
Keesokan harinya saat waktu sarapan tiba,ternyata Beni masih belum bangun.Papah dan aku sudah cukup lama menunggu Beni di meja makan tapi dia tidak kunjung turun dari kamarnya.
"Nara,coba kamu lihat kakak kamu.Tumben sekali hari ini dia telat sarapan atau mungkin dia belum bangun?" Tanya papah heran.
"Iya pah,Nara ke atas dulu lihat kak Beni."
Akupun beranjak pergi menuju kamar Beni.Padahal kalau bisa hari ini aku tidak mau bertemu dengannya,aku takut kalau Beni bisa mengingat kejadian semalam saat dia mabuk.Sesampainya di kamar Beni,aku langsung masuk.Ternyata Beni masih tidur,tercium bau alkohol yang cukup menyengat dari kamarnya.
"Ben,Beni banguuuunn" Teriakku sambil menggoyang-goyangkan bahunya.
"Euumm Nara,ngapain kamu di kamar aku?Aawww kepala aku sakit Ra,rasanya mau pecah." Ucap Beni
"Aku disuruh papah manggil kamu buat sarapan.Semalam kamu habis mabuk?" Tanyaku pura-pura tidak tahu.
"I iya Ra,tapi jangan ngomong ke papah yah?"
"Iya,iya.Ya udah kamu mandi dulu sana,terus hilangin bau alkoholnya.Nanti biar aku ngomong ke papah kalau kamu gak enak badan" Ujarku sambil berlalu meninggalkan Beni.
"Mana kakak kamu Nara?" Tanya papah.
"Kak Beni lagi mandi pah,dia ternyata gak enak badan jadi barusan dia baru bangun" Kataku.
"Ya sudah nanti sebelum berangkat ke rumah sakit papah periksa kakak kamu dulu."
"Gak usah pah,kayanya kak Beni cuma demam aja.Nanti biar aku yang kasih obat,papah langsung berangkat aja takut telat" Kataku membuat alasan.
Papahpun percaya denganku dan menyuruhku untuk memperhatikan Beni selama dia sakit.Padahal sakit Beni hanya dibuat-buat olehku.Setelah papah berangkat,Beni baru keluar dari kamarnya.Matanya sayu dan bibirnya agak pucat.
"Ben,kamu beneran gak apa-apa kan?" Tanyaku pada Beni.
"Iya Ra,aku gak apa-apa kok.Aku cuma sedikit pusing aja."
"Lagian kamu kenapa sih mabuk segala?terus semalam kamu ngapain aja pas mabuk?" Kataku mencoba untuk memancing ingatan Beni.
"Gak tau aku gak ingat Ra."
Sudah aku duga Beni tidak akan ingat kejadian semalam,aku bersyukur karena itu.Tapi entah kenapa aku juga sedikit merasa kecewa.Sesaat terdengar bunyi bel dari luar,aku bergegas turun untuk melihat siapa tamu yang datang pagi-pagi seperti ini.Setelah aku membukakan pintu,ternyata itu adalah Putri.
__ADS_1
"Kak Putri?Ada apa kakak pagi-pagi kesini kak?" Tanyaku.
"Aku kesini mau ngasih bubur buat Beni,katanya Beni gak bisa ke kampus gara-gara gak enak badan" Jawab Putri.
"Oh ya udah langsung ke kamarnya aja kak,kak Beni kayanya masih di kamar."
Aku mengantar Putri ke kamar Beni di lantai 2.Terlihat wajah Beni seperti tidak suka dengan kedatangan Putri yang mendadak.
"Sekarangkan ada kak Putri,jadi aku gak usah jagain kak Beni lagi.Aku titip kak Beni ya Kak?Soalnya sekarang aku mau ke kampus" Ujarku dengan santai.
"Iya Nara,aku pasti jagain kakak kamu kok."
Akupun keluar dari kamar Beni,lalu segera bersiap untuk pergi ke kampus.Aku tidak mau terus berada di rumah dan ada diantara mereka berdua.Rasanya sesak,mungkin ini yang dirasakan Beni saat melihatku dengan Deon bermesraan.
***
Waktu berlalu,hari ini akhirnya Siska menghubungiku dan menyuruhku ke rumahnya.Tapi aku bingung meminta izin pada papah untuk keluar,karena saat ini keluargaku sudah mulai sibuk mempersiapkan acara pertunangan Beni dengan Putri.Acaranya memang tidak dilakukan besar-besaran,tapi karena kebanyakan tamu yang akan hadir adalah kolega papah dari berbagai rumah sakit,jadi papah ingin menjamu mereka dengan cukup pantas.
"Pah,Nara boleh keluar dulu sebentar gak?" Pintaku pada papah.
"Aku mau ke rumah Siska sebentar pah,kita udah janjian dari minggu kemarin."
"Ya sudah,tapi kalau urusan kamu sama Siska udah selesai kamu segera pulang."
"Iya siap pah."
Setelah mendapat izin aku langsung mengendarai mobilku menuju rumah Siska.Sesampainya di rumah Siska,ternyata Siska sudah menungguku di ruang keluarga.
"Hai Sis,akhirnya lo hubungi gue juga" Sapaku.
"Iya nih,gue baru ada waktu buat lo hari ini,kemarin-kemarin gue sibuuuukk banget sama acara jurusan di kampus" Ucap Siska.
"Terus lo udah hubungi dokter di kliniknya?"
"Udah sih,tapi apa lo udah pikirin baik-baik sebelum gugurin kandungan lo itu?Soalnya bisa aja nyawa lo juga jadi taruhannya,Ra."
"Udah kok,gue udah pikirin baik-baik dan menurut gue gak ada jalan yang lebih baik dari ini.Apalagi sebentar lagi acara pertunangan Beni,gue gak mau sampe acara itu hancur gara-gara gue."
__ADS_1
"Ya udah sekarang kita langsung berangkat aja,supaya nanti lo juga bisa cepat pemulihan"
Kami akhirnya berangkat menuju klinik aborsi,sebenarnya aku sangat gugup dan takut.Karena aku yang juga kuliah di jurusan kedokteran,sedikit banyaknya jadi tahu bagaimana proses aborsi tersebut.Setengah jam kemudian kami tiba di tempat tujuan.Ternyata kliniknya lumayan kecil dan cukup tersembunyi.Mungkin ini sengaja karena praktek aborsi jelas-jelas dilarang.
"Apa mba udah yakin mau melakukan aborsi?" Tanya sang dokter.
"Saya yakin dok,saya gak bisa melahirkan bayi ini dok" Jawabku.
"Ya sudah sekarang kita periksa dulu kandungan mba ya?"
(Setelah pemeriksaan secara umum)
"Kandungan mba ternyata sudah mulai besar,sekarang sudah hampir 4 bulan ya?"
"Iya dok" Jawabku singkat.
"Sepertinya bayinya juga sehat,nanti saat prosesnya mba harus tahan ya?Ini akan jadi proses yang sulit dan menyakitkan."
Aku hanya mengangguk sambik menarik nafas dalam-dalam.Aku berbaring di tempat tidur yang sudah disediakan dengan ditemani Siska disampingku.Aku menggenggam erat tangan Siska karena ketakutan saat dokter mulai menyiapkan alat-alat yang akan dipakai.Saat semuanya sudah siap dan akupun sudah membuka kedua kakiku lebar-lebar,aku tiba-tiba merasakan denyutan di dalam perutku dengan sangat jelas sampai rasanya menggelikan.Dengan reflek aku lalu berteriak pada dokter.
"Stop dok,jangan dilanjut lagi prosesnya" Teriakku sambil tiba-tiba menangis menatap pak dokter.
Siska dan sang dokter terlihat terkejut mendengar aku yang tiba-tiba berteriak.Padahal alat untuk melakukan prosedur baru mau dimasukan ke selangkanganku.
"Lo kenapa Nara?Kenapa lo nyuruh dokter buat berhenti?" Tanya Siska Heran.
"Siska gue gak bisa gugurin bayi ini,bayi ini hidup Siska.Dia benar-benar hidup di rahim gue.Dia sehat,dia beberapa kali berdenyut di dalam sini" Kataku sambil menangis tersedu-sedu memegangi perutku.Dokter tahu bahwa aku berubah pikiran,diapun langsung membereskan lagi alat-alatnya dan menyimpannya kembali.Setelah aku cukup tenang,akupun duduk kembali dan berbicara dengan dokternya.
"Maaf ya dok,saya gak jadi menggugurkan kandungan saya.Dalam lubuk hati saya yang paling dalam,ternyata saya menginginkan bayi ini" Ucapku menjelaskan.
"Tidak apa-apa mba,itu pilihan yang tepat buat mba.Saya hanya membantu orang-orang mewujudkan pilihannya" Kata dokter dengan tenang.
"Maaf juga ya Sis,padahal lo udah jauh-jauh antar gue kesini.Tapi gue malah berubah pikiran" Kataku pada Siska.
"Udahlah Nara,lo gak usah pikirin itu.Yang penting sekarang lo jadi tau pasti pilihan hidup lo" Ucap Siska sambil tersenyum.
Setelah aborsi yang gagal,kamipun segera pergi dari klinik dan kembali pulang ke rumah Siska.Aku masih belum siap untuk langsung pulang ke rumahku,jadi aku ingin menenangkan diriku di rumah Siska terlebih dahulu.
__ADS_1