Sepasang Bunga Lotus

Sepasang Bunga Lotus
Bertemu Mamahku


__ADS_3

Penerbangan Jakarta-Bali tidak memakan waktu yang lama,jadi aku bisa dengan tenang menikmati perjalananku walaupun aku sedang hamil.Walaupun aku sangat khawatir dengan keadaan papah nantinya,tapi untuk sekarang aku merasa tenang setidaknya aku sudah memberi tahu bahwa aku akan tinggal dengan mamahku.


Setibanya di bandara,aku langsung menghubungi mamahku dengan menggunakan nomor yang baru ku gunakan.Tapi tidak disangka ternyata mamah menjemputku di bandara.


"Mamah,Nara kangen sama mamah" Teriak ku sambil memeluk mamah.


"Nara,akhirnya mamah bisa ketemu kamu lagi sayang" Ucap mamah.


"Oh iya mah,mamah jemput aku sendirian?" Kataku sambil menoleh ke kiri-kanan.


"Iya mamah jemput kamu sendirian karena Ricard lagi siapin makanan buat makan siang kita nanti."


"Ricard itu siapa mah?" Tanyaku penasaran.


"Nanti sampai rumah kamu juga tau,nanti sekalian mamah kenalkan."


Kamipun keluar dari bandara dan pergi menuju tempat mamah tinggal.Sepanjang jalan terasa suasana Bali yang sudah lama aku lupakan,rasanya sangat damai dan tenang,berbeda dengan Ibukota Jakarta.


Setelah kurang lebih 15 menit di perjalanan,kamipun tiba di rumah mamah yang terlihat hijau dan asri karena banyak pepohonan di halamannya.Aku langsung dipersilakan untuk masuk dan saat itu lah aku bertemu Ricard.


"Nah Nara,kenalkan ini Ricard suami mamah sekarang" Ujar mamahku.


"Halo saya Ricard,ternyata kamu sama cantiknya dengan mamah kamu" Ucap Ricard.


"Halo om,saya Nara.Hehe makasih atas pujiannya" Kata ku agak kikuk.

__ADS_1


Aku tadinya berpikir mamah menikahi lelaki yang jauh lebih muda darinya seperti mantan pacarnya dulu,tapi ternyata tidak.Ricard adalah seorang bule asal Australia yang usianya sama dengan papahku dan semenjak menikah dengan mamah,dia sudah menjadi warga negara Indonesia.


Kesan pertamaku terhadap Ricard cukup bagus,aku tidak merasa tidak nyaman saat harus berbincang atau saat ada di antara mereka berdua.Setelah makan siang kami bertiga juga menonton TV bersama tanpa rasa canggung.


"Nara,saya punya satu permintaan sama kamu" Ungkap Ricard sambil menikmati camilannya.


"Permintaan apa om?" Tanyaku penasaran.


"Saya sebenarnya sudah pernah menikah tapi tidak mempunyai anak,saat saya menikah dengan mamah kamupun kami tidak memungkinkan untuk punya anak.Jadi,apa kamu bisa panggil saya Daddy?Saya sangat ingin mendengar panggilan itu dari anak saya." Ungkap Ricard.


Aku yang terkejut mendengar permintaannya seketika menjadi malu,karena aku tidak menyangka harus memanggil orang lain dengan sebutan itu.


"Oke Nara coba ya Daddy?" Ucapku sambil tersenyum.


"Nara,semoga kamu bisa menerima Ricard sebagai Daddy kamu ya?Mamah gak minta kamu untuk jadikan dia sebagai pengganti papah kamu,tapi mamah harap kamu bisa mengahargai dia sebagai orang yang mamah cintai"


"Iya mah Nara ngerti kok,kedepannya Nara akan coba untuk lebih dekat sama Daddy" Kata ku sambil menatap mamah.


Saat malam tiba aku mulai merasa seperti ada yang hilang,aku merasa belum terbiasa dengan suasana kamar disini.Aku juga belum terbiasa dengan tidak adanya papah dan juga Beni.Ketika mataku sudah hampir terlelap tiba-tiba mamah masuk ke kamarku.


"Nara,kamu udah tidur nak?" Tanyanya padaku.


"Belum mah,Nara baru mau tidur.Ada apa mah?"


"Nara,sebenarnya mamah penasaran kenapa kamu memilih untuk tinggal sama mamah sekarang?Sebenarnya mamah bisa tanya kamu besok,tapi mamah ingin mengobrol berdua sama kamu tanpa adanya Ricard."

__ADS_1


Aku menarik nafas dalam-dalam,menyiapkan hatiku untuk menceritakan segalanya pada mamahku.Aku mulai bercerita dari awal saat aku dan Beni mulai berpacaran sampai akhirnya Beni bertunangan dengan Putri


"Dan sekarang aku lagi hamil anak Beni mah" Ucapku sambil menunduk.


"Apa?Kamu hamil?" Tanya mamah yang terlihat syok.


"Iya mah,maafin Nara ya mah.Mamah pasti kecewa banget sama Nara.Tapi Nara gak tau harus kemana lagi selain kesini,Nara udah nyoba buat gugurin kandungan Nara tapi Nara gak bisa.Anak ini tumbuh sehat di rahim Nara mah" Ungkapku sambil menangis memeluk tangan mamah.


"Udah sayang udah,kamu gak usah nangis.Mamah ngerti kok,selama ini kamu pasti kesulitan dan pilihan kamu untuk mempertahankan bayi itu sudah tepat,bayi itu berhak hidup sayang.Maafin mamah ya karena mamah gak ada saat kamu kesulitan" Ucap mamah sambil memelukku.


Mendengar itu aku semakin menangis tersedu-sedu,aku memang merasa sangat kesulitan setelah orang tuaku bercerai.Dan selama aku mengalami kesulitan itu,hanya Beni yang ada untuk menemaniku.


"Sebenarnya itu bukan murni kesalahan kalian juga,dari awal harusnya mamah dan papah memikirkan kemungkinan seperti ini terjadi.Tapi kami terlalu tidak peka,padahal kami mengadopsi Beni saat dia dan juga kamu masuk ke masa puber.Dimana kalian sudah ada ketertarikan terhadap lawan jenis" Jelas mamahku.


"Tapi mah kalau dulu mamah masih bersama kami di rumah apa mamah akan setuju dengan hubungan kami berdua?"


"Mamah pasti setuju nak,asal anak mamah bahagia.Toh kalian juga tidak ada hubungan darah sama sekali jadi gak ada masalah" Ujar mamahku.


"Kalau papah?Kira-kira papah setuju gak ya?"


"Kalau papah kamu kayanya agak sulit,dia kan kepala keluarga pasti dia juga mempertimbangkan nama baik keluarga.Apalagi dia punya banyak kolega yang sudah tau kalau kami mengadopsi seorang putra."


Yang dikatakan mamah memang benar,karena hal itu juga yang selama ini aku dan Beni pikirkan.Makanya selama ini kami tidak pernah berani mengungkapkan hubungan kami pada papah.Papah memang orang yang baik,tapi urusan nama baik keluarga papah tidak bisa kompromi.


Setelah percakapan panjang hingga tengah malam,aku dan mamah sama-sama tertidur di tempat tidurku.Aku merasa aku kembali menjadi anak-anak yang saat kecil tidur bersama mamah.Padahal sebentar lagi aku juga akan punya anak yang harus tidur denganku.

__ADS_1


__ADS_2