
Keesokan paginya,Beni tidak menegurku sedikitpun.Raut wajahna datar dan dingin,seperti orang yang sudah tidak punya kepedulian terhadap sekitar.
"Hari ini kamu mau kemana Ben?" Tanya papah.
"Beni hari ini mau mengambil pesanan cincin tunangan sama Putri pah" Jawab Beni.
"Bagus kalau gitu,jadi sedikit demi sedikit persiapannya sudah siap.Kalau kamu Nara?Apa hari ini kamu mau ke kampus?"
"Iya pah,hari ini Nara mau ke kampus" Jawabku.
Memang benar hari ini rencannya aku akan pergi ke kampus,tapi bukan untuk belajar melainkan untuk mengajukan cuti.Aku juga harus menemui Deon dan menjelaskan semua hal yang terjadi selama ini.Dan aku juga harus berpamitan dengan Xana sahabatku.Sesampainya di kampus,aku langsung menemui mereka berdua.
"Xana,hari ini gue mau pamitan sama lo" Ujarku.
"Pamit?Pamit kemana?" Tanya Xana kaget.
"Hari ini gue udah ajuin cuti kuliah,karena beberapa hari lagi gue bakalan pindah ke Bali" Jawabku enteng.
"Ini maksudnya apa Nara?Pindah ke Bali gimana?Kamu kan gak pernah cerita apa-apa ke aku?" Tanya Deon dengan raut wajah kecewa.
"Maaf aku baru kasih tau kamu hari ini,nanti sepulang dari kampus kamu ikut aku ke rumah temanku Siska" Jawabku.
"Terserah kamu aja Ra,kamu emang gak pernah anggap aku ada selama ini" Kata Deon sambil pergi meninggalkan aku dengan Xana.
"Kalian ada masalah apa sih Ra?Lo cerita dong ke gue,jangan tiba-tiba lo mau pergi gitu aja" Ucap Xana.
"Sebenarnya gue pengen banget cerita ke lo Na,tapi gue gak tau harus mulai dari mana.Ini bukan masalah gue sama Deon,tapi ini murni masalah dari diri gue sendiri.Ini juga berat buat gue,tapi gue harap lo ngerti."
"Yah kalau emang itu udah keputusan lo,gue cuma bisa dukung lo doang Ra" Ucap Xana sambil memelukku.
Sampai kelas bubar Deon tidak masuk kelas,aku tahu dia sangat marah dan kecewa mendengar kabar kepindahanku yang tiba-tiba.Akhirnya selesai kelas aku mencari Deon di sekitar kampus,setelah bertemu aku langsung mengajaknya pergi ke rumah Siska.
Menurutku rumah Siska adalah tempat yang paling aman untuk menjelaskan segalanya pada Deon,karena tidak ada orang lain lagi yang bisa mendengar pembicaraan kami selain Siska yang sudah tahu segalanya.
__ADS_1
"Kita mau ngapain disini Ra" Tanya Deon.
"Aku harus kasih tau kamu sesuatu dan gak ada tempat lain yang aman selain disini" Jawabku.
Siska yang tahu aku membawa Deon ke rumahnya langsung meninggalkan kami berdua di kamarnya,supaya aku dan Deon bisa bebas berbicara.
Di depan Deon aku keluarkan hasil USG kandunganku dan hasil tes kehamilanku saat di rumah sakit.
"Ini maksudnya apa Nara?" Tanya Deon.
"Deon,aku hamil" Jawabku.
"Ka...Kamu hamil?Ta.. tapi kan kita belum pernah sampai ngelakuin itu Ra" Ucap Deon dengan terbata-bata karena saking terkejutnya.
"Aku tau,karena ini bukan anak kamu Deon."
"Gak mungkin,kamu bukan orang yang kaya gitu Ra,kamu pasti bohong kan soal hasil tes ini?" Tanya Deon masih belum percaya.
Aku akhirnya membuka bajuku,aku perlihatkan padanya perutku yang sudah semakin membesar yang selama ini aku tutupi.Wajah Deon terlihat putus asa,dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Enggak Deon,aku gak khianatin kamu.Tapi ini memang terjadi sebelum kita pacaran."
"Terus siapa ayah dari bayi itu?"
"Aku gak bisa kasih tau kamu,tapi seperti yang kamu tau orang itu yang udah ngisi hati aku selama ini Deon" Ucapku sambil menunduk merasa bersalah.
"Heuh,ternyata sampai akhirpun kamu belum sepenuhnya membuka hati kamu buat aku.Walaupun aku gak tau siapa laki-laki itu tapi aku benar-benar udah kalah dari dia,karena sampai sekarangpun aku gak bisa gantiin posisi dia di hati kamu."
"Maaf Deon maafin aku,aku emang salah.Gak seharusnya aku memulai hubungan baru sebelum hatiku selesai lepas dari yang sebelumnya" Ucapku sambil mulai menangis.
"Udah,kamu jangan nangis Ra.Toh semuanya udah terjadi,aku juga gak ada hak untuk tanggung jawab atau nyuruh kamu untuk aborsi.Sekarang jalani hidup sesuai pilihan kamu,kalau memang kamu harus pindah dari Jakarta semoga kamu bisa lebih baik disana" Ucap Deon sambil memelukku.
Tangisanku semakin pecah,aku tidak menyangka perasaan Deon sebesar dan setulus itu.Mungkin kedepannya aku akan terus dihantui rasa bersalah pada Deon.
__ADS_1
Deon menyeka air mataku,dia juga membantuku mengenakan bajuku kembali.Dia lalu mencium keningku,berharap aku selalu bahagia dengan pilihanku.Selesai sudah hubungan asmara kami selama beberapa bulan ini.Waktu yang singkat namun menorehkan luka yang begitu dalam bagi Deon.
"Kamu harus bahagia Nara,dimanapun dan kapanpun.Aku tau kamu kuat,aku tau kamu juga akan jadi ibu yang baik untuk anak kamu nanti" Ucap Deon sebelum pergi meninggalkan aku sendirian di kamar Siska.
Setelah Deon pergi peerasaanku campur aduk,aku merasa lega karena aku sudah jujur pada Deon dan aku juga lega karena bisa berhenti membohongi diriku sendiri untuk pura-pura mencintai Deon.Tapi bersamaan dengan itu,hatiku juga sakit melihat Deon yang pergi dengan wajah sedih dan putus asa.Aku harap Deon juga bisa menemukan kebahagiaannya sendiri.
Setelah tahu Deon sudah pergi,Siska kembali masuk ke kamarnya.Dia melihat aku yang masih terduduk melamun di atas tempat tidur.
"Lo gak apa-apa kan Ra?" Tanya Siska khawatir.
"Gue gak apa-apa Sis,tapi hati gue sakit liat Deon sedih kaya gitu."
"Itu tandanya lo sayang sama dia walaupun gak sampai benar-benar bisa menggantikan Beni di hati lo,Ra."
"Ya bisa jadi kaya gitu Sis,sekarang gue mau satu persatu selesaikan masalah gue sebelum berangkat ke Bali" Ucapku sambil tersenyum.
"Emang rencananya kapan lo berangkat?"
"Gue berangkat pas hari pertunangan Beni sama Putri" Ujarku.
"Waah gila lo,yang ada nanti orang-orang sibuk nyariin lo bukan fokus ke acara tunangan."
"Gak mungkin,bokap gue pasti bakal pura-pura tenang dulu dan selesaikan acaranya.Karena kalau sampe acaranya batal,bokap gue juga yang malu."
"Terserah lo deh,nanti kabarin gue aja biar gue langsung jemput lo ke rumah"
"Oke.Eh iya kayanya gue harus pulang sekarang nih" Kataku sambil siap-siap untuk pulang.
Aku lalu berpamitan pada Siska,tapi baru juga hendak menuruni tangga menuju bawah tiba-tiba perutku terasa kram.
"Aarggh,aaw perut gue sakit banget Sis" Kataku sambil memegangi perutku.
"Lo kenapa Nara?Perasaan lo tadi gak kenapa-kenapa deh.Ya udah kita ke kamar gue lagi ya?" Ajak Siska dengan wajah panik.
__ADS_1
Aku akhirnya kembali ke kamar Siska dan tidak jadi pulang karena rasa sakitku yang tidak kunjung hilang.Siska mengajakku memeriksakannya ke rumah sakit,tapi aku menolak karena takut tiba-tiba bertemu dengan orang yang ku kenal lagi seperti saat bertemu Putri.
Setelah sakit di perutku mereda,aku memutuskan untuk menginap di rumah Siska,karena takut terjadi hal seperti itu lagi saat di perjalanan pulang.