
Keesokan harinya ternyata aku baru sadar bahwa aku tertidur dalam keadaan duduk disamping papahku.Untung saja ayahku baik-baik saja walaupun belum sadarkan diri.Aku sebenarnya rindu anak-anakku dan aku sangat ingin pulang.Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan papah sendirian.Beberapa saat kemudian dokter masuk ke ruangan dan memeriksa keadaan papah dengan seksama.
"Gimana dok?Apa papah saya ada perkembangan?" Tanyaku pada dokter.
"Mba berdo'a saja ya?Karena sekarang kita hanya tinggal menunggu keajaiban dari Tuhan" Ucap dokter.
Aku hanya terdiam,aku tahu maksud dokter berkata seperti itu.Berarti memang sudah tidak ada harapan untuk papah sembuh.Sekarang yang harus aku lakukan adalah berdo'a dan bersiap untuk segala kemungkinan terburuknya.
Saat dokter keluar,aku kembali menangis di samping papahku.Walaupun tidak mau,tapi air mata ini terus saja mengalir membasahi pipiku.Disaat itulah seseorang masuk ke ruangan dan memelukku sambil menenangkanku.
"Sayang,kamu jangan nangis lagi.Kamu harus sabar ya?" Ucap Beni.
Ternyata Beni sudah pulang dari Singapore,dia masih membawa tasnya dan langsung menuju rumah sakit saat baru tiba di bandara.
"Beni?" Tanyaku sambil melihat ke belakang dan memeluk Beni erat-erat.
"Maaf ya Ra,aku gak ada saat kamu kesulitan."
"Ben,kamu jangan tinggalin aku lagi.Aku butuh kamu disini,Ben."
"Iya aku gak akan tinggalin kamu Nara" Ucap Beni sambil mencium keningku.
Kamipun bercengkrama berdua di samping papah yang masih belum membuka matanya.Banyak hal yang diceritakan oleh Beni termasuk perkembangan kesehatan Putri.Dari mendengar ceritanya aku bisa menebak bahwa nantinya pasti Beni harus pergi ke Singapore lagi.Karena bagaimanapun Putri sangat bisa memanfaatkan situasi sakitnya untuk memonopoli Beni sendirian.
"Kamu mending pulang dulu Ra,kamu juga pasti kangen sama anak-anak" Ucap Beni.
"Iya Ben,aku emang kangen banget sama anak-anak."
"Ya udah sekarang kamu pulang,lihat keadaan anak-anak sambil kamu tidur dulu sebentar.Papah disini biar aku yang jaga."
"Emm kalau gitu aku pulang dulu ya Ben" Ucapku sambil mencium bibirnya lalu saling berpamitan.
__ADS_1
Sesampainya di rumah,aku melihat Azzura dan Zio yang sedang bermain bersama suster.Aku langsung memeluk dan mencium mereka.
"Mamah pulang sayang,kalian baik-baik aja kan?Makasih ya sus udah bantu jagain mereka" Ucapku pada suster Nadia.
"Sama-sama bu,itu memang udah jadi kewajiban saya."
Karena rasa kantuk mulai menyerang,setelah aku meluangkan waktu untuk anak-anak akupun akhirnya tertidur pulas.Belum lama aku tertidur,tiba-tiba handphone ku berdering.Ternyata itu adalah panggilan masuk dari Beni.
"Iya halo sayang,ada apa?" Tanyaku pada Beni.
"Na...Nara,maaf aku udah ganggu tidur kamu.Tapi..." Ucap Beni ragu.
"Tapi apa Ben?"
"Tapi kondisi papah terus menurun,Ra.Aku takut papah kenapa-kenapa.Jadi kalau bisa kamu kesini,dampingi papah kamu Ra."
"Hah kondisi papah menurun lagi?Ya udah aku ke rumah sakit lagi sekarang.Kamu pantau terus kondisi papah ya?" Ujarku dengan nada khawatir.
Tanpa pikir panjang aku langsung bersiap untuk kembali ke rumah sakit.Walaupun aku masih setengah mengantuk,tapi sebisa mungkin aku tahan.Sepanjang perjalanan pikiranku kalut,aku khawatir kalau aku terlambat melihat papah.
"Ben,gimana keadaan papah Ben?" Tanyaku dengan panik.
"Gak ada perubahan Ra,kondisinya terus menurun" Jawab Beni.
"Pah,papah harus kuat ya?Papah harus bangun,disini ada Nara sama Beni yang jagain papah" Ujarku sambil terus menggenggam tangan papahku.
Beni mengelus punggungku dengan lembut,berharap bisa menenangkan hatiku.Tapi aku yang masih ketakutan,terus memandangi papah sambil menangis.Beberapa saat kemudian,tiba-tiba tangan papah mulai bergerak.Aku yang terkejut langsung saling pandang dengan Beni.
"Pah,papah udah sadar pah?" Tanyaku dengan penuh antusias.
"Na..Nara,Be..Beni,kalian berdua disini." Ucap papah dengan lemah.
__ADS_1
"Iya pah,kami disini jagain papah." Kata Beni.
"Papah senang kalian ada disini,papah harap hubungan kalian terus berlanjut.Sekarang kalian sudah dewasa,kalian sudah memberi papah cucu.Kebahagiaan papah udah sempurna" Ujar papah pelan.
"Iya pah,makanya papah harus cepat sehat.Supaya papah bisa lihat cucu-cucu papah lagi."
"Kayanya udah cukup papah lihat mereka.Sekarang papah udah bahagia,papah juga udah tenang.Beni papah mohon jangan sakiti Nara,jangan sampai kalian berpisah lagi ya?"
"Iya pah Beni janji,Beni gak akan ninggalin Nara,kita gak akan berpisah lagi" Ucap Beni.
Papah hanya tersenyum,dia lalu meraih lengan Beni dan menyatukannya dengan tanganku lalu papahpun memejamkan matanya.Aku tahu apa yang di maksud oleh papah,papah pasti sangat berharap melihat aku dan Beni terus bersama-sama.
"Pah,papah tenang aja aku gak akan pergi lagi dari Beni,Beni juga gak akan bisa ninggalin aku" Ucapku sambil tersenyum.
Tapi ternyata tidak ada respon lagi dari papah,aku pikir papah mungkin tertidur.Tapi tangannya terlalu dingin untuk orang yang tertidur lelap dalam selimut.
"Ben,papah cuma tidur kan Ben?" Tanyaku sambil menatap Beni.
Beni lantas melepaskan tangannya yang masih menyatu dengan tanganku di atas dada papah.Lalu dia memeriksa nadi dan pernapasan papah,sesaat Beni termenung.Wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
"Nara,kamu disini dulu ya?Aku mau panggil dokter dulu" Ucap Beni.
"Ta..Tapi papah gak kenapa-kenapa kan Ben?Papah cuma tidur kan?" Tanyaku dengan terbata-bata.
"Kamu duduk dulu yang tenang,aku keluar dulu" Ucap Beni sambil mengecup keningku.
Firasatku sudah tidak enak,jantungku juga berdegup kencang.Aku terus memegangi tangan papah sambil memanggil-manggil menyuruhnya untuk bangun.Beberapa saat kemudian,dokter masuk ke ruangan dan langsung memeriksa keadaan papah.
"Setelah dilakukan pemeriksaan,ternyata pak Budi sudah meninggal dunia mas,mba" Ucap dokter padaku dan juga Beni.
"Gak dok gak mungkin,dokter mungkin salah dok.Coba periksa sekali lagi dok! " Ucapku dengan panik.
__ADS_1
"Udah Ra,kamu tenang dulu.Papah emang udah gak ada Ra" Kata Beni menegaskan.
Seketika lututku lemas dan air mataku mengalir deras.Separuh jiwaku seperti hilang entah kemana.Aku hanya bisa terduduk di lantai ketika dokter mencopot semua alat medis di tubuh papah.Beni lalu berusaha mengangkatku agar kembali berdiri.Tapi aku malah kehilangan kesadaranku saat itu juga,dan yang aku sadari hanya kenyataan bahwa aku sudah kehilangan papah untuk selama-lamanya.