
Aku membalas ciuman dari Beni dengan lembut.Tapi Beni membalas dengan memainkan lidahnya.Perlahan tapi pasti,Beni mulai melepas pakaian tidurnya.Dia lalu dengan liarnya menciumi leherku sambil tangannya masuk ke dalam pakaianku dan satu persatu melucutinya.
"Sebelum berangkat besok,aku ingin kamu ingat ini,Nara" Bisik Beni sambil mengecup dan memberi tanda di leher serta dadaku.
Aku hanya pasrah,menikmati permainan Beni.Dengan tubuhnya berada di atas tubuhku,dia mulai menjamah setiap inci dari tubuhku.Dari atas sampai bawah tidak ada yang terlewat dan saat dia semakin mengarah ke bawah dia langsung mencoba memasukkan lidahnya ke himpitan yang sempit milikku.Sementara tangannya asyik memainkan bunga lotusku.
"Aaahh Ben,geli Ben" Desahku sambil menggelinjang kegelian.
Semakin aku mendesah semakin Beni tertantang membuatku kegelian.Dan dengan pelan dia mulai memasukkan senjatanya ke dalam tubuhku.Aku meremas tangannya dan mencium bibirnya.Tapi Beni tidak teralihkan,dia masih tetap menghentakkan senjatanya padaku.Aku mengerang menikmati semua yang Beni lakukan.
Sampai beberapa saat kemudian,saat peluh membasahi tubuh kami,Beni mengeluarkan amunisinya ke dalam tubuhku.
"Aarrggh..aku sayang kamu Nara" Desah Beni sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku.
Melakukan hubungan se*s setelah bertengkar memang sangat menyengangkan.Tapi saat semuanya selesai,aku baru sadar bahwa Beni tidak memakai pengamannya.Aku langsung menyingkirkan tubuhnya dari tubuhku.
"Ben,kok kamu gak pake pengamannya sih?Aku baru inget sekarang,harusnya kamu inisiatif pake sendiri dong" Ucapku pada Beni.
"Udahlah gak apa-apa sayang,toh gak enak juga pake pengaman kaya gitu."
"Tapi kalau aku hamil gimana?"
"Ya ampun sayang,kamu kan udah punya suami.Mau kamu hamil berapa kali pun gak masalah,aku pasti tanggung jawab kok" Kata Beni sambil memelukku.
"Bukan gitu Beni,tapi anak-anak masih kecil buat punya adik" Jelasku pada Beni.
"Gak apa-apa sayang,kalau nanti mereka punya adik aku juga siapin suster pengasuhnya lagi."
"Huh kamu itu emang gak pernah mau ngalah" Ucapku sambil mencubit pipinya.
__ADS_1
Aku dan Beni yang kelelahan setelah bergulat di kasurpun akhirnya tertidur.Kami saling berpelukan dalam selimut dengan keadaan masih belum berpakaian.Niatnya aku ingin bangun siang dan menikmati waktu berduaku dengan Beni sebelum berangkat.Tapi ternyata anak-anak tidak bisa di ajak kompromi.
"Ben,kamu bangun dong.Anak-anak nangis barengan gitu,aku bingung" Ucapku pada Beni.
"Kamu kasih susu aja,aku cape banget Ra.Aku masih pengen tidur nih."
Akhirnya aku harus bangun menenangkan anak-anakku.Suster Nadia memang tidak berani masuk ke kamarku saat ada Beni,walaupun dia mendengar anak-anak menangis dengan kencang.Dan akupun cukup malu untuk memanggilnya ke kamar dalam keadaan tidak berpakaian.Terpaksa aku sendiri yang menenangkan mereka lalu memberi mereka ASI.
"Kamu jangan kasih mereka ASI langsung saat di luar ya?" Pinta Beni.
"Emang kenapa Ben?"
"Aku gak mau orang lain yang tau kamu punya tato bunga lotus disitu.Apalagi sekarang ada tambahan 'tato lain' dari aku" Bisik Beni padaku.
"Tenang aja aku gak suka keluar rumah sekarang.Kalaupun harus keluar ya aku pasti bawa susu formula buat mereka."
"Aku gak nyangka ternyata anak-anak sudah tumbuh besar Ra."
"Jangan gitu dong Ra,aku juga gak mau kaya gini.Aku pengennya kamu jadi satu-satunya istri aku."
"Iya,iya,ya udah mending sekarang kamu mandi dulu.Nanti kita berempat jalan-jalan sebelum kamu berangkat" Ucapku.
"Hemm ya udah aku mandi dulu sayang" Ucap Beni sambil mencium anak-anaknya yang sedang ku beri ASI.
Setelah aku,Beni dan juga anak-anak selesai mandi.Kamipun sarapan pagi di meja makan,di meja yang biasanya ada papah menunggu untuk makan bersama.
"Ben,tadi aku sempat berpikir kayanya aku gak akan bisa tinggal disini kalau kamu udah berangkat ke Singapore" Ucapku sambil menyantap makananku.
"Emang kenapa Ra?Kan disini masih ada bi Asih sama suster Nadia" Kata Beni.
__ADS_1
"Mereka bisa aja nanti pulang kampung dan ninggalin aku sendirian Ben,aku gak mau sendirian disini."
"Terus kamu pengennya gimana?Kamu mau ikut aku tinggal di Singapore?" Tanya Beni.
"Enggak lah,yang ada aku makin panas hati lihat kamu sama Putri tiap hari."
"Terus gimana?Rumah ini juga peninggalan papah,sayang loh Ra kalau harus di jual."
"Kayanya aku mau tinggal sama mamah lagi Ben.Aku gak minta buat jual rumah ini,kita suruh orang buat jaga rumah ini aja.Kan ada bi Asih,nanti kita juga cari satpam sama tukang kebun" Jelasku pada Beni.
"Kamu mau tinggal di Bali lagi?"
"Iya,sekarang orangtuaku cuma ada mamah.Jadi aku juga pengen deket sama mamah,Ben."
"Ya udah kalau emang mau kamu kaya gitu,tapi kamu hubungi mamah dulu."
"Iya sayang."
Obrolan kami berakhir seiring dengan berakhirnya sarapan pagi ini.Kami langsung bersiap untuk pergi jalan-jalan bersama anak-anak dan tanpa suster Nadia.
"Kita mau kemana hari ini?" Tanya Beni.
"Gimana kalau kita ke mall aja?Kita belanja buat kebutuhan kamu nanti di Singapore" Ucapku.
"Gak usah lah,aku juga kan bisa belanja disana nanti."
"Gak apa-apa sayang,kita beli sedikit baju aja buat kamu."
"Ya udah kalau gitu."
__ADS_1
Kami akhirnya berangkat menuju mall,dalam hati sebenarnya aku sangat ingin pergi ke pantai.Tapi mengingat sore nanti Beni harus segera berangkat,akhirnya aku urungkan niatku.