Serpihan Luka Azkia

Serpihan Luka Azkia
Taman Sore Hari


__ADS_3

Nicolas menatap Azkia dengan dalam. Rindu yang selama ini ia pendam tidak pernah hilang. Selama tiga belas tahun ia kehilangan Azkia dan kini ia menemukannya kembali. Tanpa sadar, Nicolas menarik Azkia ke dalam pelukannya. Azkia sempat berontak dan melepaskan diri.


"Sebentar saja." ucap Nicolas.


"Aku hanya ingin memastikan kalau hatiky tidak lagi berdebar ketika berada didekatmu."


Azkia gemetar. Entah mengapa setiap kali bersentuhan dengan pria secara tidak sengaja, ia merasa bulu kuduknya berdiri. Tapi tidak ketika ia berada di dekat Nicolas.


Hatinya berdersir hangat ketika Nicolas mengucapkan kata - kata itu. Kata - kata yang mungkin membuat siapapun pasti akan tersentuh.


Nicolas melepas pelukannya dan memberikan payung itu pada Azkia.


"Pulanglah. Jangan pikirkan aku."


Memandang Azkia kali ini membuat hati Nicolas terobati dengan rasa rindunya. Rindu yang ia tahan sejak lama. Rindu yang tidak bisa ia ungkapkan. Percikan air huja tidak pernah membuat kecantikan Azkia luntur.


Nicolas sampai di kos - kosan yang terbilang sederhana. Cukup untuk memuat beberapa perabotan rumah tangga yang diperlukan dan tempat tidur.


Nicolas hidup dengan sederhana. Berbeda dengan Azkia yang mungkin serba berkecukupan.


Dulu, Nicolas terkenal dengan wajahnya yang cukup tampan tapi semakin lama ia menyadari bahwa wajah tampan saja tidak cukup membuatnya bertahan hidup. Sembari melupakan Azkia, ia bekerja kesana kemari untuk menyambung hidup. Tapi ternyata Azkia tidak pernah sedikitpun sirna dari hatinya. Sampai detik ini.


Mungkin ini adalah alasan kenapa tiga belas tahun lalu, Nicolas tidak berani menjawab pertanyaan Azkia ketika Azkia berbicara tentang tanggung jawab. Ia masih belum bisa memenuhi standar untuk hidup yang cukup.


****


Azkia kembali membawakan kotak makanan untuk Kevin. Setelah menaruh tas dan dokumen di atas meja, ia langsung ke ruangan Kevin untuk memberikan kotak makanannya.


"Pagi, Pak." ucap Azkia memasuki ruangan Kevin.


"Pagi." sahut Kevin yang masih bersiap untuk bekerja.


"Ini kotak makanannya, Pak."


"Ya. Taruh saja."


Azkia merasa sungkan pada Kevin hari ini. Tidak seperti biasanya. Hari ini Kevin terlihat dingin sekali. Setelah Azkia pamit permisi dan keluar ruangan, Kevin mengintip sedikit apa menu untuk hari ini.


Kevin sedikit bersyukur karena menunya adalah spageti bolognaise. Ia tersenyum dan melahap sarapan paginya yang sudah menggoda selera.


Diluar ruangan Kevin, Mia membuat teh di pantry disusul oleh Azkia.


"Kenapa, Ki? Kok wajah kamu gelisah?"


"Kira - kira, aku punya salah apa ya sama bos? Kok kayaknya bos beda banget hari ini." keluh Azkia.


"Ya namanya bos, Ki. Kita kan nggak bisa nebak moodnya dia gimana. Jangan terlalu dipikirin. Mungkin lagi bete aja kali doi sama kerjaan." jawab Mia.


"Iya ya. Aku aja ya yang terlalu baper?"

__ADS_1


"Itu tau, baper, bahasa anak zaman sekarang. Yuk kerja."


Azkia mulai bekerja kembali tanpa memikirkan Kevin yang terlihat dingin pagi ini.


****


Sepulang kerja, Azkia melihat - lihat di pintu lobby. Biasanya Nicolas suka menunggu Azkia dan menyapanya walau hanya sekedar tersenyum atau berkata ingin melihat wajahnya.


Tapi hari ini tidak ada Nicolas yang menunggunya. Kevin yang melihat Azkia mondar - mandir di lobby, merasa lucu dengan tingkahnya. Kevin tersenyum dan menghampiri Azkia.


"Belum pulang, Azkia?"


"Saya mau pulang kok, Pak." jawab Azkia tersenyum melihat bos nya kembali menyapanya.


"Temani saya beli sesuatu ya. Saya tidak tahu daerah sini kalau mau jalan - jalan. Kamu ada waktu kan?"


Azkia terlihat ragu karena Nicolas yang ia pikir ada di pintu lobby, ternyata tidak ada.


"Iya, Pak. Boleh. Bapak mau beli apa?" tanya Azkia yang mengiringi langkah Kevin.


Di mobil, Kevin mulai dengan tenang menyetir. Kemacetab Jakarta memang terkadang membuatnya sulit.


"Kamu punya teman di gedung kantor itu?" tanya Kevin.


"Teman, maksud Bapak?"


"Iya, kamu punya teman dari kantor lain di gedung itu?" tanya Kevin memperjelas pertanyaannya.


"Kemarin saya mau ajak kamu pulang bareng tapi kamu udah pergi bawa payung."


"Oh gitu, Pak. Iya kemarin saya dikasih payung."


"Teman masa lalu kamu maksud kamu pacar kamu?"


Wajah Azkia memerah. Bagaimana bisa Kevin menanyakan hal ini pada dirinya?


"Saya cuma tanya kok. Kalau nggak mau jawab nggak apa - apa." ujar Kevin cepat.


Azkia tersenyum mendengar ucapan Kevin yang terdengar merasa bersalah itu.


"Dia adalah masa lalu saya. Pada saat saya masih sekolah. Kami sudah lama tidak bertemu dan kami bertemu lagi disini."


Kevin mendengarkan dengan baik apa yang Azkia ucapkan.


"Maka dari itu, saya lebih suka naik lift barang daripada lift penumpang. Saya ingin menghindari dia."


Azkia menatap jauh ke depan dan menahan air mata ketika mengingat masa lalunya.


"Pasti menyakitkan." ucap Kevin.

__ADS_1


"Saya hanya ingin melupakannya saja, Pak. Tapi entah kenapa saya seperti terikat dengan masa lalu saya."


Kevin memutar arahnya. Ia tidaj jadi membeli sesuatu yang ia katakan tadi. Kevin tadi melihat sebuah taman yang indah dengan bunga di sepanjang jalan. Ia ingin mendengar lebih banyak lagi kidah Azkia.


"Kenapa kita jadi kesini?" tanya Azkia begitu turun dari mobil.


"Saya pikir saya butuh udara segar. Jadi saya kesini."


Azkia tidak mengatakan apa - apa lagi dan berjalan pelan menelusuri jalan yang ada di taman.


"Bunga disini cantik. Saya tidak tahu akan menemukan sebuah taman di tengah kota." kata Kevin.


"Saya juga jarang jalan - jalan. Tidak pernah kesana kesini untuk bermain."


Kevin menghentikan langkahnya dan menatap Azkia.


"Pasti lelah ya, bekerja setiap hari."


Azkia tersenyum.


"Saya bekerja untuk keluarga saya. Tentu saja saya harus berusaha dua kali lipat dibandingkan orang lain." jawab Azkia kembali berjalan menyusuri taman. Tapi, Kevin meraih tangannya membuat langkah Azkia terhenti.


Azkia membalikkan badannya dan menatap Kevin.


"Pak.."


"Bisakah kita bicara lebih santai?"


Azkia bingung dengan sikap Kevin yang aneh seperti ini.


"Azkia..."


Tatapan Kevin cukup tajam untuk orang - orang yang ingin menikmati sore hari hingga matahari tenggelam.


"Bolehkah saya menjadi obat untuk luka hatimu?" tanya Kevin.


Azkia sedikit melebarkan bola matanya tapi ia tidak sanggup berkata - kata.


Seketika hatinya berdesir hangat. Bolehkah ia melakukan ini? Bolehkah ia jatuh cinta lagi?


"Pak.."


Sanggupkah aku memulai kembali merangkai hati yang telah hancur berkeping - keping? Bisakah aku tidak mengecewakannya nanti?


"Saya takut suatu hari nanti Bapak kecewa sama saya..." ucap Azkia.


"Kamu bisa memulainya perlahan. Jangan dipaksakan."


Kevin menggenggam tangan Azkia semakin erat berharap tidak ada jawaban penolakan dari Azkia. Azkia mengangguk sebagai tanda jawaban untuk Kevin.

__ADS_1


Kevin memeluk Azkia yang sudah terasa gemetar. Kevin menciumi rambut Azkia yang wangi dan memeluk dengan erat.


__ADS_2