
Hari ini Azkia akan kembali ke Jakarta. Sampai saat ini Kean masih belum bisa menentukan dia akan ikut bersamanya atau tidak. Sekali lagi Azkia berkata dalam hatinya jika ia tidak mau memaksa Kean. Biarkanlah menjadi keputusan Kean. Kalaupun mau ke Jakarta, biarkan karena keinginan Kean sendiri.
Ardila sudah mengepak barang - barangnya. Ia melihat Azkia yang duduk terdiam di ranjangnya.
"Ki." panggil Ardila menghampiri Azkia.
Azkia tidak menyahut. Ia terdiam seolah memikirkan sesuatu. Karena Azkia tidak menyahut, Ardila duduk dan menyentuh bahu Azkia.
"Ki. Kamu nggak apa - apa?" tanya Ardila.
Azkia kemudia tersadar Ardila memanggilnya.
"Iya, nggak apa - apa, kok, Di."
"Kean anaknya baik ya, Ki. Sopan juga. Mungkin karena tinggal di desa jadi tahu tata krama. Coba kalau di Jakarta. Tahu sendiri anak - anak di Jakarta Lifestylenya tinggi."
Azkia mengangguk dengan lemah.
"Gimana? Kean mau ikut kamu ke Jakarta?" tanya Ardila.
"Aku masih belum tahu, Di. Biarkan aja. Kalau dia mau ke Jakarta ya ayo, kalau dia sudah betah disini ya nggak apa - apa. Aku nggak bisa maksa. Semua keputusan ada di tangan Kean."
Ardila menghela napas mendengar jawaban Azkia. Ardila melewatkan Azkia selama ini, tidak menyadari bahwa Azkia memiliki hati yang sangat baik.
"Iya. Jangan dipaksa. Kean sudah beranjak remaja. Biarkan dia pilih jalannya sendiri."
Azkia mengangguk dan tersenyum pada Ardila. Ardilapun ikut tersenyum.
Kevin sudah mengeluarkan kopernya dan diletakkan di ruang tamu. Ia menunggu Azkia dan Ardila keluar dari kamarnya.
"Sudah siap semua, Nak?" tanya Bulik Sri melihat Kevib yang sudah rapi.
"Iya, Bulik. Sudah." jawab Kevin dengan ramah. Beberapa hari di Kediri telah memberikannya kesan yang sangat berarti. Terutama mengobrol dengan Kean.
"Bulik minta maaf ya, Nak. Kalau makanan disini nggak sesuai sama selera kamu." kata Bulik Sri sambil duduk di sofa.
"Nggak apa - apa, Bulik. Saya juga minta maaf kalau merepotkan selama berada disini." kata Kevin merendah diri.
"Nggak, Nak. Cuma ya begini keluarga kami. Sederhana, Nak. Bulik juga merasa kasihan sama Kean kalau tinggal disini terus. Takut - takut bosan ataupun merasa minder karena rumahnya jelek begini." sahut Bulik Sri.
"Iya, Bulik. Semua kembali lagi pada Kean. Terserah Kean saja mau tinggal dimana." kata Kevin tersenyum tanpa berusaha ikut campur urusan keluarga Azkia.
Pintu kamar Azkia terbuka. Azkia dan Ardila mengeluarkan koper masing - masing dan meletakkannya di dekat koper Kevin.
"Sudah siap? Nanti minta tolong tetangga untuk diantar ke jalan besar." kata Bulik melihat Azkia yang sudah bersiap untuk pulang ke Jakarta.
"Keaaan.. Keaann.. Sini, Le.." panggil Bulik Sri dari ruang tengah. Kean masih di dalam kamar, belum siap untuk keluar menyalami Azkia yang akan segera pulang.
Dengan hati yang berdegup, Kean membuka pintu kamarnya dan mulai berpamitan dengan Azkia, Kevin dan juga Ardila. Kean menyalami Ardila dan Kevin seperti biasa. Tapi ketika Kean menyalami Azkia, air matanya tidak tertahankan.
"Budhe.."
Azkia yang mendengar suara Kean sedikit bergetar, pertahanan hatinya yang semula kuat, menjadi runtuh.
"Iya, Le.." Azkia pun menahan tangisnya.
"Budhe, maaf, Kean masih belum bisa ke Jakarta, Budhe. Kean baru aja sekolah dan jadi ketua OSIS di sekolah. Kalau tiba - tiba Kean pindah, Kean akan mengecewakan teman - teman Kean. Kean minta maaf Budhe, Kean belum bisa ke Jakarta ikut Budhe." kata Kean jujur dan sesekali mengusap pipinya dari airmatanya yang terjatuh.
__ADS_1
Hati Azkia sedih sekali melihat airmata Kean. Baru kali ini Azkia melihat anaknya menangis.
"Nggak apa - apa, Le. Budhe sudah bilang, jangan dipaksa. Semua kembali lagi sama Kean. Tapi kalau Budhe main kesini, kita jalan - jalan, ya, Le.." jawab Azkia, akhirnya air matanya tumpah juga. Ardila terenyuh melihat Azkia yang berpisah dengan Kean. Hati terasa pilu melihat ibu dan anak harus berpisah seperti ini.
"Sudah, sudah. Le. Panggil Ibu lho, jangan Budhe." kata Bulik Sri yang juga terhanyut dalam kesedihan.
"Kean mau jagain Bapak dulu disini. Kasihan sakit - sakitan."
"Iya nggak apa - apa, Le. Jagain Mbahmu disini ya." jawab Azkia tersenyum dan mengelus rambut Kean.
"Iya, Bu...."
Azkia tersenyum melihat Kean yang bisa menerima dirinya dengan baik. Tidak ada kekhawatiran lagi pada Azkia tentang Kean. Satu persatu masalahpun selesai. Azkia merasa bebannya terangkat.
Mereka dalam perjalanan diantar oleh kendaraan umum milik salah satu tetangganya. Azkia sesekali menitikkan airmatanya kemudian dihapus lagi. Kevin hanya bisa mendukungnya dengan menggenggam tangannya. Sedang Ardila, ia tidak mau menghakimi Azkia lagi atas apa yang terjadi. Apa yang Azkia alami cukup berat. Sampai ia sempat tidak berani mengaku pada Kean bahwa Azkia adalah ibunya.
****
Setibanya di Jakarta melalui perjalanan yang cukup lama, Ardila langsunh pamit pulang ke rumahnya.
"Aku langsung pulang ya, Ki. Langsung istirahat ya.." kata Ardila yang sudah memesan taksi online.
"Makasih, ya, Di."
Ardila memeluk Azkia. Menguatkan agar Azkia tidak terlalu sedih. Berharap hatinya bisa menemukan semangat lagi.
Dalam perjalanan pulang menggunakan taksi online, Azkia bersandar di bahu Kevin. Pikiran dan tubuhnya terasa lelah. Kevin menggenggam tangan Azkia dan mengelusnya.
Malamnya, Seruni masuk ke kamar Azkia. Menanyakan apa yang dilakukan selama berada di Kediri. Awalnya, Seruni merasa senang dan ingin menagih cerita sebanyak mungkin. Tapi Azkia hanya berbaring di tempat tidurnya.
"Kak?" panggil Seruni memastikan bahwa Azkia tidak tidur. Tidak ada jawaban dari Azkia. Kemudian Serunipun duduk di tempat tidur Azkia dan menggoyangkan tubuh Azkia.
Azkia menghapus airmatanya dan membalikkan tubuhnya.
"Run..." kata Azkia.
"Kak. Kenapa? Kakak baik - baik aja?" tanya Serunu khawatir.
Azkia duduk dan membetulkan posisinya.
"Iya, nggak apa - apa kok."
"Gimana, Kak? Kakak nengokin Kean? Bagaimana kabarnya?" tanya Seruni.
"Iya." Mata Azkia terlihat agak bengkak. Entah sudah berapa lama Azkia menangis.
"Ada apa, Kak? Kenapa Kakak nangis?"
"Kakak kemarin udah bilang kalau Kakak ibunya Kean."
Seruni membelalakan matanya terkejut dengan apa yang Azkia katakan.
"Terus, gimana, Kak?"
"Kean ngerti keadaannya, Run. Mungkin karena masih polos. Tapi Kakak merasa sedih. Karena Kakak seperti Ibu yang jahat sudah menelantarkan anak sendiri."
Seruni memeluk Azkia dengan erat. Azkia mulai menangis lagi.
__ADS_1
"Nggak, Kak. Nggak begitu. Kakak nggak menelantarkan Kean, kok, Kak."
"Saat berpamitan, Kean nangis, Run. Nggak tahu kenapa hati Kakak sedih banget lihat Kean." kata Azkia menangis di pelukan Seruni. Seruni hanya bisa menemani dan menenangkan Azkia. Emosi Azkia saat ini tidak terkendali lagi. Sama persis seperti saat pertama kali ia mengetahui jika dirimya hamil.
Azkia menangis sejadi - jadinya. Penyesalannya kembali hadir didalam hatinya. Seharusnya, sesulit apapun keadaannya, dialah yang mengurus dan mengasuh Kean. Bukan orang lain. Nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada gunanya lagi menyesal. Azkia hanya berusaha untuk lebih baik lagi ke depannya.
****
Nicolas kembali menghubungi Ardila. Sekedar hanya ingin tahu bagaimana kabar Azkia. Ardila mengangkat telpon dari Nicolas.
"Iya, Nic?" sapa Ardila.
"Gimana kabar kamu, Di?"
"Baik, Nic. Ada apa, Nic?" tanya Ardila yang memang keadaannya sedang direpotkan dengan beberapa pekerjaannya karena sudah mengambil cuti kemarin.
"Kemarin kamu kemana? Aku telpon nggak bisa."
Ardila berhenti sejenak karena pertanyaan Nicolas sedikit mengganggu Ardila.
"Aku ada tugas keluar kota, Nic. Jadi agak sulit kemarin kamu mungkin telpon aku." dusta Ardila.
"Bagaimana kabar Azkia? Baik - baik aja kan?" tanya Nicolas mulai penasaran.
"Iya, baik kok."
"Kenapa ya akhir - akhir ini aku kepikiran Azkia terus. Apa terjadi sesuatu sama Azkia?" tanya Nicolas. Lagi - lagi Ardila berdusta pada Nicolas.
"Aku nggak tahu. Lagipula bukannya Azkia udah ada pacar? Kenapa kamu masih tanya kabar dia?" Ardila sepertinya sudah mulai jenuh jika Nicolas terus berandai - andai tentang Azkia tanpa bisa berusaha untuk menjadi yang terbaik.
"Aku cuma tanya aja. Sudah beberapa hari ini Azkia nggak kelihatan di kantor." kata Nicolas.
"Kamu lagi coba stalking Azkia?" Ardila mulai yerdengar emosi jika Nicolas bertingkah yang macam - macam.
"Nggak kok, cuma nggak kelihatan aja di kantor. Udah itu aja."
"Nic, kamu sendiri bilang kan kalau kamu mau lihat Azkia bahagia? Kupikir ya sudah lah. Kamu jangan bersikap seperti ini. Biarkan Azkia mau kemana, pergi sama siapa, itu bukan hal yang perlu kamu khawatirkan." kata Ardila menasehati.
"Tapi kamu tahu persis kan kalau aku masih berusaha mendapatkannya kembali?"
"Untuk apa?"
"Untuk...untuk..."
"Hubungan kamu dan Azkia sudah selesai begitu kamu tidak mau bertanggung jawab saat dia hamil. Azkia sudah memilih pergi dan kalian juga udah sepakat untuk menjalani hidup masing - masing. Aku rasa udah nggak ada alasan kalian bersama lagi."
"Tapi aku nggak pernah tahu persis Azkia itu sebenarnya melahirkan anaknya atau nggak." Nicolas masih berusaha mendapatkan pembelaan.
"Azkia sudah bilang kan dia nggak melahirkan anak itu?"
"Iya..tapi.."
"Cukup, Nic. Kamu saat ini udah jadi stalkernya dia. Kamu suka tapi kamu cuma bisa cari tahu dari jauh. Aku rasa ini udah nggak baik." potong Ardila merasa cukup kesal dengan apa yang Nicolas katakan.
"Kok kamu jadi gini, Di? Dulu kamu dukung aku, tapi kenapa sekarang kamu jadi mojokin aku begini?"
"Kamu lupa ya, Nic? Kalau kamu dulu udah lepas tanggung jawab sama Azkia? Azkia mulai dari hidup susah sampai sekarang ini nggak mudah. Jangan bikin aku memihak siapapun." kata Ardila.
__ADS_1
"Oke deh kalau gitu. Terima kasih selama ini sudah membantuku." kata Nicolas yang kemudian menutup telponnya.
Entah mengapa sekarang Ardila menjadi kesal dengan Nicolas. Ia meletakkan hapenya kemudian kembali dengan beberapa pekerjaannya.