
Keesokan harinya,jam 10 pagi aku masih berada di tempat tidurku.Aku melewatkan waktu sarapan dengan papah dan Beni karena perutku masih terasa mual.Bahkan walaupun bi Asih membawakan makananya ke kamar ku,aku tidak bernafsu untuk menyantapnya.
"Toktoktok...Toktoktok,Nara kamu masih tidur?" Ucap Beni dari depan pintu kamarku.
"Engga kok,aku udah bangun" Jawabku.
Benipun membuka pintu dan masuk ke kamarku.Dia melihat sekeliling kamarku yang terlihat suram karena tidak ada cahaya matahari yang masuk.Lalu dia membukakan gorden dan jendela kamarku supaya udara segar bisa masuk ke kamarku.
"Kamu sebenarnya kenapa sih?Kata bi Asih kemarin kamu pulang dari luar dan langsung ngunci diri di kamar.Pagi ini juga kamu gak ikut sarapan.Kamu kenapa Nara?" Tanya Beni.
"Engga kok,aku gak apa-apa.Aku cuma gak enak badan aja Ben" Jawabku.
"Mana biar aku periksa,setidaknya kalau penyakit ringan aku juga udah bisa tau."
"Gak,gak usah.Aku udah ke rumah sakit kok kemarin" Ucapku menolak.
"Terus apa kata dokternya?"
"Aku cuma kecapean karena kemarin-kemarin kegiatan kampusku lumayan banyak."
"Kamu gak bohong kan Nara?"
"Eng..Enggak kok ku gak bohong Ben.Udah mending kamu keluar,bentar lagi ada tukang jahit yang datang buat ukur baju pertunangan kamu" Ujarku sembari mendorong Beni keluar.
Kebohongan ini sangat melelahkan bagiku,apalagi aku terbiasa terbuka pada Beni.Siang harinya tukang jahit yang dibicarakan papah akhirnya datang.Aku menyuruhnya untuk melakukan pengukuran badanku di kamar.Saat sedang mengukur bagian perutku,dia terlihat bingung.
"Kenapa bu?Apa ada masalah sama pengukurannya?" Tanyaku pada ibu penjahit.
"Emm maaf sebelumnya mba,apa mba sedang hamil?" Tanyanya dengan wajah agak sungkan.
"Memang kenapa bu?"
"Soalnya perut mba agak buncit seperti orang hamil,saya sudah beberapa kali mendapati klien seperti mba.Mereka berkata tidak hamil tapi saat mendekati hari H baju buatan saya tidak muat di badannya karena perutnya membesar.Dan saya jadi kesulitan untuk rombak bajunya lagi mba" Ujarnya panjang lebar.
"Kalau gitu buat ukuran baju saya agak besar sampai kira-kira muat untuk bulan depan ya bu?Tapi ibu harus ingat,jangan bicarakan masalah ini ke kakak atau papah saya."
"Iya mba,saya gak akan bilang apa-apa."
__ADS_1
Tidak ku sangka ternyata satu orang lagi yang tahu tentang kehamilanku.Aku sekarang harus lebih hati-hati dan secepatnya menemukan cara untuk menggugurkan bayi ini.Tiba-tiba aku teringat Siska,mungkin saja Siska bisa membantu menyelesaikan masalahku.
Sore harinya aku bersiap untuk pergi ke rumah Siska.Tapi saat keluar dari rumah aku berpapasan dengan Beni.
"Kamu mau kemana Ra?" Tanya Beni.
"Aku mau ke rumah Siska,Ben."
"Kamu kan lagi sakit,apa gak bisa di tunda aja?"
"Gak bisa Ben,aku ada urusan penting sama Siska"
"Ya udah aku antar kamu ya?"
"Iya" Jawabku setuju,karena aku juga kebetulan sedang tidak ingin mengendarai mobil sendiri.
Sepanjang perjalanan kami hanya saling diam.Beni terlihat beberapa kali melirik padaku tapi aku abaikan.Sampai akhinya aku tiba di rumah Siska.
"Nanti kalau mau pulang telepon aku aja ya?Nanti aku langsung jemput kamu lagi" Kata Beni.
"Iya" Jawabku sambil langsung masuk ke rumah Siska.
"Nara,kok lo gak ngomong mau kesini?" Tanya Siska.
"Iya karena gue tau lo pasti ada di rumah."
"Oh terus lo ada apa ke rumah gue?Biasanya lo kesini pas lagi ada masalah" Ujar Siska dengan wajah meledek.
"Gue gak maksud gitu,tapi emang benar sih lo itu orang yang paling bisa bantu gue keluar dari masalah.Dan sekarang masalah gue ini..." Kataku sambil menempelkan tangan Siska pada perutku.
"Jangan bilang kalau lo hamil,Ra?" Tanya Siska dengan wajah tercengang.
"Iya Sis,ternyata gue hamil 3 bulan."
"Gila si Deon baru pacaran sama lo beberapa bulan tapi langsung ada hasilnya."
"Bukan Deon,Sis.Tapi ini anaknya Beni,gue sama Deon belum pernah ngelakuin itu."
__ADS_1
Akupun menceritakan detailnya pada Siska.Dia sepertinya mengerti tentang ke khawatiranku selama 2 hari ini.
"Kalau gue boleh jujur,sebenarnya gue juga pernah ada di posisi lo,Ra.Gue pernah hamil anak mantan pacar gue."
"Hah?Seriua lo Sis?Terus gimana jadinya?" Tanyaku dengan sangat terkejut.
"Gue gugurin kandungan gue di salah satu klinik.Karena lo tau sendiri,gue masih terlalu muda buat punya anak.Gue masih pengen main-main."
"Emm lo bisa antar gue kesana?Gue juga gak bisa kalau harus lahirin bayi ini."
"Kenapa gak lo coba dulu ngomong ke Beni?"
"Gak bisa Siska,Beni pasti bakal langsung batalin pertunangannya.Dan bokap gue bisa jantungan kalau tau anaknya yang 1 batal tunangan dan yang 1 nya hamil di luar nikah."
"Iya juga sih.Tapi gue gak bisa antar lo sekarang-sekarang,besok selama 2 minggu gue ada kegiatan jurusan di kampus."
"Apa gak bisa luangin waktu bentar buat gue?Nanti kalau 2 minggu lagi,makin dekat waktunya sama pertunangan Beni.Kalau pas pertunangan Beni gue belum pulih gimana?"
"Justru bagus,jadi lo punya alasan buat gak ikut ke acara pertunangan mantan pacar lo sendiri."
Yang di katakan Siska ada benarnya juga,aku sepertinya tidak akan sanggup melihat Beni bertunangan dengan wanita lain.Setelah berbincang cukup lama,hari mulai malam.Akupun menghubungi Beni dan memintanya untuk menjemputku.Beberapa menit kemudian Beni datang dengan mobilnya.Aku langsung berpamitan pada Siska dan naik ke mobil.
"Emang kamu ada urusan apa sama Siska sampai malam kaya gini?" Tanya Beni.
"Ya ada lah,kamu gak perlu tau" Ujarku dengan ketus.
"Aku cuma gak mau kamu kecapean lagi,kamukan harusnya istirahat di rumah."
"Iya,iya,sekarang aku mau tidur dulu disini.Kalau udah sampe rumah,bangunin aku."
Aku langsung pura-pura tidur dalam perjalanan ke rumah.Karena aku tidak mau banyak mengobrol dengan Beni.Aku takut aku bisa saja keceplosan berbicara tentang kehamilanku pada Beni.
Mobilpun berhenti,aku berpikir mungkin sudah sampai dan sudah saatnya aku pura-pura bangun.Tapi saat hendak membuka mata,aku merasakan ada nafas yang berhembus di dekat bibirku.Ternyata Beni berusaha mencium bibirku.
"Aku harap kita bisa seperti dulu lagi Ra,aku harap sekarang kita bisa lari kehadapan papah dan mengakui segalanya.Kalau papah gak setuju kita bisa keluar dari rumah ini dan hidup berdua dengan bahagia." Ucap Beni sambil memegang tanganku.
Aku hampir saja menangis mendengar perkataan Beni.Karena setiap memikirkan hubunganku dengan Beni,aku juga sering berpikir hal yang sama sepertinya.
__ADS_1
Beni tidak membangunkan ku,dia langsung menggendongku sampai ke kamar.Aku yang pura-pura tidur akhirnya mau tidak mau harus melanjutkan actingku.