi atau semata-mata untuk gaya-gayaan, tetapi untuk memotivasi dirinya supaya lebih giat bekerja dan lebih rajin lagi menyisihkan uang untuk ditabung.


Meira menutup agenda yang sedang ia baca ketika mendengar suara Farah memanggilnya. Rupanya rapat akan segera dimulai. Meira bergegas melangkah ke ruang rapat. Dua puluh menit membaca buku agenda mampu mengembalikan semangatnya, yang tadi sempat drop karena perubahan jadwal rapat.


***


Rapat baru saja usai. Meira berencana untuk membawa mobilnya service pada jam istirahat, supaya ia bisa mengambilnya lagi sepulangnya dari kantor.


“Mau kemana Mir?” Tanya Farah ketika melihat Meira mengambil tasnya


“Mau serivice mobil,” jawab Meira


“Yahhh… nggak makan siang bareng dong kita,” ujar Farah kecewa.


“Maaf ya,” jawab Meira menyesal


“Ac mobilku sudah nggak dingin Far, gerah banget di dalam mobil” sambung Meira


Farah mengangguk “Hati-hati ya Mir”


“Oke Far” jawab Meira


Mobil Meira melaju menuju dealer mobil sekaligus tempat service mobil.


“Kalau saya ambil nanti sekitar jam 17.00 bisa? Sekalian saya pulang dari kantor.” Ujar Meira pada seorang teknisi


“Tergantung dari kerusakannya mbak, nanti biar dilakukan pengecekan terlebih dahulu.” Jawab sang teknisi


Meira mengangguk, lalu ia masuk ke dalam ruang tunggu untuk memberikan nomor ponselnya ke resepsionis.


“Baik bu, nanti kalau sudah selasai, akan kami informasikan pada ibu?” Ujar resepsionis


“Oke..makasih,” jawab Meira


Meira merasa sedari tadi ada yang mengawasinya. Ia menoleh ke seorang pria yang sedang duduk di ruang tunggu. Wajahnya tidak asing, tapi Meira tidak ingat pernah bertemu dengannya dimana. Ia menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Meira. Meirapun membalasnya.

__ADS_1


Lalu Meira bergegas kembali ke kantor.


__ADS_2