Sepasang Bunga Lotus

Sepasang Bunga Lotus
Perasaan Deon


__ADS_3

Lampu yang berwarna-warni menghiasi area kolam renang.Minuman bersoda dan minuman beralkohol juga di sediakan.Belum lagi suara musik kencang yang cukup untuk memecahkan suasana.


"Nih Ra,loba cobain deh minuman ini" Ucap Deon sambil menyodorkan segelas minuman.


"Tapi gue gampang mabuk,Deon" Ujarku.


"Udah tenang aja,ini alkoholnya gak banyak kok.Lagian kalau lo mabuk juga pasti gue jagain" Ucap Deon meyakinkan.


Akupun meminum segelas minuman yang di bawakan oleh Deon.Memang benar ternyata alkoholnya tidak sebanyak seperti dulu aku mabuk bersama Siska.Deon juga ikut minum tapi sepertinya dia meminum minuman beralkohol yang cukup tinggi.


Aku masuk ke kolam renang,menikmati hentakan musik bersama semua teman.Deon lalu mendekatiku saat di dalam kolam,dia sepertinya sudah mulai mabuk.Dia hanya memandangi tubuhku yang sebagian tidak masuk ke dalam air,dan Deon tiba-tiba memelukku.Aku terkejut,aku menghempaskan badannya dengan sekuat tenaga.


"Deon,ngapain tiba-tiba lo meluk gue?lo mending minum air putih dulu deh.Hilangin dulu efek alkoholnya,baru lo masuk ke kolam"


"Maaf Ra,gue gak bisa kontrol diri gue.Kalau gitu mau gak lo temenin gue buat redain mabuknya?" Pintu Deon dengan wajah merah.


"Ya udah sini gue bantu lo ke atas,nanti gue sekalian ambil air putih buat lo."


Aku pun mencoba menarik Deon dari kolam dan kami berjalan ke tempat yang lebih sepi supaya Deon bisa menghilangkan mabuknya.


"Makasih ya Nara,lo udah perhatian banget sama gue" Ujar Deon yang mulai sadar setelah banyak minum air putih.


"Sama-sama,mending lo jangan minum alkohol lagi deh.Nanti kalau lo tanpa sadar masuk kolam lagi bisa bahaya,Deon."


"Nara,mumpung kita cuma berdua disini,gue mau ngomong sesuatu sama lo" Ucap Deon.


"Lo mau ngomong apa?Tinggal ngomong aja."


Saat Deon masih berpikir untuk memulai pembicaraan seriusnya,aku sekilas seperti melihat Beni bersembunyi di belakang tembok.

__ADS_1


Aku penasaran dia benar-benar Beni atau bukan?Kalau dia benar Beni,mau apa dia kemari?Dan tahu dari mana dia kalau aku menginap di villa ini.


"Gue suka sama lo,Nara.Dari awal gue ketemu sama lo,gue langsung suka sama lo.Lo mau gak jadi pacar gue?" Jelas Deon dengan wajah gugup dan berharap.


Mendengar pengakuan cinta dari Deon,orang yang sedari tadi bersembunyi di balik tembok mencoba untuk keluar dan mendatangi kami.Dengan sedikit melirik,aku yakinkan diriku kalau itu adalah Beni.Tanpa pikir panjang aku mencium bibir Deon.Aku ingin melihat reaksi Beni seperti apa saat melihat aku mencium pria lain.Ternyata Beni menghentikan langkahnya dan langsung pergi.


Deon terlihat kaget setelah mendapat serangan tiba-tiba,dia tersenyum lebar seolah mengartikan kalau ciumanku adalah tanda aku mau menjadi pacarnya.


"Ciuman tadi itu buat kasih tanda kalau gue akan pertimbangkan masalah perasaan lo ke gue,tapi gue masih perlu waktu buat kasih jawaban mau jadi pacar lo atau engga.Lo ngerti kan?" Jelasku panjang lebar.


"Iya gue ngerti Ra,gue tunggu jawaban yang terbaik dari lo" Jawab Deon dengan wajah berseri


Pesta akhirnya selesai,Xana ternyata mabuk berat.Jadi sekali lagi aku harus menyeret orang yang mabuk seperti ini dan memindahkannya ke kamarku.Dengan di bantu Deon aku memindahkan Xana ke kamar kami.


"Makasih ya,lo udah bantuin gue bawa Xana ke kamar" Ujarku pada Deon.


"Iya Nara,sama-sama.Lo mending cepat mandi,Xana juga pasti nyusul kalau udah sadar.


Dengan wajah yang malu-malu,Deon langsung meraih pengait di belakang bikini ku.Tapi tanpa ragu tangannya mulai mengarah ke bagian dadaku,dia memutar tubuhku untuk saling berhadapan dengannya dan mencium bibirku.Aku yang sedikit terbawa suasana membalas ciumannya.


Deon yang sudah tidak sabar mendorongku ke kasur dimana Xana sedang tertidur.Dia mulai mendekat dan mencium leherku.Sekejap aku tiba-tiba teringat pada Beni.Terlintas wajah Beni yang cemberut karena cemburu melihatku dengan pria lain.Dan akhirnya aku mencoba menghentikan Deon untuk untuk tidak melakukan hal itu lebih jauh lagi.


"Deon,berhenti Deon.Gue gak bisa,sekarang lo mending keluar soalnya gue mau mandi" Ucapku dengan tegas.


"Tapi Ra,dari tadi kan lo gak nolak gue kok tiba-tiba lo minta berhenti sih?"


"Gue cape Deon,gue pengen cepat tidur.Udah lo sekarang balik ke kamar lo aja" Kataku.


Lalu Deon keluar dari kamarku dengan wajah yang kesal.Aku tahu dia pasti sangat kesal padaku karena aku menghentikan keinginannya untuk menyentuhku lebih jauh lagi.

__ADS_1


Keesokan harinya setelah membereskan barang bawaan kami,kami semua kembali ke Jakarta.Aku pulang diantar Deon lagi,tapi gara-gara masalah semalam aku jadi canggung saat bertemu Deon.


"Kamu gak usah canggung gitu Ra,buat masalah semalam aku minta maaf.Aku terlalu terburu-buru" Ujar Deon saat di perjalanan.


"Gak kok gak apa-apa.Aku juga minta maaf,aku belum siap buat sampai kesana" Ucapku.


"Ya udah gak usah di pikirin,yang harus kamu pikirin itu gimana jawaban kamu buat perasaan aku.Aku serius suka sama kamu Nara."


"Aku ngerti Deon,kasih aku waktu beberapa hari lagi ya?" Pintaku pada Deon.


"Iya Nara,aku pasti tunggu jawaban kamu sampai kapanpun" Ucap Deon sambil memegang tanganku.


Mendengar Deon memanggilku dengan sebutan aku kamu dan bukan lo gue lagi,aku jadi makin sadar kalau Deon benar-benar serius dengan perasaannya dan tidak mau sekedar dianggap teman olehku.


Sesampainya di Jakarta,aku sangat kelelahan.Ternyata pesta semalam cukup menguras tenaga,pantas saja Xana terlihat sangat lemas saat bangun tidur tadi.Deon langsung pulang setelah mengantarku,dia bilang di masih ada urusan.Tapi sebenarnya aku juga tidak berniat mengajaknya masuk karena takut dia bertemu Beni.


"Kamu baru pulang Ra?" Tanya Beni setelah aku membuka pintu kamarku.


"Iya Ben,ya udah aku masuk dulu.Aku mau istirahat" Jawabku dengan maksud mengusir.


"Tunggu,aku mau ngomong sesuatu sama kamu"


"Kamu mau ngomong apa lagi?Masalah perjodohan kamu sama Putri?Kamukan udah terima perjodohan itu terus apa hubungannya sama aku?" Kataku Kesal.


"Aku gak bermaksud menerima perjodohan itu Nara,dengar dulu penjelasan aku" Pinta Beni.


Tanpa menghiraukan Beni aku masuk ke kamarku,badanku sudah lelah dan aku tidak mau hatiku juga ikut lelah mendengar penjelasan Beni tentang perjodohannya.


"Nara buka pintunya Nara,aku mau ngomong sama kamu" Timpal Beni seraya mengetuk pintu kamarku.

__ADS_1


Setelah terus menerus mengetuk pintu kamarku,Beni akhirnya menyerah dan kembali ke kamarnya.Aku yang mengantuk juga akhirnya bisa tidur dengan tenang.


__ADS_2