
Sudah satu minggu semenjak aku pergi ke rumah Siska dan merencanakan untuk mengugurkan kandunganku.Aku masih harus sabar menunggu 1 minggu lagi untuk bisa diantar oleh Siska ke klinik.Dan hari ini aku pergi ke kampus karena sudah lama aku terus menerus izin tidak masuk.Karena masalahku kemarin,aku sampai lupa pada Deon pacarku.Deon pasti sangat marah karena aku tidak menghubungi dia sama sekali.Handphoneku pun jarang aku aktifkan saat aku di rumah.
"Nara,akhirnya lo masuk kampus juga.Lo kemana aja Ra?" Tanya Xana
"Iya nih,kemarin gue sakit Na.Jadi gue baru bisa ke kampus sekarang."
"Lo sakit apa sampe gak ke kampus selama seminggu?"
"Emmm gue,gue cuma demam aja sih.Tapi lo tau sendiri bokap gue dokter,jadi dia ribet banget nyuruh gue cek ini itu."
"Oh pantesan aja.Eh iya Deon jadi marah-marah terus tuh gara-gara lo gak ada kabar."
"Sekarang dia dimana?"
"Coba lo cari di tempat dia nongkrong disana" Tunjuk Xana ke sebuah koridor.
"Ya udah gue cari Deon dulu ya?"
Akupun mencari Deon di tempat biasa dia nongkrong bersama teman-temannya.Ternyata benar Deon ada disana,dia sedang duduk sambil terus memandangi ponselnya padahal temannya yang lain sibuk bercerita.
"Hai Deon,gimana kabar kamu?" Sapa ku.
"Nara?Nara kamu kemana aja sih?Udah seminggu ini kamu susah aku hubungi" Ucap Deon.
"Maaf ya aku gak aktifin ponsel aku,seminggu kemarin aku sakit.Jadi aku cuma tidur seharian" Kataku dengan wajah memelas.
"Harusnya kamu ngomong ke aku kalau kamu sakit,nanti aku pasti ke rumah buat nengokin kamu."
"Iya maaf aku udah bikin kamu khawatir."
__ADS_1
Akhirnya Deon memaafkan aku yang sempat menghilang.Dia terlihat sangat khawatir padaku,aku jadi merasa bersalah karena sudah membohongi Deon.
Sepulang dari kampus,Deon mengantarku sampai ke rumah.Dia juga mampir ke rumahku dengan alasan ingin menjagaku yang hanya sendirian di rumah.Papah dan Beni memang kebetulan sedang tidak ada di rumah,bi Asih juga sedang izin pulang kampung,jadi aku tidak keberatan kalau Deon menemaniku sampai mereka pulang.
"Nara,kamu janji ya jangan pernah tiba-tiba gak ada kabar lagi kaya kemarin.Aku benar-benar khawatir sama kamu,Ra" Ucap Deon.
"Iya sayang,aku janji aku gak akan kaya gitu lagi."
Deon lalu tersenyum dan mendekat ke arah ku,dia lalu mencium bibirku dengan lembut.Aku hanya diam memandangi senyumnya yang manis lalu aku peluk dia erat-erat.Aku tahu aku menyayangi Deon walaupun tidak sebesar rasa sayangku pada Beni.Deon mendorongku dengan pelan hingga aku terlentang di sofa yang sedang kami duduki.Dia mencium seluruh wajah dan dadaku.Tangannya yang nakal masuk ke dalam pakaianku dan bermain disana.Aku menggelinjang kegelian,tapi Deon tampak senang melihatku begitu.
Saat suasana kami berdua mulai memanas,tiba-tiba terdengar bunyi pintu rumah yang dibuka dari luar.Aku dan Deon terkejut lalu buru-buru merapikan pakaian dan rambut kami.Ternyata Beni sudah pulang,kalau dipikir-pikir dia selalu saja mengganggu waktu berduaku bersama Deon.
"Nara ternyata kamu udah pulang?" Tanya Beni basa basi.
"Iya kak,aku udah pulang dari tadi" Jawabku.
"Terus dari tadi kalian ngapain aja?" Tanya Beni dengan wajah datar.
"Oh gitu,ya udah Deon ini udah sore mending kamu pulang.Nara baru sembuh jadi dia butuh istirahat" Ujar Beni dengan wajah sinis.
"Oh iya kak,ya udah kalau gitu aku pamit ya Ra.Besok kita ketemu lagi kampus" Ucap Deon dengan wajah kikuk
"Iya sayang sampai ketemu besok di kampus" Kataku sambil melambaikan tangan.
Deon akhirnya pulang setelah secara terang-terangan diusir oleh Beni.Aku tidak habis pikir mengapa Beni bisa bersikap tidak sopan seperti itu.Seletah Deon pergi Beni hanya diam dan masuk kamar tanpa berbicara apa-apa padaku lagi.
Malam harinya sebelum tidur aku berendam di bath up menggunakan air hangat.Setelah dilihat ternyata di dadaku ada bekas kecupan dari Deon,aku jadi teringat Deon.Dia pasti kesal karena terus menerus gagal menyantap 'hidangan utama' bersamaku.Tapi mau bagaimana lagi?Selama Beni masih ada di rumah ini,dia pasti akan terus mengganggu kami.Kami juga tidak mungkin tiba-tiba pergi ke hotel untuk melalukan hal itu.
Saat sedang asyik berendam,tiba-tiba pintu kamar mandiku terbuka.Dan masuklah Beni yang berjalan dengan sempoyongan,Beni terlihat mabuk berat.Dia lalu duduk di samping bath up ku seraya memandangiku lekat-lekat.
__ADS_1
"Kamu cantik Nara,kamu selalu cantik dimata aku" Ucap Beni meracau.
"Ben,kamu mabuk berat.Mendingan kamu cepat balik ke kamar kamu" Kataku.
"Enggak,aku mau tidur disini sama kamu"
Melihat Beni yang seperti itu,aku jadi malas meladeni dia berbicara.Mau tidak mau aku harus menyudahi waktu berendamku dan mengantar Beni kembali ke kamarnya.Aku lalu keluar dari bath up ku,Beni hanya memandangi aku yang tidak memakai sehelai pakaianpun.Suasana ini rasanya seperti de javu bagiku,akupun langsung bergerak untuk mengambil handukku.
Baru berapa langkah tiba-tiba Beni menarik tanganku,dia memelukku dari belakang padahal tubuhku masih basah.Dia lalu menangis tersedu-sedu di belakangku.
"Nara,aku gak bisa kaya gini.Aku gak bisa kalau kita benar-benar harus jadi adik kakak seperi ini.Aku bisa gila Nara,aku gak mau wanita lain selain kamu.Aku juga gak bisa lihat kamu sama laki-laki lain.Dada aku sesak lihat kamu sama Deon bermesraan tadi siang,rasanya sakit sekali.Apa aku punya penyakit kronis,Ra?" Ucap Beni kembali meracau.
"Kamu gak sakit kronis Beni,itu namanya kamu cemburu" Jawabku dengan tenang.
"Aku gak mau cemburu,cemburu itu sakit Ra"
Aku terdiam mendengar Beni berbicara seperti itu.Sebenarnya hati ku juga sakit melihat Beni yang terpuruk seperti ini.Beni juga terdiam,dia melonggarkan pelukannya lalu meraba-meraba bagian perutku.
"Nara,apa kamu terlalu bahagia sama Deon?"
"Emang kenapa Ben?" Tanyaku heran.
"Perut kamu buncit,aku pikir kamu jadi gemuk karena terlalu bahagia dengan Deon."
Aku tanpa sadar tertawa mendengar ocehan Beni,ternyata Beni benar-benar lucu dan cerewet saat dia mabuk.Dulu saat SMA Beni juga pernah mabuk dan meracau seperti ini,tapi besoknya Beni langsung lupa apa yang terjadi saat dia mabuk.
"Beni,aku harap kamu lupa kejadian ini.Tapi aku mau kasih tau kamu sesuatu.Perutku membesar karena ada bayi di dalamnya,bayi itu anak kita Ben" Ucapku.
"Bayi?Akhirnya kita punya anak Nara.Aku akan jadi ayah yang baik buat dia" Oceh Beni.
__ADS_1
Sesaat air mataku menetes mendengar Beni akan jadi ayah yang baik untuk bayi dalam kandunganku.Padahal aku sendiri tidak pernah mengharapkan bayi ini.Karena aku lelah mendengar ocehan Beni,aku langsung mengenakan handukku lalu memapah Beni kembali ke kamarnya.