
Keesokan harinya,aku terbangun dengan mata sembab.Aku mengingat kejadian semalam dan aku sadar kalau mamah sudah tidak ada lagi di rumah ini.Tapi tiba-tiba aku teringat kak Beni yang mencium bibirku,walaupun samar tapi itu terasa sangat nyata.
Sekarang aku sudah kelas 3 SMA,sebentar lagi aku akan melaksanakan ujian akhir.Sementara itu kak Beni sekarang sedang kuliah di jurusan kedokteran.Katanya dia ingin mengikuti jejak papah yang menjadi dokter dan bisa menjadi relawan ke daerah pelosok.
Papahku memang dokter yang hebat dan tentunya sangat sibuk.Selain menjadi dokter di rumah sakit,papah juga sering menjadi dokter relawan untuk wilayah tertinggal.Sehingga beliau jarang ada di rumah untuk waktu yang cukup lama.Mungkin itu yang menjadikan mamah memilih laki-laki lain untuk menjadi pasangannya.
"Nara,nanti sore kakak jemput ke sekolah ya?" Kata kak Beni padaku.
"Gak usah kak,aku naik taksi aja.Aku males nanti teman-teman aku heboh titip kado untuk kakak lagi" Ujarku.
"Kakak tunggu di mobil aja kok,jadi nanti kalau kamu udah selesai langsung naik mobil kakak aja."
"Ya udah deh kalau gitu."
Sebenarnya aku ingin menanyakan masalah kak Beni yang menciumku semalam.Tapi aku takut dia salah paham dan hubungan kami menjadi canggung.
Sesampainya di sekolah,aku masih tidak semangat untuk belajar.Aku masih teringat mamah yang sekarang entah dimana.Aku juga sudah mencoba menghubunginya tapi ternyata ponselnya tidak aktif.
"Lo kenapa Ra,tumben gak kaya biasanya." Tanya Siska sahabatku.
"Nyokap bokap gue mau cerai Sis" Jawabku lesu.
"Hah?Cerai?Bukannya mereka itu harmonis terus ya selama ini?" Tanya Siska.
"Gak tau lah,yang jelas sekarang nyokap udah gak tinggal bareng kita lagi."
"Sabar ya Nara,gue juga dari kecil udah jauh dari nyokap bokap gue.Kadang gue juga ngerasa sedih kalau ada apa-apa gue cuma bisa ngadu ke pengasuh gue yang dari gue kecil,tapi sekarang gue udah terbiasa kok jadi gak masalah.Nanti lo juga terbiasa Ra"
__ADS_1
"Hemmm"
"Gimana kalau nanti malam kita main ke club?cowok gue yang DJ itu mau tampil loh.Ayo ikut Ra" Ajak Siska padaku.
"Gak ah,gue gak bakalan dapet izin dari bokap.Lo tau sendiri bokap gue orangnya keras"
"Ah payah lo,padahal anak-anak yang lain juga pada ikut loh Ra."
"Udahlah kalian berangkat aja,lagian gue mau belajar buat ujian nanti" Kataku.
Setelah jam pelajaran usai,aku bergegas pulang.Padahal tidak ada mama yang menunggu di rumah seperti biasa,tapi mungkin karena lelah aku jadi ingin cepat pulang.Di parkiran aku melihat mobil kak Beni,dia membunyikan klakson untuk memberi tanda padaku.
"Kakak udah lama nunggu disini?" Tanyaku pada kak Beni.
"Enggak kok,kakak juga baru sampe."
Malamnya pintu kamarku di ketuk beberapa kali,aku yang tertidur dari tadi sore haripun terkejut karena hari sudah gelap dan aku bahkan masih memakai seragamku.
"Nara,buka pintunya nak.Kamu makan dulu,papah juga mau bicara sesuatu sama kamu" Ujar papah di depan pintu.
"Bentar pah Nara mandi dulu sebentar" Teriakku pada papah.
Akupun mandi dengan terburu-buru karena aku sendiripun sudah merasa lapar sejak bangun tidur tadi.Selesai mandi aku turun menemui papah dan kak Beni di meja makan.
"Nara kamukan sudah dewasa,sebentar lagi kamu juga lulus sekolah.Papah harap kamu mengerti dengan keputusan yang mamah dan papah ambil.Mungkin ini yang terbaik untuk kita bersama" Jelas papah.
"Walaupun Nara udah dewasa,tapi bukan berarti Nara udah gak butuh mamah,pah.Nara tetap ingin mamah sama papah kembali lagi kaya dulu."
__ADS_1
"Itu gak mungkin Nara,mamah kamu sekarang juga sudah tinggal dengan pacar barunya.Dia gak akan mau kembali ke kita lagi nak."
Aku terdiam,makanan yang aku makan seolah hanya menyangkut di tenggorokan,walaupun papah memang sibuk dan tak punya banyak waktu untuk keluarga tapi tidak seharusnya mamah mengkhianati papah.
Tiga minggu kemudian,aku sudah selesai mengikuti ujian akhir dan tinggal menunggu pengumuman kelulusan.Aku pergi ke sekolah hanya untuk mengurus berkasku untuk masuk kampus.
"Besok kita kelulusan kan?" Tanya Siska padaku.
"Iya,lo berdo'a aja yang banyak semoga lo lulus dengan nilai bagus" Ucapku.
"Hemm,kalo gue sih udah cukup puas walaupun gue lulus dengan nilai pas-pasan.Gue gak mau kuliah,gue udah cape sekolah,gue pengen cepat bebaaaaaass" Teriak Siska bersemangat.
"Hahaha hidup lo kok kaya gak ada beban ya Sis?" Ujarku sambil tertawa.
Aku iri dengan Siska,dia berkata pada orangtuanya yang sedang di luar negeri bahwa dia tidak berminat untuk ke perguruan tinggi,dan ternyata orangtuanya pun tidak memaksanya untuk berkuliah.Sementara aku,aku terus di dorong oleh papah untuk masuk kuliah jurusan kedokteran di kampus yang sama dengan kak Beni.Padahal aku tidak berminat dalam bidang itu.
Sore hari saat pulang ke rumah,aku melihat banyak barang dan koper di ruang tamu.Aku kira mamah pulang lagi karena dia merindukanku,tapi ternyata aku salah.Hari itu secara mendadak papah memberitahu kalau dia akan pergi menjadi dokter relawan di daerah Kalimantan.Meninggalkan aku dan kak Beni berdua untuk waktu yang cukup lama.
"Pah,setelah mamah pergi sekarang papah mau juga pergi ninggalin aku?Kalian ini sebenarnya kenapa sih?aku salah apa sampai kalian ninggalin aku satu persatu?" Teriakku sengan dengan emosional.
"Kamu gak salah apa-apa sayang,papah juga gak berniat untuk ninggalin kamu.Papah berangkat karena tiba-tiba teman papah batal berangkat Ra.Kamu ngerti kan?"
"Terserah papah,Nara udah gak peduli sama papah" Ucapku sambil pergi menuju kamar.
Aku menangis sejadi-jadinya di kamarku,aku benar-benar merasa sendiri.Orang yang aku sayang satu persatu meninggalkanku.Seseorang lalu mengetuk pintu,ternyata itu papahku.
"Nara,papah berangkat sekarang ya?kamu jaga diri baik-baik.Kalau ada apa-apa kamu bisa minta tolong ke kakak kamu Beni atau ke bi Asih" Ucap ayah.
__ADS_1
Aku hanya terdiam,aku tidak menjawab sepatah katapun.Karena tidak menerima jawaban dariku,papah langsung pergi tanpa berbicara apa-apa lagi.Padahal besok adalah hari kelulusanku tapi aku malah harus sendirian disini.Entah kapan kami bisa bertemu kembali.