Sepasang Bunga Lotus

Sepasang Bunga Lotus
Semuanya Meninggalkanku


__ADS_3

Aku membuka mataku dan melihat langit-langit kamarku.Aku juga melihat tangan kiriku yang terasa tidak nyaman yang ternyata terpasang jarum infus.Terdengar suara tangis anak kecil yang begitu jelas di telingaku.Akupun melihat ke sisi kiri ku dan terlihat 2 malaikat kecil yang memandangiku sambil menangis.


"Bu,syukurlah ibu akhirnya sadar" Ucap suster Nadia.


"Sus,saya kenapa ya?" Tanyaku pada suster.


"Kemarin ibu pingsan di rumah sakit jadi pak Beni membawa ibu pulang,tapi ternyata ibu pingsan lumayan lama.Saya sampe khawatir bu,takut ibu kenapa-kenapa"


"Terus sekarang Beni kemana sus?"


"Pak Beni dan yang lainnya sedang...sedang mengantarkan jenazah pak Budi ke TPU bu" Ucap suster Nadia dengan ragu.


"Hah?Ja..Jadi papah meninggal itu bukan mimpi sus?Suster saya harus menyusul Beni sus,saya belum lihat keadaan terakhir papah Sus."Kataku dengan panik.


"Tapi bu,ibu sedang sakit.Ibu gak boleh ke pemakaman sendirian bu."


"Saya gak peduli,saya mau ketemu papah saya sus...!" Ucapku sambil teriak.


"Nanti saja ya bu,tunggu pak Beni kembali dulu."


"Enggak,saya mau sekarang sus.Suster jaga anak-anak ya?Saya mau ke pemakaman sekarang juga!" Ucapku sambil mencoba melepaskan jarum infus.


"Nara,berhenti Nara! " Teriak Beni yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.


"Beni?Ben,aku mau lihat papah Ben" Ucapku sambil menangis.


"Kamu tenang Nara,papah udah selesai di makamkan,nanti setelah kamu sehat aku antar kamu ke makam papah" Kata Beni sambil memelukku.


"Tapi..Tapi aku mau sekarang Ben,lagian kenapa kamu langsung makamin papah gitu aja?Kenapa gak nunggu aku bangun Ben?Aku jadi gak bisa lihat papah buat yang terakhir kalinya" Teriakku.

__ADS_1


"Maaf Nara,tapi kamu itu udah pingsan dari kemarin,aku juga gak tau kapan kamu akan sadar.Jadi dari pada nunggu yang gak pasti,aku mutusin buat langsung makamin papah sekarang" Jelas Beni.


"Tapi aku mau ketemu papah Ben.."


"Iya,iya kamu tenang dulu.Setelah cairan infus kamu habis,nanti aku antar kamu ke makam papah.Sekarang kamu istirahat lagi,kamu itu kecapean jagain papah,ditambah kamu syok pas tau papah meninggal.Aku gak mau kamu kenapa-kenapa Nara."


"Ya udah kalau gitu,aku istirahat dulu.Kamu jangan kemana-mana ya Ben?Temenin aku disini."


"Iya sayang,aku temenin kamu disini sama anak-anak."


Aku akhirnya kembali tertidur,karena memang sebenarnya akupun merasakan badanku masih sangat lemas untuk bangun.Dalam tidurku aku bermimpi,melihat papah yang tersenyum sambil memegang tanganku dan Beni.


"Kalian gak boleh berpisah lagi,entah kalian sebagai suami istri atau sebagai adik kakak.Yang jelas kalian sama-sama anak papah,anak-anak papah harus bahagia" Ucap papah dalam mimpiku.


Tak terasa air mataku menetes dan akupun seketika terbangun dari tidurku.Aku melihat Beni yang tidur disampingku sambil terus memegang tanganku dan ternyata aku baru sadar hari sudah hampir sore.


"Ben,bangun dong.Aku laper Ben,aku juga pengen ke makam papah sekarang" Ucapku mengusap kepala Beni.


"Iya Ben"


Setelah aku benar-benar sadar,aku mencoba untuk bangun dari tempat tidurku.Mengisi perutku yang sejak kemarin belum terisi apapun.Aku juga langsung bersiap untuk pergi ke makam papah bersama Beni dan juga anak-anak.


****


Dua minggu berlalu sejak meninggalnya papah.Aku masih belum terbiasa dengan tidak adanya papah.Seringkali aku masuk ke kamar papah dengan niat mengajaknya makan,tapi ternyata kamar itu sudah kosong.Aku juga masih sering memanggil-manggil papah untuk bermain bersama cucu-cucunya.Tapi ternyata panggilan itu tidak ada gunanya.


(Malam harinya menjelang tidur)


"Nara,aku mau ngomong sesuatu sama kamu" Ucap Beni.

__ADS_1


"Mau ngomong apa sayang?" Tanyaku penasaran.


"Aku...Aku kayanya harus berangkat lagi ke Singapore."


Deg,jantungku rasanya berhenti untuk sesaat mendengar ucapan Beni.Aku bukannya tidak menyangka dia akan berkata seperti itu,tapi aku tidak tahu ternyata Beni harus kembali dengan secepat ini.


"Kapan kamu mau berangkat?"


"Mungkin besok sore,Ra.Kamu tau sendiri keadaan Putri juga masih belum stabil."


"Iya aku tau,tapi apa harus secepat ini?Papah baru 2 minggu yang lalu ninggalin aku loh Ben.Dan sekarang kamu juga berniat buat ninggalin aku?" Ucapku sedikit marah.


"Aku bukan ninggalin kamu buat selamanya Ra,aku cuma mau memenuhi tanggung jawab aku aja."


"Jadi maksud kamu sekarang aku dan juga anak-anak aku itu bukan tanggung jawab kamu lagi?"


"Bukan gitu maksud aku Ra,kamu tau sendiri kenapa Putri sakit-sakitan kaya gitu.Itu gara-gara dia melahirkan anak aku Ra."


"Itu bukan sepenuhnya salah kamu Ben,kalau Putri gak keras kepala mempertahankan anaknya gak mungkin dia jadi kaya sekarang" Teriakku kesal.


"Nara! Aku gak suka kamu ngomong kaya gitu,walau gimanapun Zio tetap anak aku.Dia juga berhak hidup dan Putri berhak menentukan pilihan buat melahirkan Zio atau enggak" Bentak Beni.


"Yang kamu pedulikan selama ini cuma Putri sama Zio.Apa gak pernah kamu merasa bersalah sama aku dan Azzura?Padahal aku juga sama tersiksanya saat harus mengandung Azzura,bahkan tanpa kamu di sisi aku.Tapi ternyata kamu gak pernah pedulikan masalah itu."


"Maaf Nara,maafin aku.Aku gak pernah bermaksud kaya gitu" Ujar Beni sambil memelukku.


"Udahlah Ben,kalau memang kamu mau pergi walaupun aku larang kamu pasti tetap pergi kan?Aku juga udah janji sama papah gak akan pergi dari kamu lagi,jadi sekarang yang bisa aku lakukan cuma nunggu kamu buat bisa kembali sama aku lagi."


"Makasih ya Ra,makasih kamu mau nunggu aku selama ini." Ujar Beni sambil mencium keningku.

__ADS_1


"Iya,tapi kamu harus janji,kamu bakalan balik ke aku kaya dulu lagi."


"Iya aku janji sayang,setelah semuanya selesai kita pasti sama-sama lagi" Ucap Beni sambil mencium bibirku.


__ADS_2