
Aku bingung dengan situasi saat ini.Putri, orang yang diam-diam menyukai Beni tiba-tiba ada disini bersama kolega papah.
"Ini perkenalkan anak-anak saya.Yang perempuan namanya Nara dan yang laki-laki namanya Beni" Ucap papah menjelaskan.
"Iya pak Budi,kebetulan anak saya juga sering bercerita tentang Beni dan adiknya ini.Kebetulan mereka satu kampus dengan anak saya Putri" Ucap pak Herman,kolega papah.
"Perkenalkan om,nama saya Putri.Saya teman satu angkatan Beni dan kakak tingkatnya Nara" Ucap Putri sambil tersenyum dan bersalaman dengan papah.
Situasinya masih membingungkan bagiku.Beni juga sedari tadi hanya diam sambil sesekali ikut tersenyum mendengar obrolan mereka.
"Jadi langsung ke intinya saja,papah mau menjelaskan untuk kalian berdua" Kata papah kepadaku dan Beni.
"Sebenarnya Putri adalah calon tunangan Beni.Kami berencana menjodohkan Beni dan Putri untuk menikah di kemudian hari" Timpal ayahku.
Seketika tanganku gemetar,aku tidak menyangka bahwa ini rencana yang papah maksud.Aku memandangi Beni sambil berharap dia menolak perjodohan ini.
"Bagaimana nak Beni,apa kamu setuju untuk dijodohkan dan menikah dengan anak om,Putri?" Tanya pak Herman pada Beni.
Beni tampak bingung,dia terdiam untuk beberapa saat padahal para orangtua sudah menunggu responnya.Aku yang masih merasa sesak mendengarnya,mencoba meraih tangan Beni yang berada di bawah meja dan aku genggam erat tangannya.
"Saya...emm saya mau di jodohkan dengan Putri om.Dan saya juga akan bersedia menikahi Putri ke depannya nanti" Ucap Beni dengan wajah datar.
Setelah Beni berbicara seperti itu,aku langsung melepas genggaman tanganku.Aku memandang Beni yang hanya menunduk setelah mengatakan hal itu.Aku tahu ini semua akan terjadi,tapi aku tidak menyangka waktunya akan datang secepat ini.
"Syukurlah Beni juga bersedia menerima perjodohan ini ya pak?Kelak setelah menikah dengan Putri nanti,rumah sakit milik saya bisa saya serahkan kepada putri saya dan Beni" Ucap pak Herman.
"Iya pak,semoga nanti semuanya diberikan kelancaran.Jadi kapan hari baiknya saya sekeluarga bisa melamar nak Putri?" Ungkap papah.
"Bagaimana kalau sekitar 4 bulan lagi pak?Nanti 2 bulan setelahnya biar kita atur tanggal pernikahan mereka.Sekarang biarkan anak-anak saling pendekatan terlebih dahulu karena kebetulan 2 atau 3 bulan kedepan saya harus menjalani pengobatan di luar negeri" Ucap pak Herman menjelaskan.
__ADS_1
Mendengar segalanya telah diatur sedemikian rupa,aku tahu aku tidak punya harapan lagi.Aku memilih untuk pulang karena sudah tidak tahan berada di tengah-tengah mereka.
"Pah,Nara kayanya harus pulang duluan.Nara sedikit pusing,ditambah besok juga Nara harus pergi ke puncak.Jadi Nara ingin istirahat lebih awal" Kataku membuat alasan.
"Kamu gak apa-apa pulang sendiri?papah takut kamu kenapa-kenapa di jalan nak" Ucap papahku.
"Biar aku antar Nara pulang ya pah?" Pinta Beni.
"Gak usah,kakak disini aja.Ini juga kan acara untuk kakak dan kak Putri.Om,tante,kak Putri,maaf saya harus permisi sekarang" Ujarku sambil berpamitan.
Raut wajah Beni tampak khawatir,seolah dia ingin berlari untuk mengejarku yang akan meninggalkan tempat itu.Tapi tidak ada yang bisa dia perbuat untukku disana.
Aku pulang dengan menggunakan taksi,sepanjang perjalanan aku menangis tersedu-sedu.Ternyata sampai disini perjalan kisah cinta kami.Kisah cinta yang ambigu,yang memang dari awal menyalahi norma.
Sesampainya di rumah aku langsung mengunci diriku dalam kamar.Bi Asih yang melihatku pulang sendirian tampak kebingungan.Bagaimana aku harus mengahadapi Beni kedepannya?Apa aku harus kembali melanjutkan peranku sebagai seorang adik?
Keesokan harinya aku bersiap untuk menginap di puncak,aku anggap ini liburan jarak dekat untuk menenangkan pikiranku karena masalah semalam.Saat turun dari kamarku aku berpapasan dengan Beni.
"Gak usah,aku udah minta Deon buat jemput aku" Ucapku ketus.
"Jangan Ra,kamu gak boleh pergi sama Deon" Kata Beni sambil memegang tanganku.
"Lepas Ben,nanti papah bisa lihat.Dan ini juga bukan urusan kamu,jadi kamu gak usah ikut campur"
Beni melepaskan tangannya dan hanya bisa terdiam.Deon juga akhirnya datang menjemputku.Setelah berpamitan pada papah,aku langsung berangkat ke puncak bersama Deon.
Menurutku puncak memang tempat yang cocok untuk melepas penat dari ramainya ibu kota.Walaupun jaraknya tidak terlalu jauh dari Jakarta,tapi udaranya jelas berbeda.Aku menikmati sepanjang perjalananku kesana,seolah aku lupa permasalahanku dengan Beni.
Kami berdua akhirnya tiba di villa milik keluarga Selena.Ternyata Xana sudah lebih dulu sampai dari pada aku dan Deon.Dari siang hari sudah banyak acara kecil-kecilan yang di selenggarakan untuk memeriahkan ulang tahun Selena.Dan puncaknya malam ini,Selena berencana untuk merayakannya dengan pesta di kolam renang.Tidak lupa dia juga menyiapkan beberapa set bikini untuk para tamu wanita.
__ADS_1
"Waah gue gak nyangka pestanya semeriah ini, walaupun yang datang cuma anak-anak satu kelas sama beberapa teman dekat Selena" Ujar Xana.
"Gue juga ngira ini akan jadi pesta yang biasa-biasa aja tapi ternyata bisa seheboh ini acaranya" Timpalku.
"Xana,Nara,ini coba kalian pilih bikini yang mana yang mau kalian pakai?" Tanya Selena pada kami berdua.
"Selena,emang beneran gue harus pake ini?" Tanyaku dengan enggan.
"Harus dong Ra,kitakan pestanya di kolam renang.Emang lo mau pake dress atau celana jeans di kolam?" Tanya Selena lagi.
"Ya gak mau sih,cuma gue gak pede aja pake bikini kaya gini,mungkin karena gue belum pernah nyoba sebelumnya." Kataku pada Selena.
"Nah,mumpung sekarang ada kesempatan lo coba pake bikininya.Pasti lo cantik banget pake yang ini" Ucap Selena sambil memberikan setelan bikini warna hitam dengan rantai kecil di bagian belakangnya.
"Udah lah kita pake aja Ra,kasihan Selena udah siapin ini dari tadi siang" Ajak Xana.
Aku dan Xana akhirnya menerima permintaan Selena untuk memakai bikini yang sudah di siapkannya.Bikini hitam dengan rantai yang membuat kesan lebih seksi bagi pemakainya.
"Lo cantik banget Ra,tapi gue baru tau kalau lo ternyata punya tato secantik itu di dada lo" Ucap Xana terkejut.
"Makasih Na,lo juga cantik dan seksi banget pake bikini itu.Iya tato gue akhirnya bisa ada yang lihat juga selain kaca di rumah haha" Candaku pada Xana.
Padahal aslinya selama ini tato ini sudah terjamah oleh Beni.Tapi aku tidak mau mengakuinya pada Xana.Biarkan itu menjadi rahasia antara aku dan Beni saja,tapi mungkin juga rahasia bagi Siska sahabatku yang tahu segalanya.
Setelah keluar dari ruang ganti,kami berpapasan dengan Deon yang sudah telanjang dada dan hanya memakai celana pendek saja.
"Lo,lo cantik banget pake bikini itu Nara" Ucap Deon seperti gugup melihatku.
"Makasih Deon.Acaranya udah di mulai?" Tanyaku memastikan.
__ADS_1
"Iya bentar lagi acaranya mau mulai,kita langsung ke area kolam renang aja.Kalian berdua ikutin gue ke tempat pestanya." Ajak Deon pada kami berdua.